Tuesday, May 14, 2019

Membuang Aplikasi Bukan Solusi


Setelah mengenal minimalisme, saya mulai coba menerapkannya kepada diri sendiri. Karena menurut saya, itulah cara termudah untuk mulai...dari diri sendiri.

Berhubung waktu itu lagi getol-getolnya ngeblog lewat gawai Android dengan beragam aplikasi mulai aplikasi nulis, penyunting gambar, media sosial buat promosi, dan lainnya yang membuat gawai saya perlahan tapi pasti semakin melambat karena terlalu banyak dijejali aplikasi.

Saya pikir, gimana kalau mulai dari meminimalkan gawai saya.

Singkat cerita, saya mulai mengurangi aplikasi-aplikasi nice to have di gawai saya. Berhubung aktivitas utama ngeblog adalah menulis, maka saya tidak mengutak-atik aplikasi menulis di gawai. Dan, target operasi pun beralih ke media sosial.

Tiga aplikasi media sosial utama saya, Facebook, Instagram, dan Twitter pun saya lepas. Praktis saya hanya mengakses media sosial menggunakan Chrome, browser bawaan pabrik.

Saya cukup 'bangga' dan merasa sudah jadi minimalis betulan. Di saat teman-teman saya sibuk menambah aplikasi untuk meramaikan media sosialnya, saya justru membuang aplikasi media sosialnya.

Melupakan Esensi Minimalisme

Seperti halnya banyak orang yang salah dalam memaknai minimalisme, saya pun melakukan hal yang sama. Saya kira dengan mengurangi dan mengurangi, maka saya bisa melabel diri saya minimalis.

Nyatanya, minimalis bukan tentang tidak memiliki apapun. Melainkan membuang benda-benda tidak penting supaya kita punya tempat untuk hal-hal yang benar-benar penting.

Mengurangi dan membuang hanya sebuah bagian dari resep hidup minimalis. Bukan satu-satunya.

Bila kita hanya berfokus pada pengurangan dan pengurangan, kita melupakan esensi dari hidup minimalis...hidup yang bersahaja.

Pada kasus saya, membuang aplikasi media sosial ternyata tidak membuat saya lebih minimalis. Sebaliknya, saya justru malah jadi maksimalis (kebalikan dari minimalis). Karena tidak ada lagi pemberitahuan seperti halnya ketika saya masih menggunakan aplikasi, saya jadi lebih sering memeriksa Facebook dan Instagram karena saya penasaran sudah berapa like dan comment yang masuk dari postingan terakhir saya.

Alih-alih terbebas saya justru semakin terikat dengan media sosial.

Rehat Sejenak

Jelang bulan Ramadhan, saya mengambil sebuah langkah yang...buat saya, ekstrim. Saya keluar (log out) dari semua akun media sosial, menghapus riwayat pencarian di browser, membuang shortcut ke media sosial. Selama dua minggu, saya melakukan eksperimen ini.

Di awal, dorongan untuk terus memeriksa masih terus muncul. Namun ketika saya ingat bahwa saya sudah log out, akhirnya niat itu pun saya urungkan.

Setelah beberapa hari, saya mulai terbiasa dengan rutinitas baru ini. Saya pun merasa menjadi lebih baik tanpa media sosial.

Saya bisa lebih produktif dengan aktivitas di kantor maupun ketika di rumah. Saya tidak lagi memikirkan berapa banyak like dan comment masuk, karena nggak ada postingan baru juga, sehingga saya bisa mencurahkan perhatian saya sepenuhnya kepada apa yang ada di depan saya: tugas kantor, keluarga, dan diri saya sendiri.

Setelah Dua Minggu

Penasaran bagaimana hasilnya bila saya mulai main media sosial setelah merasa 'bisa mengendalikan diri', dua minggu kemudian saya mengaktifkan lagi media sosial saya.

Dan...ternyata saya belum sebaik yang saya kira.

Begitu masuk Facebook dan menemukan 73 pemberitahuan yang belum terbaca, saya langsung kepo.

Padahal niatnya hanya sebatas membagikan postingan terbaru blog saya di grup Facebook blogger. Rencananya, saya nggak mau ngapa-ngapain lagi selain itu. Tapi...penasaran juga ngelirik lini masa, scrolling status teman, menambah pertemanan dengan orang yang saya sebatas tahu (bukan kenal) di dunia nyata, dan tanpa sadar waktu sudah berlalu begitu cepat.

Lepas posting gambar baru di Instagram langsung rajin ngecek, dah berapa banyak yang like. Setali tiga uang dengan Twitter.

Perbaikan Berkelanjutan

Perubahan itu biasanya sepaket dengan penolakan. Dalam hal ini, saya menolak untuk nggak scrolling, nge-like atau comment apapun yang terjadi di linimasa media sosial saya.

Namun, jika kembali ke esensi hidup minimalis, saya perlu terus belajar untuk lebih bijak menggunakan energi, waktu, dan perhatian saya antara dunia nyata dan maya. Dan, memang perubahan ini tidak bisa terjadi dalam semalam. Ujug-ujug besok saya jadi orang bijak seperti Mahatma Gandhi. Nggak...nggak gitu juga.

Setidaknya, saya sudah mencoba dan ya...memang gagal. Tapi nggak masalah, dicoba lagi. Mungkin ada cara lain yang saya belum coba yang mungkin itu lebih efektif. Hanya saja saya belum tahu apa itu.

Bukankah hidup itu artinya terus bertumbuh? Belajar dan bereksperimen. Gagal, coba lagi, cari jalan lain, dan seterusnya.

Bagi Ke Teman:

4 comments:

  1. Jadi penasaran. Kan banyak ya, orang yang membahas tentang kecanduan medsos. Tapi kebayang nggak sih, kalau kita punya teman yang nggak pernah update medsos. Rasanya jadi nggak kenal banget. Mungkin sama dulu tahun 60-an orang membahas kecanduan TV, tapi di tahun 90-an, sudah nggak dirasa sebagai masalah yang signifikan. Padahal jumlah jam yang dihabiskan di depan TV per orangnya sebetulnya bertambah. Mungkin masalah perkembangan jaman saja ya.

    ReplyDelete
  2. Kalau dulu sebelum berumah tangga iya saya kecanduan banget bahkan pas kerja curi2 waktu. Tapi setelah menikah karena banyak pekerjaan saya juga jd berkurang. dulu malah cuma punya akun facebook sekarang nambah akun IG tp keduanya terhitung lebih banyak digunakan buat promosi blog, sekedar blogwalking atau hiburan. cara membatasinya lagi denga. kuota yg gak terlalu banyak belinya.

    ReplyDelete
  3. Wah. Membuang aplikasi ya? Coba ah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silahkan..tapi jangan semuanya ya. Yang nggak penting aja.

      Delete