Memulai Gaya Hidup Minimalis


Di tulisan sebelumnya tentang minimalisme sebagai sebuah pilihan gaya hidup, ada satu tanggapan yang cukup menarik perhatian saya. Tertarik jadi minimalist, tapi masih tinggal dengan orang tua, gimana dong?

Well, sebelum berbagi pengalaman. Saya penasaran, kenapa kamu tertarik dengan minimalisme dan apa maknanya buat kamu?

Karena menurut saya, jawaban dari dua pertanyaan ini lebih pertanyaan ini lebih penting daripada 'sekedar' bagaimana.

Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Di mana ada jalan, di situ ada galian dan perbaikan. Artinya, akan selalu ada tantangan dalam mewujudkan cita-cita kita. Di kasus ini, menjadi seorang minimalist.

Bisa nggak saya menjadi minimalist kalau saya tinggal sama orang lain (misal: orang tua, istri, anak, teman kos)?

Bisanya sih bisa. Masalahnya mau apa nggak?

Ironi Perubahan Diri

Saya ini senang sekali membaca buku tentang pengembangan diri. Bagus? Ya dong, artinya saya senang belajar dan punya keinginan kuat untuk terus mengasah diri saya. Ya kan?

Masalahnya, sering kali pengetahuan-pengetahuan baru yang saya dapat tidak membuat saya menjadi lebih berkembang. Yang ada malah tambah stres.

Kenapa bisa gitu?

Karena saya salah menerapkan apa yang saya pelajari. Alih-alih menggunakan pengetahuan tersebut untuk merubah diri saya, yang terjadi saya berusaha merubah orang lain. Saya meletakkan ekspektasi dan standar tinggi untuk orang lain.

Saya terlalu sering mengucapkan, "Seharusnya dia itu begini," atau "Kok dia gitu sih?"

Saya berharap mereka berubah seperti sosok ideal yang saya baca di buku. Saya mau orang lain menjadi diri mereka yang terbaik.

Nah, yang baca buku siapa? Yang mau berubah siapa? Saya atau mereka?

Tapi ya begitu lah adanya.

Sama halnya dengan menjadi minimalist ketika kita tinggal bersama orang lain yang nggak minimalis. Nggak fair dong kalau kita menuntut orang lain melakukan apa yang kita lakukan. Mereka kan juga punya preferensi sendiri.

Namun, kita bisa kok ngobrol santai dengan mereka dan menjelaskan perspektif kita tentang minimalisme dan membuat beberapa kesepakatan atau batasan.

Percaya deh, hal terakhir yang kamu mau adalah ketika semua orang menjadi minimalist sama sepertimu.

Where is the fun of it?


Mulai saja...

Daripada berharap orang lain berubah atau memberikan persetujuannya, gimana kalau mulai dari dirimu sendiri, dari hal-hal kecil yang bisa kamu kendalikan sepenuhnya.

Jangan minta semua orang di rumah membuang barang-barang mereka supaya kamu bisa menjadi minimalist.

Nggak gitu.

Jadilah perubahan seperti yang kamu mau lihat. Tunjukkan, jangan cuma katakan.

Demonstrasikan bagaimana penerapan minimalisme bisa membawa manfaat buat hidupmu. Sehingga mereka pun terinspirasi melakukan apa yang kamu lakukan.

Misalnya, kamu minimalis-in barang-barangmu yang berlebihan, buku, baju, atau yang paling sederhana...uninstall aplikasi-aplikasi yang tidak membawa nilai tambah bagi dirimu.

Memulai sesuatu yang baru itu perlu waktu. Nggak perlu buru-buru, tar malah capek trus berhenti di tengah jalan.

Minimalisme bukan perlombaan. Bukan soal dikit-dikitan barang, tapi hanya sebuah alat untuk membuat hidup kita lebih bermakna dan bermanfaat.

Menurutmu, apa yang bisa kamu lakukan sekarang untuk mulai menjadi minimalist?

Post a Comment

Pages

© 2019

Prima G Chandra