Friday, May 10, 2019

Memaknai Esensi Dari Setiap Transaksi



Ceritanya 2 hari yang lalu, saya pergi ke Surabaya untuk mengurus kartu ATM istri saya yang tertelan mesin. Gara-garanya, pas selesai saya ngambil uang, kelupaan diambil lagi kartunya. Berhubung proses pengurusan harus dilakukan di cabang tempat pembukaan rekening, which is Surabaya, akhirnya mau nggak mau kami pun meluncur ke kota kelahiran kami tersebut.

Kebetulan ada urusan lain yang perlu diselesaikan, jadi sekalian saja deh.

Di tengah perjalanan, ketika memasuki tol, kami berhenti di SPBU untuk mengisi ulang bahan bakar yang tinggal segaris. Kemudian, seorang pria berusia kira-kira 20 tahun datang menghampiri mobil kami, menawarkan produk pembersih kaca mobil.

Entah kenapa, kami berdua tertarik mendengarkan penjelasan pria itu bahkan mengijinkannya mendemonstrasikan keunggulan produk yang ia tawarkan itu di mobil kami. Selang beberapa menit kemudian, ia mulai mencoba melakukan closing penjualan.

Istri saya yang waktu itu berada di kursi sopir menoleh ke arah saya. Tatapannya mengandung pertanyaan, “Gimana, beli nggak?”

Waktu itu, saya kira boleh juga lah beli. Sepertinya produk ini juga akan bermanfaat buat kami. Dan, saya pun mengiyakan untuk membeli produk itu.

Setelah transaksi berhasil dilakukan, istri saya berbisik, “Eh kita kan nggak mengalokasikan uang untuk beli ini.”

Sontak saya mikir, iya juga ya. Ngapain kita beli produk ini ya? Emang iya kita perlu banget produk seperti ini? Dan, apakah harga yang kami bayarkan itu sepadan dengan kualitas barangnya? Kalau kemurahan sih ok, tapi kalau kemahalan gimana?

Memaknai Esensi Dari Setiap Transaksi
Sejak memulai hidup minimalis, saya belajar untuk selalu memikirkan tujuan dari setiap tindakan. Selalu mempertanyakan setiap langkah atau keputusan yang akan saya ambil.

Namun, apa yang terjadi di SPBU itu menunjukkan kalau saya belum benar-benar memikirkan masak-masak keputusan saya. Terutama ketika itu berkaitan dengan penggunaan uang.

Kalau melihat dari kebutuhan...ya butuh sih butuh, tapi apakah kebutuhan itu mendesak banget sehingga transaksi tersebut harus terjadi? Jujur, saya nggak suka sama jawaban dari pertanyaan ini.

Belajar Dari Kesalahan
Membuat kesalahan itu manusiawi, pun demikian halnya dengan belajar dari kesalahan.

Transaksi itu adalah sebuah kesalahan. Okay, memang nggak fatal, tapi tetap saja salah. Jadi, harus ada yang diperbaiki ke depannya.

Cara yang paling mudah adalah membuat sebuah daftar pertanyaan setiap kali hendak melakukan sebuah transaksi. Buat saya, pertanyaan-pertanyaannya adalah sebagai berikut :

  1. Apakah saya membutuhkan barang tersebut?
  2. Apakah saya membutuhkannya sekarang?
  3. Apakah saya punya uangnya?
  4. Apakah saya punya tempat untuk menyimpan barang-barang itu? 
  5. Kalau saya tidak membeli barang tersebut, apa masalahnya?
Kesalahan hanya terjadi sekali, karena yang kedua kalinya murni sebuah pilihan.


Jadi, bagaimana kamu mengelola keputusanmu terhadap setiap transaksi?

Bagi Ke Teman:

10 comments:

  1. Hmm.. Istilahnya bocor halus mungkin, membeli hal yang awalnya tidak dipertimbangkan di anggaran dan gak begitu manfaat amat

    ReplyDelete
  2. Saya nggak tau dah kalau mahal tiba2 jadi gak mau beli kecuali memang asli pas masih punya uang baru beli. itupun mikirnya 2x dulu.

    ReplyDelete
  3. @mas yasir
    Lebih tepatnya impulsif dan nggak mikir dulu sebelum beli sih kalau di saya.

    @mama indri
    Nah itu lebih sedih lagi mam ��

    ReplyDelete
  4. kalau saya memang kalau mau beli ini itu udah direncanain di awal, kalau pun ga sesuai rencana pasti udah di sesuaikan sama bugdet, kalau saya beli barang (ga terduga) gini, barang yang direncanain masih bisa terbeli ga ya? Kalau bisa yowe, saya akan beli barang tak terduga itu

    ReplyDelete
  5. Harusnya memang seperti itu mas Sabda, pengalaman kemarin bener2 jadi pelajaran buat saya untuk bener mikir jangka panjang sebelum mutusin beli atau enggaknya.

    ReplyDelete
  6. Lah kl sy saking baiknya kadang suka ga mikir gt.. Ujung"nya mlh jadi boros.. Padahal udh tau dari awal gak ush beli gt tp gak tau kenapa jadi beli padahal tu barang jg gak penting" amat.. Sifat ini yg kadang buat saya susah sendiri.. Mau hemat mlah kiamat 😕

    ReplyDelete
  7. Itulah yang saya alami kemarin mbak huff...

    ReplyDelete
  8. Susah memang untuk konsisten pada transaksi yang telah kita rencanakan saja. Terlalu banyak godaan dan alasan untuk tidak konsisren. Apalagi kalau keluyuran ke pasar tiban tamadan... ya ampuuun... *curcol dikit

    ReplyDelete
  9. Apalagi kena Kinder Joy di deket kasir ya mbak hehehe...

    ReplyDelete
  10. Kalau saya lebih ke, ngerencanain dulu apa yang dibeli sebelum ke toko. Jadi pas transaksi nggak nyesel dan plong soalnya lebih objektif sama barang yang dibeli. Tapi asli bocor banget kalau sudah ke toko buku, bagaimana ya mas hehe

    ReplyDelete