4 Hal Yang Bisa Kamu Lakukan Setelah Membuat Kesalahan

Salah itu wajar kalau cuma sekali. Kalau berkali-kali, itu kurang ajar.



Ya namanya manusia, pastilah nggak bisa lepas dari yang namanya salah, khilaf, dan dosa.

Membuat kesalahan itu adalah bagian dari jati diri kita sebagai manusia. Kita bertumbuh dan mendewasa lewat kesalahan-kesalahan yang kita buat. Walaupun, ada juga kesalahan yang membuat kita makin terpuruk dan ingin menyerah dari gelanggang kehidupan ini.

Karena membuat kesalahan adalah hal yang tak terelakkan, maka semua kembali kepada individu masing-masing dalam menyikapi kesalahan itu sendiri.

Dan yang paling penting, tindakan yang diambil pasca melakukan kesalahan.

Seperti biasa, tindakan menjadi kunci pembeda antara si pemenang dan pecundang di dalam arena kehidupan ini.

Di dalam tulisan sederhana ini, saya ingin berbagi beberapa ide sederhana tentang apa sih yang bisa dilakukan setelah melakukan sebuah kesalahan.

1. MENYADARI KESALAHAN

Seorang kawan dari bagian maintenance pernah berkata, masalah yang sebenarnya adalah ketika tidak ada masalah.

Selama hidup, saya banyak melihat orang yang, jangankan sekedar minta maaf...lah wong dia itu nggak sadar kalau sebenarnya ada yang salah.

Lebih parah lagi, dia nggak sadar kalau yang salah itu dirinya sendiri.

Gimana mau melangkah lebih jauh, lah nyadar ada yang salah aja enggak.

2. BERTANGGUNG JAWAB

Tahu dan sadar bahwa ada yang salah, terlebih lagi ketika dirinya yang melakukan kesalahan, tampaknya telah menjadi sebuah keterampilan langka.

Saat terjadi kesalahan, tak jarang saya melihat reaksi pertama orang adalah memasang perisai baja yang teramat keras.

Secara insting, banyak orang memilih untuk menyelamatkan dirinya sendiri dulu.

Mungkin mereka sulit move on dari nasehat para pramugari untuk mengenakan masker oksigennya dulu, sebelum memasangkan masker untuk orang lain.

Masalahnya, ketika diri mereka sudah 'selamat', mereka ya nggak yang sukarela membantu orang lain atas kesalahan itu.

Boro-boro mau membantu, yang ada malah saling pointing finger. Dan sudah bisa ditebak, emosi memuncak nggak ada solusi.

Sepertinya emosi dan logika itu memang suka berbanding terbalik. Kalau salah satu naik, yang satunya pasi turun. Coba deh kalau nggak percaya.

3. MENGAMBIL TINDAKAN KOREKSI

Ini biasanya hanya bisa dilakukan oleh orang yang mau mengambil tanggung jawab dari sebuah kesalahan. Terlepas apakah kesalahan itu dia atau orang lain yang bikin.

Ada tulisan yang wajib kamu baca, dari mbak Wijatnika Ika tentang Kevin Aprilio saat dirinya terbelit hutang sebesar 17 M.

17 M? Kalau bentuknya tabungan sih oke, lah ini dalam bentuk hutang yang harus dilunasi.

Saya nggak kebayang apa yang akan saya lakukan jika saya ada di posisi Kevin. Lah wong menghadapi masalah-masalah yang nilainya nggak sampai seperempatnya aja sudah mau meledak.

Namun, satu hal yang saya kagumi dari Kevin adalah komitmen dia untuk bekerja keras sekeras-kerasnya melunasi semua hutangnya.

Apapun dia lakukan untuk memperbaiki kesalahannya itu. Dan ya harusnya memang begitu ketika kita melakukan kesalahan, we fix it.

Bukan terus ngilang.

4. MEMBUAT RENCANA ANTISIPASI

Jatuh ke dalam lubang yang sama dua kali? Kok bisa?

Kalau sebelumnya sudah pernah bikin salah, kok bisa sekarang melakukan kesalahan yang sama. Apa tidak belajar dari pengalaman sebelumnya?

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Walaupun...tidak lebih mudah.

Bagian sulitnya adalah ketika kita berusaha mengantisipasi sesuatu yang belum pernah terjadi atau kita alami. Jadi seyogyanya, untuk kesalahan-kesalahan yang sudah pernah terjadi apalagi dialami sendiri, harusnya lebih mudah dong untuk diantisipasi.

Karena tingkat kesabaran orang itu mah nggak sama. Kalau pas ketemu sama orang yang sumbu pendek, terus kesalahan yang sama-sama kamu ulang-ulang terus, ya siap-siap aja kena ledakannya.

Kita hanya bisa melakukan kesalahan sekali, karena yang berikutnya murni adalah sebuah pilihan.


Menurutmu apa ada yang belum saya cantumkan dalam langkah-langkah setelah melakukan kesalahan ini? Kalau ada, mohon sarannya ya (kritik dan koreksi juga boleh kok).

3 comments

  1. kalo kerja juga sama. kalau ngelakuin kesalahan yang sama pasti dimarahin karena ya gak ada evaluasi dari kita sendiri. kalau selalu salah namanya ngeyel. wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gpp ngeyel kalau bener. Kalau salah ngeyel, ngegas pula, itu baru...ujian.

      Delete
  2. Kalau saya bahas ini berat deh, hehehe.

    Terlahir dari orang tua diktator, bikin saya tumbuh jadi wanita yang amat sangat menyiksa diri untuk menghindari kesalahan

    Jadinya, bisa dikatakan saya jarang melakukan kesalahan, atau kalaupun pernah, tidak akan pernah terjadi lagi, kecuali memang di luar kemampuan saya.

    Yang ini amat sangat berbeda dengan suami.
    Beliau dididik dengan santai oleh ortunya, alhasil seriiingggg banget melakukan kesalahan berulang kali bahkan yang fatal menurut saya.

    Terus pak suami bilang,
    "iyaaa.. hidupmu memang enak, nggak pernah berbuat salah, selalu lurus-lurus saja"

    Ih beliau nggak sadar sebenarnya itu nggak terjadi begitu saja, saya sampai tersiksa mencambuk diri agar nggak melakukan kesalahan

    etdaaahhh saya curcol di sini hahahaha

    btw saya setuju banget ama poin 1, MENYADARI KESALAHAN.

    Saya rasa, penyebab utama paksu sering melakukan kesalahan berulang kali adalah, karena dia nggak sadar atau nggak mau tahu bahwa apa yang dilakukannya itu adalah salah.

    Saya nggak tahu gimana pola asuh ortunya, sampai paksu itu ngeyelnya bikin saya selalu tutup telinga kalau mendengarkan penjelasannya.

    yekaaann, apa gunanya dijelasin kalau terjadi beeerrruuuulaaanggg kali.

    hhhh...

    ReplyDelete

Post a Comment

Pages

© 2019

Prima G Chandra