Kritik Tidak Membangun

Kritik membangun? Ah masa iya sih?

Kapan terakhir kali kamu menerima kritik atau mengkritik orang lain? Coba ingat-ingat apa yang terjadi setelah kritik itu tersampaikan.


Waktu kuliah dulu, saya dikenalkan dengan salah satu metode intervensi perilaku bernama reward and punishment.

Reward atau hadiah, adalah metode untuk menciptakan perilaku dengan cara memberikan penguatan atau reinforcement terhadap sebuah perilaku.

Contoh sederhananya adalah, memberi es krim kepada anak setelah mereka membereskan mainannya sendiri. Reward dalam bentuk es krim ini diberikan untuk menguatkan perilaku membereskan mainan pada anak.

Jadi dengan memberikan hadiah, sesuatu yang menyenangkan, si anak diharapkan akan termotivasi untuk mengulangi perilaku tersebut.

Kurang lebih mirip waktu kamu ngirim pesan WA ke gebetanmu dan ternyata doi membalas. Kira-kira kamu akan makin intens nge-WA dia nggak?

Sebaliknya, punishment alias hukuman, itu bertujuan untuk menghilangkan perilaku.

Kalau anak melanggar peraturan ia akan menerima konsekuensi tidak menyenangkan yang membuat ia tak mengulangi perilaku tersebut.

Pendek kata, reward menciptakan perilaku. Sedangkan punishment menghilangkan perilaku.

Kembali ke masalah kritik. Menurutmu, kritik itu termasuk jenis intervensi perilaku yang mana sih? Menyenangkan atau tidak?

Saya pribadi jarang sekali merasa bahagia tidak terkira ketika menerima kritik. Sebaik apapun niatnya.

Respon pertama saya saat dikritik adalah saya sedih, kecewa, dan tidak berharga. Butuh waktu lumayan lama untuk melihat dan menyadari jika kritik adalah bentuk kepedulian.

Kenapa begitu? 

Saya rasa wajar saja kalau lebih banyak orang yang tersakiti setelah dikritisi daripada yang hepi-hepi. Karena itulah kritik. Kritik memang tidak dibuat untuk membangun. Sebaliknya, sifat alami kritik adalah melukai, memangkas, dan membuang. Kebalikan dari apresiasi.

Melihat kritik dan apresiasi sebagai alat dalam 'membentuk' konsep diri seseorang, mungkin bisa kita analogikan seperti pemahat patung batu.

Semua patung batu, berawal dari seonggok batu. Betul?


Dari batu tersebut, si pemahat mulai membuang bagian-bagian yang tidak diperlukan dari onggokan batu tersebut. Semakin besar bagian yang harus dibuang, semakin keras pula ia menghajar bongkahan batu itu.

Hingga akhirnya bentuk patung yang diinginkan mulai nampak. Si pemahat pun mengganti alatnya dengan alat yang lebih kecil, untuk membuat ukiran yang memperindah patung tersebut.

Dan saat ia telah berhasil memahat sosok patung impiannya, ia beralih ke proses sentuhan akhir.

Ia campurkan cat yang membuat patung tersebut mengkilap dan indah. Mungkin ia juga mulai menambahkan pernak-pernik aksesoris yang semakin mempercantik patung buatannya.

Akhirnya, jadilah sebuah mahakarya yang membuat siapapun berdecak kagum kala menatapnya.

Seperti halnya proses pembuatan patung. Kritik adalah proses di mana si pemahat membuang bagian yang tidak diperlukan untuk menciptakan patung yang indah.

Kita, Anda dan saya, adalah patung indah yang tertutup bongkahan-bongkahan batu.

Untuk memunculkan wujud terindah kita, kita perlu membuang bagian-bagian yang tidak diperlukan itu. Salah satunya dengan kritik yang kita terima.

Sakit? Kabar buruknya, memang demikianlah proses yang harus dilalui. Sakit dan melelahkan.

Kabar baiknya, kita bisa menolak rasa sakit tersebut. Menerima diri kita yang ada apanya, dan berkata 'tidak' untuk bertumbuh.

Kita bisa memilih hidup mengalir seperti air. Walaupun, jangan sampai lupa...air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Jika itu pilihanmu, ya nggak apa-apa. It's your life afterall.

Kritik tidak membangun. Kritik adalah alat penghancur. Gunakan dengan bijak, karena tidak semuanya perlu dihancurkan.


Alat hanyalah alat, semua kembali pada bagaimana alat itu digunakan.

4 comments

  1. cara penyampaiannya kali yaaa... aku terbuka utk kritik, asal disampaikan dgn baik. pernah ada yg kritik ttg tulisanku, tp dia ngasih tahunya sambil memaki dan nulis dgn kata2 yg ga enak dibaca. itu aku ga suka. sampaikan dgn sopan, baru aku bakal dengerin :D. kalo udh memaki g jelas, yg ada jg aku tendang k spam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe...kadang makian itu perlu ketika yang dikritik sudah terlalu bebal dan kebal dengan cara 'biasa'.

      Karena itulah perlu bijak menggunakannya. Jangan diberondong kritikan mulu tapi lupa mengapresiasi.

      Bukan begitu?

      😊

      Delete
  2. makasih ya mencerahkan..kemaren dapet kritik yang agak pedes tp nya saya baper :D hahahaha

    ReplyDelete
  3. Aku juga pernah nih dapat kritik dari salah satu pembaca di blogku. Rasanya ya kayak gitu, sedih, kecesa, dan merasa gak berharga.

    ReplyDelete

Post a Comment

Pages

© 2019

Prima G Chandra