Belum lama ini, saya membaca sebuah artikel menarik dari Inc Magazine mengenai cara     mengurangi dan/atau menghentikan kebiasaan menunda (procrastination).


Sambil santai-santai jelang istirahat malam, saya memang mulai membiasakan diri untuk membaca 1-2 artikel. Selain biar ngantuk, itung-itung biar nambah knowledge atau minimal, inspirasi lah.

Biasanya kalau nggak blogwalking ya googling artikel-artikel seputar self improvement.
Insung Yoon

Buat saya sih, kalau malam-malam gitu membaca lebih enak daripada dengerin podcast atau nonton Youtube. Soalnya kalau 2 itu, bukannya ngantuk, malah tambah melek hehehe.

Terkait procrastination atau kebiasaan suka menunda, ini sudah jadi penyakit lama saya yang hmm...well, kambuhan. Kadang, kalau habis dimarahi habis-habisan (sebagai akibat suka nunda itu) mendadak jadi rajin. Namun, setelah beberapa lama berselang, kaya kehabisan bensin. Trus balik lagi, suka nunda lagi.

Nah, di artikel ini, saya berasa kaya nemu inspirasi. Mungkin ini jalannya Allah ya, kalau saya tahun ini harus mengubah kebiasaan suka nunda ini.

Buat sahabat-sahabatku yang baik hati, yang juga senasib seperjuangan untuk mengatasi kebiasaan menunda ini, semoga setelah selesai membaca postingan ini, berangsur-angsur berkurang lah nunda-nundanya.

4 Pertanyaan Pada Diri Sendiri 

Ada 4 pertanyaan yang perlu kita tanyakan kepada diri kita sendiri setiap kali dorongan untuk menunda ini muncul, yaitu:

  1. Apa yang dilakukan orang sukses untuk mencapai target ini?
  2. Apa yang akan saya rasakan kalau saya gagal menyelesaikan tugas ini? Atau nggak punya cukup waktu untuk menyelesaikannya dengan baik?
  3. Apa satu hal yang bisa saya lakukan untuk memastikan saya menyelesaikannya tepat waktu?
  4. Apa satu langkah awal/berikutnya yang saya perlu lakukan?

1. Apa Yang Orang Sukses Lakukan?

Wait a minute. Ketika saya menyebut orang sukses, saya tidak sedang bicara tokoh-tokoh terkenal seperti Steve Jobs, Bill Gates, Mark Zuckerberg, Jeff Bezos, atau pun Elon Musk.

Iya mereka memang orang sukses yang mendunia. Tapi bukan mereka pembanding a.k.a orang sukses yang saya maksud. Melainkan orang-orang yang ada dalam bidang yang sama dengan kita. Bisa jadi, rekan kerja, atasan, bawahan, teman, pacar, mantan, pacarnya mantan, mantannya pacar, dll.

Let say, blogging deh.

Misalnya nih, salah satu resolusimu tahun ini adalah mendapat penghasilan...ya nggak banyak-banyak lah, anggep aja 8 digit.

Tentunya ada aktivitas-aktivitas yang kamu harus lakukan kan untuk mencapai ke sana. Mulai aktivitas baru yang kamu sendiri ragu, hingga aktivitas yang sama berulang-ulang yang membosankan.

Yang kaya gini ini, seringkali nggak nyaman dilakukan. Dan sebagaimana normalnya manusia, by default settingan kita itu selalu mencari kesenangan dan menghindari kesusahan. Karena nggak mau susah, akhirnya nunda. Bilangnya sih tarsok-tarsok, tapi karena keseringan tarsok, akhirnya nggak dilakukan.

Trus, tahun depan, bikin resolusi yang sama dengan janji akan lebih baik lagi. Udah gitu aja terus.

Jadi, sebelum kamu nunda melakukan apa yang harusnya kamu lakukan, coba deh tanya ke dirimu sendiri, "Apa ya yang blogger sukses seperti Mas M atau Mbak V itu akan lakukan untuk merealisasi ini?"

Apakah mereka akan tetap posting walaupun si so called writer's block datang?
Apakah mereka akan tetap blogwalking walaupun kemarin udah BW ke 15 blog berbeda?
Apakah mereka akan tetap promosi walaupun angka kunjungan di Google Analytics tetap 'membumi'?
Apakah mereka akan tetap setor artikel sebelum deadline untuk menjaga kepercayaan brand?
Dsb.

Kalau iya dan itulah yang membuat mereka menjadi bloger sukses seperti yang kamu kenal sekarang, ya berarti ya itulah yang kamu harus kerjakan kan? Kan.

Ini juga berlaku untuk kerjaan lainnya selain ngeblog.

2. Apa Yang Akan Saya Rasakan Jika Gagal?

Jean Gerber

Sedih?
Gelisah?
Cemas?
Minder?
Depresi?
Menyesal?

Gagal itu nggak enak. Terlepas bahwa gagal adalah bagian dari kesuksesan, sukses yang tertunda or whatever it is

Seburuk-buruknya dan sepahit-pahitnya kegagalan, sesal karena tidak melakukan itu lebih menderita daripada gagal. Serius. Saya dulu pikir ini cuma omongan ala ala motivator aja. Namun setelah merasakan sendiri, ya akhirnya tahu kalau penyesalan itu adalah seburuk-buruknya kegagalan.

Pada dasarnya, melakukan atau pun nggak, nantinya pasti akan ada penyesalan kok. Manusiawi. Jadi lakukan aja. Minimal, dapat hikmah/lesson learned kalau gagal.

3. Apa Satu Hal Yang Bisa Saya Lakukan Untuk Memastikan Selesai Tepat Waktu?

Penundaan itu kaitannya sama waktu penyelesaian. Semakin menunda, semakin lama waktu penyelesaiannya, dan semakin kecil kemungkinan berhasilnya.

Pertanyaan berikutnya yang perlu kita tanyain ke diri sendiri setiap kali nafsu menunda ini datang adalah, apa satu hal yang bisa kita lakukan untuk memastikan penyelesaiannya tepat waktu.

Kenapa cuma satu? Coba aja bikin 100, niscaya belum sampai 50 udah mumet duluan itu kepala.

Kalau cuma satu, secara bawah sadar, otak kita akan mengatakan kalau itu mudah. Artinya, kemungkinannya untuk take action lebih besar. Kan itu yang kita perlukan toh? Action.

4. Apa Satu Hal Yang Bisa Saya Lakukan Sekarang?

ACT : Action Change Things


Seperti halnya di pertanyaan nomor 3, let's make thing simpler. Nggak perlu ndakik-ndakik bikin action plan super heboh. Cukup 1 saja aksi nyata yang bisa kita lakukan. Apa 1 hal yang bisa dilakukan sekarang? 


Kaya contoh ngeblog tadi. Let's say, kita lagi mualessss untuk nulis, padahal kita udah nunda nulis itu berhari-hari. Coba tanyakan, apa sih 1 aksi nyata yang bisa kita lakukan? Misalnya, nulis ala freewriting, atau bikin outline, anything that moves you closer to finish your task.


Atau sesederhana melihat kembali alasan kita melakukan semua ini. Kali aja kita lupa, apa dampaknya buat diri kita, atau orang-orang yang kita sayangi bila kita gagal. Bukan gagal karena sudah mencoba, tapi gagal karena selalu menunda.


Now What?

Ini yang saya coba lakukan sekarang untuk menerapkan apa yang saya baca. Jadi, saya tulis keempat pertanyaan tersebut dan saya masukkan ke aplikasi kalender. Kemudian saya setel pengingat selama 4x dalam sehari.

Kamu bisa juga menulisnya di secarik kertas atau notepad di ponsel, atau dibikin jadi wallpaper, dan baca setiap kali hasrat menunda datang.

Saya sih pakai kalender dan pengingat tujuannya biar semacam brainwashing otak. Seperti iklan, kan perlu paparan terus menerus untuk menumbuhkan awareness kan.

Jadi, kurang lebih seperti itulah yang sedang saya lakukan. Baru beberapa hari, tapi saya mau coba seperti apa jadinya kalau saya lakukan selama sebulan penuh. Alarm sudah saya set sampai bulan depan. So, we'll see the result later.