Selesaikan Yang Mudah Dulu

2 hari yang lalu, selepas sholat Shubuh, saya yang masih seger buger akibat keguyur air wudlu, memutuskan untuk membuka laptop, untuk melihat-lihat lagi beberapa opsi desain rumah yang sudah terkumpul sebelumnya. Kebetulan memang kita lagi cari-cari referensi desain rumah yang sesuai dengan lifestyle kami.


Seperti biasa, ketika sudah asyik dengan satu aktivitas, saya suka larut dan tenggelam hingga lupa hal-hal lainnya. Salah satunya adalah housekeeping.


Memang sudah menjadi kesepakatan dan kebiasaan kalau saya adalah PIC urusan rumah tangga di pagi hari, sedangkan istri, sore hari. Jadi mulai bersih-bersih rumah, siram tanaman, nyiapin sarapan, hingga cuci baju (kalau pas lagi harinya nyuci).


Pagi itu, saat sedang asyik melototin desain demi desain di layar laptop, istri saya bangun dan bertanya, "Rumah sudah dibersihin?" 


Spontan saya bilang, "Belum." 


Sekelebat, saya melihat ekspresi wajahnya kurang senang. Namun, dalam hati saya merasa kalau saya punya alasan kuat untuk nggak bersih-bersih rumah, lho. Saya kan lagi 'nyiapin' masa depan impian kita.


Lalu, istri saya melangkah ke ruang laundry untuk mulai mencuci baju. Sayup-sayup saya juga mendengar suara ia menyapu ruang itu. Karena merasa bersalah, dengan berat hati saya tinggalkan 'tugas penting' itu dan mulai nge-vacuum rumah dan masak nasi, serta menghangatkan makanan.


Istri saya kembali, tanpa sepatah kata. Dalam pikiran saya, kalau dia marah, silahkan saja. Saya kan punya 'alasan' yang sangat kuat untuk nggak ngerjain tugas saya.


Sambil nge-vacuum, sepertinya Allah menegur saya dengan mengirimkan sebuah pemikiran, yang membuat saya mempertanyakan pembelaan yang sudah saya siapkan di kepala itu.


Sepertinya, saya salah. Ya sih, apa yang saya kerjakan dengan desain-desain rumah itu memang penting. Namun, bukankah melakukan morning housekeeping juga penting? Lagi pula, bukannya sudah disepakati kalau PIC rumah di pagi hari itu saya?


Sedihnya, hal-hal semacam ini juga acap kali saya lakukan pada pekerjaan kantor. Segitu asyiknya saya berkutat dengan tugas-tugas yang menurut saya penting, tapi nggak ditagih dalam waktu dekat,  tapi nggak ngerjain tugas yang jelas-jelas diperlukan dalam waktu dekat.


Walaupun, tugas tersebut sepele.


Alhasil, tugas yang sulit nggak selesai, yang sepele terbengkalai, in the end, nggak ada yang selesai. Tentu saja, ini bukan hal bagus untuk dilakukan. Ini menunjukkan buruknya manajemen tugas yang saya lakukan. 


Karena in the end, nggak ada seorang pun yang peduli sebanyak apa tugasmu dan sesibuk apa dirimu. Yang mereka pedulikan hanya, kamu udah nyelesaiin apa aja. Sad but true, so get used to it.


Lesson Learned

Salah itu manusiawi, begitu pula belajar dari kesalahan. 

Berkaca dari pengalaman ini, pagi ini, saat saya hendak mengerjakan pekerjaan saya, saya selesaikan dulu semua rutinitas pagi saya. Selain untuk memenuhi kewajiban dan kesepakatan, juga supaya tidak ada distraksi ketika saya menyelesaikan pekerjaan saya.

Kan nggak enak toh ya, lagi asyik ngerjain sesuatu terus 'diganggu' sama hal-hal sepele yang sebenarnya bisa kita antisipasi sebelumnya.

Onward, saya juga harus melakukan hal yang sama dengan pekerjaan di kantor. Dengan memahami situasi dan kondisi untuk menyusun skala prioitas saya. Jangan sampai pekerjaan terbengkalai hanya karena nggak bisa ngatur prioritas.

Selesaikan dulu yang mudah, baru beranjak ke yang sulit. Setidaknya, kemungkinan paling buruknya, kita bisa selesaikan 50% dari keseluruhan tugas & tanggung jawab kita. Daripada nggak sama sekali hayo?

Progressing is better than perfection.

Mas Prim

Blogger, content writer & translator freelance. Text me if you need help with your text.

Post a Comment

Share opini atau pengalaman kamu tentang topik tulisan ini di sini. Share juga tulisan ini temen-temenmu, jika menurutmu bermanfaat.

&Joy!

Previous Post Next Post