Aku Mau Resign Tapi...

Dalam 2 hari ini, ada satu hal yang terus menerus sliweran di pikiran saya. I want to resign.
Bukan dari pekerjaan, melainkan dari kehidupan. I never thought I would have this in my mind. Tapi, nyatanya, ya pikiran itu ada.

Life has been rough these past 2 days and it was more than enough to birth this kinda thought.

Berbagai pembenaran dan motivasi diri, self talk, bahkan sholat...you name it, nggak cukup mampu mengangkat beban di pundak.

Dan di saat seperti inilah, keraguan atas kebesaran Allah menguji kekuatan iman. Celakanya, udah iman saya nggak kuat-kuat amat, pake diuji pula. Ya kalau saya itu alim sejak lahir.

Lah ini, udah dosanya segunung, janji tobat juga baru-baru aja (itu pun masih tergoda bikin dosa lagi, walaupun udah janji nggak mau ngulangi). Dihajar atas bawah depan belakang seperti ini. Mikirnya langsung, "Ya Allah, are you kidding me."

Walaupun saya harus jujur mengakui kalau semua masalah yang saat ini saya hadapi itu, 90% merupakan ulah saya sendiri. Jadi ya fair enough kalau sekarang saya disuruh pay the price.

But still...I'm not as strong as a man I wish to become.

Mendapat pukulan bertubi-tubi seperti ini benar-benar meng-KO saya secara mental.

Hanya bisa memohon kemurahan hati-Nya untuk memudahkan jalan saya.

Diingatkan...

Sore ini sewaktu sholat Ashar, sepertinya Allah ingin bertemu saya secara pribadi. Musholla yang biasanya ramai karyawan berjamaah, kali ini sepi. Hanya ada beberapa orang yang baru selesai sholat.

Saya pribadi memang lebih suka sholat sendiri daripada jamaah. Karena bisa lebih menikmati sholatnya dan bacaannya.

Singkat cerita, saya tunaikan sholat Ashar dengan kondisi hati dan pikiran yang sangat kalut, ditambah keinginan resign yang terus berputar-putar di kepala.

Di rakaat kedua, saya tiba-tiba teringat pada sebuah artikel yang pagi ini saya baca tentang apa yang harus dilakukan saat keinginan bunuh diri muncul.

Satu yang saya ingat dari artikel tersebut adalah, coba ingat bagaimana orang yang Anda cintai akan bersedih jika harus kehilangan Anda. 

Seketika saya membayangkan wajah Fabio, melihatnya berlinang air mata karena kepergian saya, ayah favoritnya. How could I do that to him, make him sad.

Nggak, melihatnya bersedih seperti itu adalah hal terakhir yang saya inginkan.

Kemudian, subhanallah, pundak yang sedari tadi menopang beban berat, seolah menjadi lebih ringan. Seiring dengan bisikan ke dalam hati bahwa, mungkin semua masalah yang saya hadapi saat ini adalah cara Allah mengajarkan saya untuk menjadi ayah yang lebih baik bagi Fabio.

Jika suatu hari nanti Fabio mengalami apa yang saya alami, kesedihan karena merasa diri tak berarti, saya ingin ada untuknya, memeluknya dan mengatakan kalau it's okay to be not okay.

Bukan malah mengajaknya untuk mengakhiri hidup karena hidup ini begitu kejam. Ayah macam apa saya jika itu yang saya katakan.

So maybe...just maybe, everything happens today are meant for greater purpose.

Salah satunya agar suatu hari nanti saya bisa ada untuk orang yang paling saya sayangi, memeluknya erat, menguatkannya, dan membantunya melihat masalah dari perspektif lain.

Tapi sebelum saya bisa melakukan semua itu, terlebih dahulu saya harus bisa menyelesaikan masalah saya hari ini dulu.

Not just for me, but also for Fabio.

Mas Prim

Blogger, content writer & translator freelance. Text me if you need help with your text.

Post a Comment

Share opini atau pengalaman kamu tentang topik tulisan ini di sini. Share juga tulisan ini temen-temenmu, jika menurutmu bermanfaat.

&Joy!

Previous Post Next Post