WFH Story : Kunjungan Tamu Yang Tak Diundang

Note : Postingan ini mengandung disturbing picture.


2 minggu ini, saya berkesempatan menjalani aktivitas Work From Home (WFH) seiring dengan kebijakan Pemerintah untuk menerapkan PPKM (Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat).


Kebetulan, pekerjaan saya memungkinkan untuk dikerjakan dari rumah. Tak seperti beberapa rekan lain yang nggak mungkin pekerjaannya dibawa pulang, maintencance misalnya. Kan sulit juga kalau mesin segede rumah itu dibawa pulang untuk diutak-atik. Atau rekan dari tim logistik yang pekerjaannya mengendarai forklift


Mendapat kesempatan melakukan aktivitas dari rumah alias WFH tentu saja sebuah privilase yang patut saya syukuri. Selain mengurangi risiko terpapar C19, WFH membuat saya bisa menemani Fabio seharian.


Ada satu cerita menarik...atau mungkin lebih tepat kalau dibilang tak terlupakan dalam episode WFH kai ini. Tamu yang sosoknya selalu menghantui saya dan kehadirannya adalah hal terakhir yang saya inginkan, datang berkunjung.


Mulanya....

Cerita ini bermula saat Fabio, selepas sholat Dhuhur, sedang bermain di taman depan. Seperti biasa, saat bermain, anak ini berisiknya minta ampun, sangking asyiknya. 


Lalu, tiba-tiba ia berteriak, "Ular!!!"


Awalnya saya hanya menganggap itu adalah part of the story yang sedang ia mainkan. Oh, mungkin dia lagi bermain adegan ada ular. Namun, rasa penasaran mengusik saya, membuat saya beranjak dari depan laptop dan menhampirinya.


Fabio menunjuk dan benar saja, seekor ular berwarna coklat sepanjang +/- 2 meter merayap di taman depan. Melihat dari penampilan fisiknya, tampaknya itu adalah ular dewasa.


Mencoba tenang sambil meniru cara menangani ular dari tayangan Snakes City di National Geographic Wild, saya ambil tiang bendera untuk mengarahkan ular tersebut ke luar dari taman kami. Saya tidak berniat untuk melukai atau membunuh ular tersebut, karena melihat dari ukurannya, tampaknya ular tersebut adalah pemangsa alami tikus. Jadi, saya pikir, biarlah ia kembali ke tempatnya dan melakukan tugasnya.


Semoga itu adalah keputusan yang tepat.


Saat saya mendekat dan menyodokkan tiang bendera ke arah ular tersebut, kelihatan sekali bahwa ular tersebut panik dan berusaha melarikan diri. Reaksi pertahanan alami mereka saat merasa terancam.


Dan, subhanallah...hal yang luar biasa terjadi dan sulit dipercaya kalau tidak melihatnya dengan mata kepala sendiri. Merasa terpojok, ular tersebut menegakkan tubuhnya setinggi 1 meter untuk menggapai sela-sela dinding pagar dan merayap kembali ke rerumputan tepat di sebelah rumah.


Saya dan Fabio takjub melihat ular tersebut, lalu kembali masuk ke dalam rumah. Dan...untuk mencegah kemungkinan terburuk, pintu depan dan belakang saya tutup. Saya dan Fabio berda di dalam rumah sambil terus membahas apa yang baru saja kami alami tersebut.


Dalam hati, saya sungguh-sungguh berharap bahwa membiarkan ular tersebut kembali ke alamnya adalah keputusan yang benar.


Waktunya Riset

Setelah adrenalin menurun dan kami (ok, just me) saya pun mencari tahu, ular jenis apa yang kami temui siang tadi. Beberapa jenis ular muncul saat saya memasukkan kata kunci "Ular Yang Sering Ditemui di Sawah".


Dan, setelah melihat-lihat kecocokan bentuk fisiknya, saya menyimpulkan bahwa ular yang siang ini berkunjung adalah Ular Jali atau Ptyas Korros.

ularindonesian.blogspot.com

The After Effect

Pertemuan dengan makhluk luar biasa ini benar-benar pengalaman baru buat saya yang selama ini hanya melihat mereka dari jauh (di kebun binatang) atau sebatas menyaksikan keindahan mereka dari layar TV.

Namun, tak dapat dipungkiri setelah pertemuan ini, saya jadi makin was-was bin nggak tenang setiap kali melewati sisi pagar yang berbatasan dengan rerumputan itu.

Setiap suara gesekan, gerakan bayangan, bahkan ketika nggak ada apa-apa sekalipun, cukup membuat tingkat kewaspadaan saya On terus. Kewaspadaan ya, hmm...sounds more like kecemasan.

Walaupun ular itu tidak berbisa, but still, lebih baik kalau ia dan saya menerapkan physical distancing secara disiplin.

Bukan saya takut ular, cuma nggak suka aja kalau kegigit, berbisa maupun tidak.

Mas Prim

Blogger, content writer & translator freelance. Text me if you need help with your text.

13 Comments

Share opini atau pengalaman kamu tentang topik tulisan ini di sini. Share juga tulisan ini temen-temenmu, jika menurutmu bermanfaat.

&Joy!

  1. waah sama..saya juga paling takut sama ular, meskipun itu ular peliharaan. aduuh mending jauh2 deh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sih nggak takut, cuma nggak prefer aja buat deket2 😅

      Delete
  2. jadi ingat, dulu di rumah Mama beberapa kali muncul ular, kebetulan memang rumahnya itu duluuunya itu rawa, terus di belakang rumah Mama juga ada kolam (empang kecil tepatnya), tapi sama kakakku pasti ditangkap, dimasukin ke karung terus dibawa ntaah kemana yg jelas gak dibunuh.
    seram emang kalau nemu ular sawah gitu :(
    syukurnya Fabio lihat dan gak apa-apa ya, cepat laporan.

    ReplyDelete
  3. Ini aku inget di jaman aku di jayapura dulu ni...
    rasanya bentar2 muncul ular krn kami tinggalnya di pegunungan dan disamping jurang :)

    ReplyDelete
  4. Wah horor banget, mbak ketemu ular di rumah. Tapi ada juga lo teman yang cerita ternyata di plafon rumahnya ada ular yang bersarang. Trus pas masa banjir kemarin ularnya jatuh ke lantai. Duh ngeri banget ngebayanginnya

    ReplyDelete
  5. syukurnya fabio langsung teriak dan ada orang di rumah ya.

    Ular kaya gitu kayaknya ular yang palling sering muncul ya. Dulu orangtua juga ngajarinnya pake bambu disulurkan gitu kalau ada ular, mgkn cara itu bisa berlaku untuk semua jenis ular yaa mas?

    ReplyDelete
  6. Ya Allah mbaakk...saya bacanya merinding. Duuh kalo saya yang ngadepin ular itu gimana yaa..auto panik kali ya, karena liat cacing aja saya jijik apalagi ular yang lebih besar dan berbisa. Tapi alhamdulillah mbak dan si kecil gak apa-apa ya.

    ReplyDelete
  7. Mak, aku ada trauma ular. Begitu membaca kata pertama ular di atas, aku langsung skip ke kolom komentar. Huuu, maafkan nggak nyimak full ceritanya ya, ini aja langsung keringet dingin aku....:(

    ReplyDelete
  8. jadi inget masa kecilku dulu mba, pas Jakarta masih banyak sawah termasuk di sekitar perumahanku saat ini, yang masih ada sawah. Pernah tuh si tamu tak diundang itu masuk dong ke rumah, heboh deh jadinya seisi rumah, alhamdulillah sih akhirnya dulu berhasil ditangkap dan dibuang kembali ke alam

    ReplyDelete
  9. Beneraaan...aku merinding lihat ular.
    Bagus sekali tapi fotonya, kak..
    Aku ngebayangin gemeteran jika berhadapan dengan hewan melata yang satu ini.

    ReplyDelete
  10. Dulu sewaktu belakang rumah masih banyak sekali ilalang, rasanya kau juga takut kalau-kalau suatu waktu ada ular yang masuk ke rumah. Syukurlah sekarang sudah beralih fungsi menjadi ladang garapan jagung yang sering dibersihkan. Ya walaupun kalau jagungnya udah tinggi nyamuknya jadi banyak banget!

    ReplyDelete
  11. Ular ini pemakan tikus, jadi lebih baik tidak dibunuh

    ReplyDelete
Previous Post Next Post