Kalau saja aku punya lebih banyak waktu, aku pasti bisa sesukses dia.



Pernah nggak, kalimat ini terucap atau sekedar terpikirkan saat kita melihat ke sekeliling kita, orang-orang (yang kelihatannya, atau yang nyatanya memang) sukses atau berhasil?

Terus dalam hati kita bergumam, pantes aja dia bisa begini begitu, lah dia kan nggak punya banyak kesibukan. Nggak kaya saya yang harus ngurus ini-itu, kerjaan seabrek-abrek, cucian menggunung, setrikaan menjulang. Jadi wajar kalau saya nggak bisa, lah saya nggak punya waktu banyak.

Hmm...ok, mungkin nggak gini juga sih yang ada di batinmu.

But anyway, kadang-kadang kita mudah sekali mengeluhkan minimnya waktu yang kita punya sebagai alasan kegagalan kita. Mengkambinghitamkan sang waktu yang sebenarnya nggak hitam-hitam amat, dan mungkin juga nggak doyan kambing, karena kolesterol selangit.

Tapi...bukannya kamu, saya, dia, mereka, dan semua orang di dunia ini sama-sama dikasih 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 4 minggu sebulan ya?

Terus kenapa hasilnya beda?

Tentang Waktu

Pada suatu hari, di siang yang terik (apa sih ah!). Kebetulan saya ada perlu ke Surabaya. Dan seperti biasa, untuk mengantisipasi mata yang mendadak merem sendiri saat perjalanan jauh, saya biasanya memutar lagu-lagu hasil searching di Youtube.

Waktu itu, nggak tahu kenapa, mood-nya lagi nggak seberapa pengen dengerin lagu. Lalu saya coba cari-cari podcast tentang motivasi, pengembangan diri, atau pun hidup minimalis.

Singkat cerita, saya teringat seorang motivator yang dulu sering nongol di TV dan famous dengan kata-katanya "Super Sekali".

Tayangan itu adalah 'tayangan wajib' yang pasti kami tonton sekeluarga di akhir pekan. Seneng aja sih mendengar gaya bicara blio di yang santuy. Nggak kaya motivator pada umumnya yang berapi-api.

Lalu, iseng saya ketik tuh keyword-nya dengan nama blio. Eh muncul tuh satu judul tentang 2021. You know, tentang resolusi bla..bla..bla, dan sejenisnya. Ya, karena momennya memang akhir tahun sih waktu itu.

Di video tersebut, banyak sekali hal yang blio bahas tentang resolusi, tentu dengan style khas blio yang santuy dan wise itu.

Sampai akhirnya, ngomongin soal waktu. Topik bahasannya, sama seperti pertanyaan saya di atas (scroll up deh buat lihat), kenapa si A lebih sukses daripada si B, padahal jumlah waktu per harinya sama-sama 24 jam?

Nah, menurut blio, yang ngena buat saya pribadi, ada 2 hal tentang waktu yang bisa menjadi pembeda antara orang sukses dan orang yang belum sukses (kita sebut 'belum' aja ya, sambil didoain), yaitu:
  1. Ketersediaan waktu;
  2. Penggunaan waktu.


Lesson Learned



Saya termasuk orang yang suka merasa kekurangan waktu untuk melakuan hal-hal yang harusnya saya kerjakan dan yang maunya saya lakukan.

Saat menyelesaikan kerjaan kantor dengan deadline yang We O We itu, saya sering berpikir, seandainya saya punya waktu lebih, pastinya kualitas kerjaan saya lebih bagus, komprehensif, dan memuaskan.

Saat ngeblog, saya suka berpikir, kalau saja saya punya waktu lebih, pastinya saya bisa nulis lebih banyak dan lebih baik lagi. Blogwalking bisa lebih sering dan berkualitas.

Saat bersama keluarga, saya mikir, kalau saja waktu saya lebih banyak, tentunya saya bisa main-main lebih seru sama Bio. Spend more on romantic moment with my wife, dll.

Saya bahkan sempat berkhayal, kalau saja saya punya satu ruangan khusus yang punya settingan waktu berbeda seperti Time Chamber-nya Dragon Ball. Pastinya saya bisa menyelesaikan lebih banyak dan lebih baik.

Atau setidaknya...itu yang saya kira.

Nyatanya, selama ini kalau saya harus jujur, bukan kuantitas waktu saya yang bermasalah. Melainkan, cara saya menggunakan waktu.

There's no refund for poorly spent time - The Minimalists

Nunda-nunda karena belum ini lah, belum itu lah. Harus gini dulu, harus gitu dulu. Sok perfeksionis hingga melupakan satu hal sederhana yang sangat penting: waktu selalu berjalan.

In fact, sebanyak apa pun waktunya, kalau penggunaannya masih asal-asalan, ya sama aja bohong. Jumlah waktunya, nggak bisa ditambah. Udah itu diterima aja dulu. Yang paling penting adalah, apa yang bisa dilakukan dengan jumlah waktu segitu.

Ini juga berlaku untuk resource lainnya seperti uang, kesehatan, tenaga, pikiran, dll. Jumlah memang penting, tapi cara menggunakannya jauh lebih penting.