Ya Memang Harusnya Gitu

Kalau salah dimarahi, kalau benar nggak diapresiasi.

Pernah dengar kalimat sambat seperti ini dari rekan kerjamu? Biasanya, yang kaya gini ini keluarnya pasca konflik dengan pak boss. Betul?

Memang rasanya sumpek ya, punya atasan yang pelit apresiasi sama anak buahnya. Mbok ya jadi boss itu yang bisa menghargai effort anak buah gitu lho.

Kita ini udah kerja keras, banting adonan donat tulang, berjuang sampai titik darah penghabisan, kok masih aja dicela.

Sabar. Memang betul, orang seperti ini (mau itu atasan, bawahan, rekan kerja, bahkan pasangan sekali pun) bikin tensi meninggi. Tapi, cooling down dulu dan sesekali coba melihat dari sudut pandang mereka.

Sudah Seharusnya

Misalnya nih, kamu lagi ada rencana buat ngrenov rumah, dan kamu meminta bantuan seorang profesional di bidangnya, arsitek. 

Tentunya, sebagai user, kamu punya ekspektasi kan ke arsitek itu. Kalau memang dia profesional, ya berarti dia bisa membuat desain rumah yang baik, aman, dan sesuai budget yang kamu sampaikan di awal.

Dan ketika dia menyerahkan proposal desainnya, bukannya ya sudah seharusnya itu yang dia lakukan sebagai seorang profesional?

Yang jadi masalah adalah, arsitek itu tidak kunjung menyerahkan rancangannya padahal udah meeting berkali-kali, ngirim pun nggak sesuai kesepakatan, revisi bolak-balik. Nah itu baru masalah.

Setiap profesi tentu tak bisa dilepaskan dari ekspektasi. Ketika ekspektasi terpenuhi, ya sudah, memang harusnya seperti itu.

Seorang dokter memeriksa dan memberikan obat yang sesuai, ya memang harusnya begitu.

Seorang arsitek menyerahkan rancangan sesuai kesepakatan tepat waktu, ya memang seharusya begitu.

Seorang karyawan menyelesaikan tugas dan laporan dengan baik sesuai tenggat waktu, ya memang seharusnya begitu.

Terus masalahnya apa?

Pengalaman Pribadi

Sebagai makhluk emosional, kadang kita suka menggunakan hati dan kepala di saat yang kurang tepat.

Giliran harus logis, pake perasaan. Pas harusnya peka, malah logis dan 'dingin'.

Sejauh pengamatan dan pengalaman saya pribadi, kerap kali sambatan kurang apresiasi ini muncul karena keterampilan dan pengetahuan yang kita punya tak sejalan dengan ekspektasi atasan. Walaupun ada di kasus tertentu yang memang masalahnya adalah personal atasan itu sendiri.

Ada kasus ketika saya berhasil melakukan sesuatu yang We O We buat saya, tapi alih-alih diapresiasi, pak bossnya cool-cool aja tanpa ekspresi. Padahal saya ngerjainnya itu sampai lembur-lembur dan bawa pulang kerjaan, tapi reaksinya 'cuma' "Ok".

Bikin emosi jiwa nggak tuh.

Time goes, ketika saya agak sedikit waras, saya baru bisa melihat bahwa, nothing really special dengan pencapaian saya itu jika, dibandingkan dengan ekspektasi atas posisi yang saya tempati.

Saya hanya melakukan apa yang harusnya saya lakukan, terlepas dari prosesnya yang berdarah-darah karena saya kurang cakap dan terampil dalam mengerjakannya.

Lesson Learned

Pelajarannya, buat saya, ketika apa yang sudah saya lakukan ternyata tidak diapresiasi sebagaimana eksepektasi saya, mungkin karena I'm just doing what I should do.

Memang tidak mudah menerima bahwa apa yang kita kerjakan susah payah itu sesuatu yang memang sudah seharusnya kita kerjakan, terlebih...jangan lupa, kita ini makhluk emosional.

Namun, ya dibiasakan saja. Mungkin, mungkin lho ya, itu adalah cara Allah agar kita menggunakan potensi yang telah Dia anugerahkan. Dengan menempatkan kita di tengah-tengah lingkungan yang memaksa kita untuk terus bertumbuh.

Mas Prim

Blogger, content writer & translator freelance. Text me if you need help with your text.

Post a Comment

Share opini atau pengalaman kamu tentang topik tulisan ini di sini. Share juga tulisan ini temen-temenmu, jika menurutmu bermanfaat.

&Joy!

Previous Post Next Post