Bila passion yang kita punya tidak 'menghasilkan' masih layakkah meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan mungkin...uang, untuk mengerjakannya?

Pada awalnya, nggak kebayang kalau menulis akan menjadi sesuatu yang menyenangkan buat saya. As a matter of  fact, saat ini saya cukup pede untuk mengatakan bahwa menulis adalah passion saya.

Dulu, saya udah paling anti sama namanya menulis. Bahkan sangking nggak sukanya sama nulis, dulu waktu ada tugas atau ulangan mengarang, saya sampai menyisipkan beberapa lirik lagu di tulisan saya. Demi apa? Demi memenuhi selembar halaman folio.

Karenanya, saya suka heran sama teman-teman saya yang bisa mengarang sampai selembar penuh folio bolak-balik. Bahkan, ada yang sampai minta kertas tambahan coba. Hmm...nulis apa aja ya dia kira-kira.

Tapi along the way, akhirnya saya mulai merasakan asyiknya menulis.

Awalnya...
Bermula di tahun 2014. Ketika itu, saya menerima penugasan untuk mengisi posisi Organization Development (OD) Officer, yang memiliki fungsi utama sebagai internal communication.

In short, di sini saya bertugas untuk mengerjakan tugas-tugas terkait komunikasi untuk internal organisasi, melalui beberapa media seperti portal berita perusahaan, majalah karyawan, dan media lainnya.

Nah, di sini lah saya mulai menjalani profesi sebagai content writer (waktu itu belum tahu ada istilah content writer), yang bertugas mengelola portal berita organisasi.

Praktiknya, mulai dari melakukan liputan, pengambilan foto, wawancara dengan narasumber, hingga menyusun draf berita dan mempublikasikannya. Mostly dalam Bahasa Inggris. Walaupun kadang saya juga membuat artikel bilingual untuk topik-topik tertentu.

Tak berhenti sampai di situ, sebagai OD Officer, saya juga terjun sebagai salah satu tim jurnalis majalah karyawan. Tak jauh beda dengan apa yang saya kerjakan sebagai content writer, aktivitas saya sebagai tim jurnalis ya nggak jauh dari membuat konten. Bedanya, kali ini untuk media cetak (majalah).

Dan, lebih seru dan menantang, karena harus bersinggungan dengan rekan setim yang punya karakter, value, dan mau yang beragam.

Walaupun demikian, overall menyenangkan sih bisa mendapat kesempatan mengenal dan belajar tentang dunia kepenulisan.

Mulai Ngeblog...
Kurang lebih 2 tahun mengisi posisi OD Officer, saya dipindahtugaskan lagi ke bagian lain, Training & Development. 

Karena harus beradaptasi dengan tuntutan di fungsi baru, akhirnya saya memutuskan untuk undur diri dari tim jurnalis. Supaya lebih fokus.

Namun, setelah beberapa lama vakum menulis, ternyata pengen nulis lagi. Asyik aja bisa nulis, berbagi informasi dan inspirasi ke orang lain.

Singkat cerita, saya pun mulai blog pertama saya menggunakan platform Wordpress.com.

Sempat bingung mau nulis apa di blog ini, akhirnya memutuskan untuk menulis fiksi seperti cerpen. Kebetulan juga sempat kesasar di blog Fiksi Lotus yang menghadirkan karya sastra internasional yang telah dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia.

Tapi, setelah beberapa lama, rasanya fiksi bukan genre yang tepat buat saya. Lalu saya pun beralih ke genre yang lebih kasual dan santai seperti blog dan jurnal.

Dan tampaknya setelah dijalani, saya merasa lebih cocok menulis seperti ini. Menuliskan opini dan pengalaman pribadi, kemudian membagikannya kepada orang-orang melalui media sosial.

Passion sih, tapi nggak menghasilkan...
Sejak awal ngeblog di akhir 2016 hingga sekarang dan gonta-ganti blog beserta platform-nya, saya merasa telah menemukan passion saya, yaitu menulis.

Namun, masalahnya passion saya ini nggak 'menghasilkan'. Jadi apakah saya perlu meluangkan sejumlah waktu, tenaga, pikiran, bahkan uang...untuk aktivitas yang menyenangkan tapi nggak menghasilkan ini?

Sempat ragu, tapi kali ini saya Insya Allah mantap berkata kalau saya akan tetaps menulis sekalipun tak ada imbal balik berupa materi. Cuma, ya saya juga harus fair juga. Mengingat tuntutan dan kewajiban yang berjibun, saya nggak boleh mengorbankan kewajiban hanya agar saya bisa bersenang-senang menulis.

Kewajiban harus lebih dulu ditunaikan. Later on ketika sudah sedikit longgar, boleh lah nulis lagi. 

Kalau kalian bagaimana? Jika passion kalian, apapun itu, nggak menghasilkan, apakah kalian akan tetap mengerjakannya?