Kami punya rasa, Anda punya selera - Cak Pan

Dekat rumah orang tua istri saya di Surabaya, ada sebuah depot nasi goreng yang cukup tenar di kalangan warga sekitar dan menjadi nasi goreng favorit di sana. Namanya Warung Cak Pan.

Saya pernah beberapa kali ke sana dan menurut saya sih standar aja rasanya, yang bikin rasanya jadi luar biasa adalah, orang yang nemenin saya makan di sana 😁.

Satu hal yang menarik mata saya dari warung nasi goreng sederhana itu adalah, slogan yang terpampang pada kain spanduk di depan warung. 

"Kami punya rasa, Anda punya selera" begitulah tulisannya.

Sebagai pemerhati kata-kata (halah opo seh), tentu saja sebaris kalimat ini sudah cukup menggugah imajinasi mengira-ngira, apa makna kalimat tersebut.

Mungkinkah kalimat itu memiliki makna yang begitu dalam dan filosofis untuk mengekspresikan cita rasa yang dihadirkan dalam setiap porsi nasi goreng?

Atau sebatas berarti, nasi goreng di sini rasanya ya begini...kalau nggak suka ya udah, mungkin selera kita beda.

Udah gitu aja. Nggak kurang, nggak lebih, ya kurang lebih sih.

Mungkin juga, lagipula bukankah itulah gambaran sederhana sebuah bisnis? It's just a matter of taste and preference.

Setiap bisnis memiliki keunikan masing-masing dalam menjalankan bisnis mereka, prinsip, value, yang kadang tapi nggak sering, tercermin dari produk/jasa mereka.

Tentunya sudah umum kalau setiap bisnis ingin kepuasan pelanggannya terjaga, demi kelangsungan hidup bisnis mereka. Namun, dengan beragamnya kebutuhan, kemauan, karakter dan value tiap-tiap pelanggan, tentunya sulit (walau nggak mustahil) bagi sebuah bisnis untuk memuaskan semua pelanggan mereka.

Karena itulah, setiap bisnis perlu tegas menentukan lingkup bisnis mereka, batasan-batasan, atau meminjam istilah Cak Pan, "rasa" bisnis mereka.

Kalau pemilik bisnis tidak mampu menentukan dan menjaga "rasa", tidak konsisten 'demi' memuaskan semua pelanggan, tentunya hal ini buruk bagi bisnis untuk jangka panjang.

Karena suka atau tidak, nobody can never have enough to please everybody.

Prinsip yang sama berlaku juga bagi aspek kehidupan lainnya. You can't make everyone happy and that's okay.

Di pekerjaan, akan ada aja orang yang nganggep kamu licking your bosses ass jika kamu rajin atau follow instruksi si boss. 

Di lingkungan sosial, akan ada orang yang nganggep kamu sombong, nggak mau bergaul, ketika kamu menolak berkumpul bersama mereka demi quality time buat keluargamu. 

Di media sosial, kamu dianggap aneh ketika kamu mulai nggak aktif medsos atau nggak mutualan dengan orang-orang tertentu saat kamu berusaha mengurangi toksin sosial dari hidupmu.

Ya nggak apa-apa. Nggak perlu merasa khawatir berlebihan sampai hilang nafsu makan. Sayang makanannya ga kemakan 😅.

Seperti Cak Pan, kamu punya rasa, mereka punya selera. 

Kalau memang rasamu dan selera mereka nggak sama, itu bukan salahmu atau dosa mereka. It's just a matter of taste & preference.

Tentukan seperti apa "rasa"mu, dan biarkan mereka menentukan "selera" mereka.