Ada 2 hal yang biasanya jadi penyebab keributan dalam rumah tangga: seks dan uang.


Dalam kehidupan berumah tangga, konflik merupakan bagian yang tak terpisahkan. Bahkan ada yang bilang, konflik di rumah tangga itu ibarat bumbu dalam sebuah masakan.

Kalau takarannya pas, masakannya terasa sedap. Kalau ada salah satu bumbu yang kebanyakan, opsinya ada dua: tambahin bumbu lain biar rasanya seimbang (minimal nggak ancur-ancur amat), atau...ya udah terima aja apa pun rasanya.

Walaupun, dalam kadar tertentu ketika keberantakan rasanya sudah tak tertolong lagi dan bila memaksakan diri untuk menyantap hidangan tersebut berujung pada keracunan. Maka, opsi terakhir adalah, membuang masakan itu (no matter how hard it is).

Konflik itu sudah menjadi resiko dalam sebuah relasi. Entah itu rumah tangga, relasi bisnis, relasi kerja, dan lainnya. 

It's normal, mengingat setiap orang berbeda. Beda sifat, karakter, value, pengetahuan, pengalaman, dll. 

Yang terpenting bukan apa konfliknya, tapi bagaimana pengelolaan dan resolusi dari sebuah konflik dalam relasi dengan orang lain.

Seperti halnya masalah-masalah dalam kehidupan. Apa yang kita pikirkan, rasakan, dan finally, lakukan, jauh lebih penting daripada apa yang menimpa kita.

What happen in you it's more important than what happen on you.

Ujung-ujungnya, action change things. Yang penting itu tindakannya, bukan masalah/konfliknya.

Ngomong-ngomong soal konflik dalam rumah tangga, saya ingin berbagi tentang konflik yang baru-baru ini saya alami di dalam rumah tangga kami. Specifically, money based conflict atau, konflik berbasis uang (halah, maksa amat nerjemahinnya).

Uangnya Ke Mana Semua?

Saya dan istri saya itu beda sebeda-bedanya. Dari sisi intelegensi, karakter, hingga hal-hal yang sifatnya prinsip. Makanya, blio bisa mau nikah sama saya itu udah bener-bener mukjizat buat saya.

Terutama tentang pengelolaan uang. Blio ini detil banget sama pemasukan dan pengeluaran. Terutama sama pengeluaran yang sering walau nggak jarang, sensitif.

Mulai dari terima gaji, blio yang ngitung semua tuh dari rencana pengeluaran bulanan, hingga ngatur week per week-nya. Ya, syukur Alhamdulillah, saya udah mulai bisa dikit-dikit kontribusi ngatur pengeluaran mingguan walau pun masih sering over budget.

Singkat cerita, di pertengahan tahun lalu, saya dan istri sama-sama memiliki bisnis sampingan masing-masing. 

Alhamdulillah, ada aja tambahan pemasukan dari bisnis yang kami jalani ini buat nambal kebutuhan harian.

Yang namanya bisnis, yang udah pernah menjalani bisnis sendiri pasti paham, kalau yang namanya cash flow alias arus kas uang keluar-masuk itu penting dan harus dicatat.

Saya dan istri saya paham betul ini. Namun, cuma istri saya yang disiplin melakukannya. Sementara saya, hmm...rasanya kaya bisnis yang saya jalanin ini nggak ada hasilnya.

Lah gimana, dapat income dikit, eh ada aja pengeluarannya. Dan celaka dua belas, saya nggak catat tuh pengeluaran-pengeluaran itu. 

Sampai akhirnya, beberapa hari lalu, istri saya nanyain soal uang jualan buku yang saya kerjain. Lah kok ya pas banget, uangnya udah nggak bersisa. Dan, parahnya lagi, saya nggak bisa jelasin, pada jalan-jalan ke mana aja itu uangnya.

Yang saya bisa bilang cuma, perasaan dipakainya ya buat keperluan keluarga juga, cuma nggak inget keperluan yang mana.

Dan, alhasil, saya udah kaya tersangka kasus pencucian uang aja dicecar pertanyaan demi pertanyaan tentang uang-uang yang saya bawa. 

Action Plan

Dan setelah drama interogasi yang nggak cuma sekedar dramatis, tapi juga bombastis itu, perasaan saya nggak karuan. Di satu sisi, saya yakin nggak pake uang itu buat yang aneh-aneh, di sisi lain, saya berasa kaya nggak berkontribusi pada kesehatan keuangan kami.

Dan daripada terus menerus murung dan mencoba mengingat-ingat destinasi uang-uang saya. Saya memutuskan untuk do something about it. Sesuatu yang harusnya...saya lakukan sejak dulu, catat semua pengeluaran.

Kebiasaan Baru : Catat Semua Pengeluaran

Ada banyak cara sih yang bisa kita gunakan untuk mencatat pengeluaran-pengeluaran kita, mulai menggunakan catatan sederhana, bullet journal, hingga aplikasi di gawai. Apa pun itu, as long it works for you, use it.

Saya pribadi memilih menginstal aplikasi di gawai, supaya lebih praktis dan ringkas saja. Kapan pun ada uang keluar (transaksi), saya langsung buka gawai dan ngupdate status expenses saya.

Wrap It Up

Sebesar apa pun income-nya, kalau expense-nya tidak terkendali, soon or later akan timbul masalah. Mencatat semua pengeluaran merupakan salah satu opsi (which I know so far) untuk mengelola keuangan kita. 

Setidaknya at the end of the week/month, kita bisa evaluasi, uangnya pada ke mana aja sih. Sehingga, kita bisa melakukan perencanaan keuangan yang lebih baik ke depannya.

Apakah alokasinya yang kurang, atau masalahnya di orangnya yang suka gelap mata.

Untuk mencatat pengeluaran, apa alat/medianya nggak terlalu penting, asalkan tujuannya tercapai. Pengelolaan keuangan yang lebih baik dan kontribusi untuk ikut mengamankan keuangan keluarga dari godaan promo, diskon, dan sejenisnya.