Sebagai seorang karyawan profesional, menjaga disiplin diri bisa dimulai dari hal sederhana seperti tiba di tempat kerja tepat waktu.


Namun, tak bisa dipungkiri pasti akan ada kalanya kita terpaksa datang terlambat, karena satu dan lain hal.

Yang jadi masalah adalah ketika keterlambatan ini berulang dan sering, misal sebulan terlambat 30 kali, padahal sebulan kerjanya 25 hari.

Tentunya ini tak sepatutnya dilakukan karena selain menyalahi kontrak kerja yang sudah kamu baca dan tanda tangani, kamu juga bisa merugikan rekan kerjamu yang lain lho. 

Misalnya harus back up kerjaanmu selagi kamu belum menampakkan batang hidungmu di tempat kerja. Padahal dia juga punya kerjaan lain. Belum lagi kalau akses ke alat kerja (yang dia perlukan untuk back up kerjaanmu) ternyata terkunci dan hanya kamu seorang yang pegang kuncinya. Sementara bapak/ibu boss udah nungguin dengan wajah yang jauh dari ramah.

Mampus nggak temenmu tuh kalau kaya gitu.

Katanya, setiap apa yang kita lakukan, pasti kita sendiri yang akan menerima konsekuensinya. Namun, tampaknya nasehat ini perlu direvisi sedikit.

Karena nyatanya kita nggak selalu menerima konsekuensinya. Nggak jarang, orang lain juga ikut ngerasain akibat dari perbuatan kita.

Mirip-mirip ketika kamu naik lift yang penuh sesak, eh tau-tau ada yang kentut. Kan jadi gimana ya. Mau marah itu tar puasanya batal, marah pun baunya nggak hilang. Jadi serba salah walau bukan kamu yang salah.

Nggak melulu soal disiplin kehadiran di tempat kerja. Banyak hal yang kalau kita mau berpikir sejenak dengan akal sehat (walaupun intelegensi pas-pasan), sebenarnya setiap perbuatan itu ada akibatnya. 

Dan akibat dari setiap perbuatan itu pasti ada. Yang nggak pasti adalah, SIAPA yang harus merasakan dan menanggung akibatnya.

Itu baru di tempat kerja. Belum ngomong di rumah, lingkungan tetangga, keluarga besar, dan lainnya.

Jadi, gimana kalau sebelum bertindak, dipikir dulu apa akibatnya...dan, SIAPA yang harus menanggung akibatnya.

Jangan sampai kelakuanmu bikin orang lain makin penat dengan hidup mereka. Bukankah seperti itu etika hidup bermasyarakat?