Lebih dari sekedar berbuka puasa.


Bulan Ramadhan telah tiba, bulan suci di mana setiap umat mukmin diwajibkan untuk menunaikan ibadah puasa.

Di bulan ini pula lah adzan Maghrib menjadi sebuah momen yang sangat dinanti oleh mereka yang menjalankan ibadah puasa.

Ya, semoga setelah Ramadhan pun tetap begitu. Aammiin.

Jelang adzan Maghrib dikumandangkan, biasanya para istri sudah mulai repot menyiapkan sajian-sajian mulai ta'jil hingga menu berbuka puasa. Tak terkecuali istri saya.

Haruskah Serepot Itu?

Istri saya adalah manusia yang paling repot sesaat sebelum adzan Magrhib dikumandangkan, tanda waktu berbuka telah tiba.

Mulai beberes rumah, hingga menyiapkan sajian terbaik dan ternikmat untuk menu buka puasa kami.

Terkadang saya berpikir, ngapain sih sampai segitu repotnya untuk menyiapkan sajian berbuka puasa. Padahal teh hangat atau air putih dipadu dengan kurma kan sudah cukup. Nggak perlu lah sampai serepot itu menyiapkan menu berbuka puasa.

Lagi pula, bukankah puasa adalah tentang pengendalian diri dan memperbanyak ibadah. Bukan soal mau buka pakai apa nanti.

Nostalgia Saat Berbuka Puasa

Namun, ada yang baru saya sadari tentang alasan di balik kebebalan istri saya untuk merepotkan diri menyiapkan sajian buka puasa istimewa untuk kami.

Ceritanya ketika itu, saya sedang bertugas mencuci piring-piring kotor selepas menyantap hidangan buka puasa.

Istri saya sedang rebahan sambil ngobrol-ngobrol sama Fabio. Samar-samar saya mendengar istri saya bertanya pada Fabio tentang menu berbuka yang ia mau untuk esok harinya.

Singkat cerita, saya mendengar bahwa bagi istri saya momen berbuka puasa adalah yang paling ia nantikan saat ia masih kecil.

Dulu, almarhumah Mami selalu menyiapkan makanan yang enak-enak dan minuman segar untuk menu berbuka istri saya sekeluarga. Walaupun ketika itu mereka hidup dalam keterbatasan, tapi almarhum Mami selalu mengupayakan yang terbaik agar keluarganya mendapat sajian yang enak-enak.

Dan pengalaman itulah yang istri saya ingin bagikan kepada saya dan Fabio.

Ia ingin memberikan sajian terbaik seperti yang almarhumah mami sajikan saat ia masih kecil dulu untuk berbuka puasa. Ia ingin kami merasakan kebahagiaan yang ia rasakan saat berbuka puasa.

Saya hanya bisa tertegun mendengar cerita itu. Mengingat semua kerepotan dan kepayahan yang harus ia lakukan untuk membagi kebahagiaan pada kami.

Saya merasa bahwa momen berbuka puasa adalah momen yang sangat berharga baginya. Sebuah nostalgia pada momen berbuka puasa yang mengingatkannya pada almarhumah Mami.

Saya jadi merasa bersalah telah memandang sebelah mata semua yang ia lakukan untuk menyiapkan sajian berbuka puasa saya dan Fabio. 

Memaknai Ulang Momen Berbuka Puasa

Pandangan saya tentang momen berbuka puasa bersama istri dan Fabio kini berubah.

Ya, tentu saja esensi berbuka puasa itu lebih dari sekedar hidangan yang tersaji di meja makan. Namun, tak ada salahnya juga ikut berkontribusi menciptakan momen berbuka puasa yang tak terlupakan bagi saya, istri, dan terutama....Fabio.

Bisa menikmati waktu bersama mereka sembari menikmati sajian sedap saat berbuka puasa, adalah nikmat yang harus saya syukuri dan jaga. Karena momen ini hanya ada di bulan suci Ramadhan.

Akhir kata, selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan kawan. Semoga momen Ramadhan kali ini menjadi kesempatan untuk memperbaiki quality time kalian bersama yang terkasih.