Menulis adalah cara untuk berekspresi dan berkomunikasi.
Unsplash


Ketika kamu mengetikkan "menulis" sebagai kata kunci di portal foto seperti Unsplash, Pexel, dll, gambar seperti apa yang akan kamu temukan?

Biar aku tebak, gambar seseorang yang sedang menulis di atas secarik kertas, orang yang sedang mengetik, atau hanya alat-alat tulisnya saja.

Bukan begitu?

Selama ini, pernah nggak kita tanpa sadar telah mengkotakkan gambaran seorang penulis, atau aktivitas menulis itu melulu duduk di kursi menghadap layar komputer (atau kertas), sendirian tanpa teman, mimik wajah serius di ruangan temaram.

Padahal menulis tuh, nggak selalu sengeri itu kok.

Iya lah, kalau kita sedang menulis tentunya kita perlu duduk manis sambil mulai menuliskan kata demi kata, kalimat demi kalimat, hingga akhirnya terbentuklah satu naskah utuh.

Tapi sebelum, selama, dan setelah menulis bukankah ada hal lain yang juga berperan dalam tulisan kita?

Mulai riset melalui internet atau pun membaca buku, hang out bersama teman atau keluarga, menyiapkan kudapan untuk menemani aktivitas menulis, hingga hal-hal tak terduga seperti piranti menulis yang 'menguji kesabaran' saat hendak digunakan, listrik mati, atau 'iklan-iklan' lainnya yang bikin nulis nggak kelar-kelar dan hilang fokus.

What I'm trying to say is, menulis itu nggak melulu hanya menulis.

Bicara tentang menulis, setiap orang punya alasan dan cara masing-masing untuk menulis.

Ada yang menulis untuk senang-senang, ada yang sebagai media curahan hati supaya tetap waras, ada pula yang menulis sebagai mata pencaharian. Medianya mulai dari blog, buku, hingga bekerja di bidang yang berhubungan dengan menulis seperti Document Controller.

Saya yakin setiap orang punya cara dan tips masing-masing dalam menulis. Ada yang nulis tanpa konsep (freewriting), ada pula yang menulis dengan perencanaan dan konsep. Kamu termasuk yang mana?

Dari pengalaman pribadi sih, ketika menulis untuk kepentingan formal seperti saat masih aktif sebagai content writer portal berita perusahaan hingga saat ini menyusun dokumen-dokumen formal seperti kebijakan, SOP, dan instruksi kerja. Perencanaan itu super duper penting untuk menghasilkan draf yang baik.

Namun, ketika menulis untuk hobi...terkadang saya lebih suka ngeflow aja lalu disunting kilat (cek typo, susunan paragraf, jumlah kata per paragaraf, dll).

Dari kombinasi pengalaman menulis untuk kepentingan formal dan santai kalau saya simpulkan setidaknya ada 3 poin yang bisa menjaga kualitas tulisan saya. Walaupun...nggak selalu always saya lakukan juga sih hehehehehe.

Unsplash


1. Apa Yang Mau Ditulis

Menulis itu lebih mudah saat kita tahu apa yang mau ditulis, are you with me? Ya lah, susah juga kan kalau udah duduk manis di depan layar tapi...krik...krik...krik... . Sampai sejam, nggak jadi-jadi hehehe.... .

Apa yang mau ditulis yang saya maksud di sini bukan berhenti di, tahu tema yang mau ditulis, tetapi lebih baik mengetahui apa inti/kesimpulan dari tulisan yang mau kita buat.

Jadi sederhananya, cara berpikirnya dibalik. Ibarat film, kita mikirnya bukan semata filmnya tentang apa, tapi juga ending-nya seperti apa. Mungkin ini bisa dipakai juga di dalam tulisan fiksi (walaupun saya udah lama nggak nulis fiksi), dengan cara mengetahui apa pesan/moral utama yang ingin disampaikan.

Setidaknya dengan mengetahui apa yang mau kita tulis, kita punya panduan saat tulisan kita mulai keluar jalur. Kita pun jadi lebih mantap memilih, mau 'diluruskan' sesuai rencana awal, atau tujuannya yang 'disesuaikan'.

Bukan begitu?

2. Kenapa Orang Perlu Baca

Baru-baru ini saya diingatkan lagi sama Mbak Vicky kalau menulis (especially ngeblog) juga perlu memperhatikan aspek komunikasi. Maksudnya, sebagai penulis, kita juga perlu memerhatikan kaedah penulisan yang baik.

Why, you asked? Karena, pada dasarnya menulis adalah salah satu media komunikasi untuk menyampaikan ide kita kepada orang lain. Dan komunikasi itu dianggap efektif, bila si pembaca mampu menangkap apa yang si penulis hendak sampaikan dengan utuh.

Kita nggak mau pembaca kita gagal paham karena cara komunikasi (tulisan) kita acak-acakan kan? Sekalipun pembaca tulisan itu adalah kamu sendiri. 

Membahas cara membuat tulisan yang komunikatif akan lebih banyak berhubungan dengan hal teknis kepenulisan. Dan kabar baiknya, ketika bicara hal teknis, hampir semuanya bisa dipelajari. Tinggal mau apa nggak.

Pertanyaan yang lebih penting adalah, kenapa sih orang perlu spend some time & attention buat baca tulisanmu?

Karena, sebagus-bagusnya tata tulismu, tapi nggak greget bikin orang mau baca, ya udah...yang sabar ya.

Semua orang punya satu pertanyaan dasar di dalam pikiran mereka : what's in it for me?

Apa untungnya buat saya baca tulisanmu?
Apa untungnya buat saya ketemu kamu?
Apa untungnya buat saya beli barang di kamu?
Dst... .

Pertanyaan buat kamu dan saya yang ngakunya penulis/bloger, kenapa pembaca perlu repot-repot ngeklik tautan tulisan/blogpost kita?


3. Bagaimana Mengemasnya

Banyak jalan menuju Roma, tapi Roma-nya ya di situ aja, nggak ke mana-mana.

Dalam membuat sebuah tulisan yang komunikatif dan menarik, kita perlu mempertimbangkan opsi dalam megemas tulisan kita. Apakah kita kemas dalam bentuk narasi, listicle, infografis, fiksi, atau kombinasi. Bahkan, kita juga bisa mempertimbangkan versi video/slideshow kok.

Mau tulisan sepanjang 500 kata, 1000 kata, atau 50.000 kata, terserah. Kamu bebas berkreasi dengan cara segila dan seliar apapun dalam hal ini. Selama sejalan dengan value kamu, lakukan aja, jangan malu-malu.


Kesimpulan

Jadi, itulah 3 hal yang menurut saya penting untuk kita tahu dulu sebelum mulai menulis. Setidaknya, berdasarkan pengalaman pribadi saya menulis selama ini. Bagaimana denganmu?