Siapakah Saya?


Waktu jaman kuliah dulu, saya ingat di sebuah mata kuliah (kalau nggak salah, Filsafat Manusia), dosen menanyakan pertanyaan sederhana tapi ruwet: Siapakah saya?

Spontan saja, banyak dari kami yang menyebutkan nama. Lah kan ya udah umum toh ya, pertanyaan seperti itu jawabannya ya Nama kita. Namun, seketika itu, Bu (atau Pak ya, lupa hehehe...maaf) menyanggah, "saya tidak tanya nama kamu."

Nah loh, udah ancang-ancang mau ngelempar sandal kan. Ni dosen maunya apa, nanya, dijawab, malah bilang kaya gitu.

Mulai deh, nyari jawaban lain yang lebih "masuk akal" seperti jenis kelamin, usia, dan atribut-atribut lain yang melekat di raga kami. Dan, dosen itu masih keukeh dengan jawabannya, "Bukan itu yang saya tanyakan," sambil tersenyum.

Dah semakin boiling up bin emosi jiwa aja nih. Kalau saja di situ ada sandal japit, udah saya timpuk tuh dosen gara-gara bikin perkara. Untung ga ada yang pake sandal (soalnya wajib bersepatu).

Waktu berlalu, akhirnya saya menyerah dengan pertanyaan unfaedah itu. Terserah deh situ mau bilang apa. 

Menemukan Jawabannya

Beberapa waktu kemudian, ketika itu saya sedang bersama seorang gadis cantik yang saya kagumi pergi jalan berdua untuk makan siang. Singkat cerita, iseng saya coba nanya ke gadis itu pertanyaan unfaedah sama yang ditanyakan dosen saya dulu.

Pikir saya, dia pasti akan menjawab nama. Kemudian saya dengan songongnya, akan menjawab, "Bukan itu yang saya tanyakan" hahahaha.

Namun, sungguh saya takjub dengan jawaban yang keluar dari gadis itu. Dengan mantap, ia menjawab, "Aku adalah hamba Allah."

Saya terdiam mendengar jawaban yang jauh dari dugaan dan perkiraan. Seketika itu pula saya jatuh cinta kepada sang gadis.

Back to Present

Suatu hari, ketika saya sedang menikmati akhir pekan bersama istri dan anak saya, iseng istri saya bertanya, "Kenapa kamu mau nikah sama aku?"

Tanpa ragu, saya pun menjawab, "Ingat nggak dulu, waktu kita jalan aku pernah tanya ke kamu, siapakah saya?"

Ia mengangguk.

"Jawabanmu waktu itulah yang membuat aku yakin dan mantap untuk menghabiskan sisa hidupku bersamamu," jawab saya.

Ia hanya tersenyum. Lalu tak lama, Fabio datang menunjukkan hasil karyanya untuk kami puji. Kami pun larut dalam suasana damai dan bahagia di sisa akhir pekan itu.

Penutup

Beberapa waktu lalu, saya menyimak sebuah podcast tentang muslim yang produktif. Di situ, sang pembicara menyebutkan (atau lebih tepatnya mengingatkan saya) pertanyaan yang dahulu saya anggap sebagai pertanyaan unfaedah : Siapakah Saya?

Pertanyaan yang menuntun saya untuk kembali ke fitrah kita dan kenapa kita ada di dunia ini. Dan menurut kepercayaan yang saya anut, jawabannya ada dua: untuk beribadah kepada-Nya dan menjadi khalifah di muka bumi ini.

Took some time, but I finally realize the answer from that silly question.