Seni Bertanya Di Tempat Kerja

It's better to ask a silly question than making a silly mistake.
But sometimes, the silly question is the silly mistake.

Kalau nggak tahu, sebaiknya bertanya. Daripada sok-sokan nggak nanya akhirnya malah bikin masalah. Ya nggak?

Hmm...ya dan tidak.

Ya dalam konteks untuk mencegah salah langkah yang bikin masalah, maka sebaiknya bertanya dulu. Minimal konfirmasi. Namun, tentunya dalam bertanya itu perlu memperhatikan beberapa poin berikut ini, terutama dalam lingkup profesional.

1. Perlu Nggak Ditanyain?

Tahukah kamu, nggak semua pertanyaan yang menggeliat di dalam sanubarimu itu perlu ditanyakan ke orang lain atau atasanmu lho.

Hanya karena kamu mengalami masalah dalam menyelesaikan tugasmu, nggak berarti kamu bisa langsung tanya atasanmu untuk meminta solusi.

Coba ambil nafas panjang dulu dan tanyakan pada dirimu sendiri:
  • Apakah jawaban yang kamu butuhkan itu hanya bisa diberikan oleh orang lain (rekan kerja/atasan); atau
  • Apakah jawaban yang kamu butuhkan, itu bisa kamu dapatkan sendiri melalui mesin pencari, membaca literatur/dokumen terkait?
Karena kadang-kadang, untuk hal-hal teknis terkait pekerjaan (generally speaking) kita bisa kok cari tahu sendiri. Misalnya formula Excel, cara mengatur batas kiri-kanan-atas-bawah di Word, cara menggunakan APAR, dll.

Atau, kamu juga bisa coba mencari email-email terdahulu yang terkait dengan pertanyaanmu itu.

Do your research first before asking question.

Bukan berarti kamu nggak boleh bertanya lho ya. Namun, kamu juga perlu ingat kalau kamu adalah seorang profesional yang dibayar untuk pengetahuan dan keterampilanmu. Jadi, bersikaplah profesional.

Kalau kamu sudah mencari dan tidak menemukan jawabannya atau nggak yakin dengan keputusanmu, bertanyalah. Setidaknya, saat bertanya, kamu tidak sedang meminta solusi instan, melainkan mengajak rekan kerja/atasanmu mendiskusikan opsi.

Beda lho, tanya karena mau jawaban instan dengan diskusi.

2. Tanya Ke Siapa, Kapan, dan Di Mana?

Ok, jadi kamu sudah dapat lampu hijau untuk bertanya. Pertanyaan berikutnya adalah tanya ke siapa ya? 

Saran saya untuk hal ini, sebaiknya kamu tanya dulu ke rekan kerja yang selevel denganmu. Kalau mereka nggak bisa jawab, barulah kamu pertimbangkan untuk bertanya ke atasan langsungmu. Ini yang namanya eskalasi.

Nah, sebelum mulai bertanya, ada baiknya juga kamu bertanya ke dirimu sendiri, "Kira-kira ada pertanyaan lain yang aku mau tanyain nggak ya?"

Kalau ada beberapa pertanyaan lain ke orang yang sama, tulis dulu semuanya lalu tanyakan. Jangan dikit-dikit nanya. Ingat, orang lain juga sama sepertimu...mereka punya masalahnya sendiri yang harus mereka selesaikan.

Be nice.

Selain itu, kamu juga perlu bijak dalam memilih waktu dan tempat yang tepat untuk bertanya. Coba tempatkan dirimu di posisi orang lain. 

Jangan pas orang lagi spaneng kamu datangi dan hujani dengan beribu-ribu pertanyaan, apalagi pertanyaan unfaedah yang kamu bisa temukan sendiri jawabannya kalau saja kamu mau repot sedikit.

Paling mudah untuk menilai apakah waktunya tepat untuk bertanya adalah dengan memperhatikan ekspresi wajah mereka. Kalau sudah jelas-jelas mimik wajahnya mecucu, ya jangan dulu deh. Atau setidaknya kalau nggak yakin, tanya dulu, Pak/Bu, bisa mengganggu sebentar?

Kamu juga pasti nggak suka kalau lagi spaneng diriwuki kan? Nah sama, orang lain juga.

3. Tata Pertanyaanmu

Di dalam komunikasi, cara kita menyampaikan sebuah pesan menentukan penerimaan orang lain terhadap pesan tersebut.

That's why, sebelum bertanya coba tata ulang pertanyaanmu supaya mudah dipahami orang lain. Coba gunakan formula ini dalam bertanya:

Pertanyaan saya (yang mau kamu tanyakan) + hasil riset (untuk menunjang pertanyaanmu)

  • Jangan tanya : Gimana cara ngerjain ini?"
  • Tapi tanya : Saya nemu cara ini dari internet, bisa nggak saya aplikasikan?"
  • Jangan tanya : Terus saya sekarang ngapain?
  • Tapi tanya : Saya berencana melakukan A, ada pertimbangan lain?
Selain memudahkan orang lain dalam memberikan jawaban, kamu juga kelihatan profesional karena kamu tahu apa yang harus kamu lakukan.

4. Tunjukkan Rasa Terima Kasihmu

Kalau sudah dibantu, jangan lupa tunjukkin rasa terima kasihmu karena mereka telah mau meluangkan waktu, perhatian, pikiran, dan tenaga mereka untuk membantumu menyelesaikan masalah yang sedang kamu hadapi.


Tanya itu nggak berdosa. Namun, kalau kamu mau berusaha sendiri dulu, hal itu dapat berdampak besar bagi produktivitasmu dan orang lain.

Mas Prim

Blogger, content writer & translator freelance. Text me if you need help with your text.

25 Comments

Share opini atau pengalaman kamu tentang topik tulisan ini di sini. Share juga tulisan ini temen-temenmu, jika menurutmu bermanfaat.

&Joy!

  1. Bener-bener ulasan yang cukup baik. Emang sebagai seorang pekerja/orang yang dibayar untuk skill dan kemampuan Kita, Kita perlu untuk mengukur dan menimang terlebih dahulu pertanyaan yang akan Kita sampaikan, memastikan bahwa hal tersebut sudah tepat dan disampaikan dengan tataan yang baik dan sesuai juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mas, sebagai seorang profesional kita perlu menempatkan diri sebagai partner untuk rekan/atasan kita. Kan kita ada untuk solving masalah perusahaan/organisasi, bukan menambahkannya.

      Boleh kok nanya, sah-sah aja dalam konteks memastikan apakah yang kita kira baik, memang baik dari sisi bisnis. Atau, setidaknya mendiskusikan opsi.

      Delete
  2. Bener juga, kadang agak jengkel kita ada yang tanya hal-hal sepele seperti "Bagaimana cara merubah ukuran cell pada excel", padahal kita sendiri sedang konsentrasi mengerjakan pekerjaan kita. Tapi ya secara profesional pun hal itu harus dijawab dengan baik. Yang susah itu menyembunyikan rasa jengkel sekaligus menjawab pertanyaan itu hehehhee...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa sih kalau mau dijawab, bentar ya, kalau memang kitanya lagi hectic banget. Atau kalau mau tega2an, minta ybs googling dulu.

      Delete
  3. Makasih mas Prim masukannya, kadang sadar kadang gak kalau udah menikmati ngobrol

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perlu belajar ngerem berarti ya Mbak Alvi.

      Delete
    2. Hu'um nih, tp kalau terlalu diem yaa dikira songong emmm taa lah

      Delete
    3. Ya jangan extreem to extreem juga sih mbak. Stay in the middle aja.

      Talk less do more bukan remain silent forever lho 😉

      Delete
  4. kalau aku sih tanya dulu kalau kurang jelas baru cek google atau tanya google dulu baru tanya atasan

    tapi gak semuanya ditanya sih biasanya yang penting aja dan emang butuh persetujuan,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Idealnya seperti itu mas Riza. Setidaknya ada effort untuk cari dulu jawabannya, ga ujug2 nanya trus minta solusi instan.

      Setidaknya dengan demikian obrolannya jadi lebih ke arah konsultasi or diskusi opsi.

      Delete
  5. Benar. Biasanya saya research dulu, kalau pas eksekusi mengalami kesulitan, baru bertanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyup, sebaiknya begitu. Jadi diskusi 2 arah, bukan ambil gampangnya aja (solusi instan).

      Delete
  6. Aku pernah ada di kedua posisi ini. Penanya dan ditanya. Waktu jadi penanya, memang harus lihat-lihat kondisi sih. Kalau orangnya lagi sibuk sebaiknya jangan diganggu. Sebaliknya ketika menjadi orang yang ditanya/narsum, ya usahakan menjaga hati jangan paai kesel dan jangan galakgalak hehe

    Btw terimakasih ulasannya mas
    Bikin nostalgia masa-masa ngantor dulu deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya itu kembali ke masalah kepekaan dalam melihat situasi ya mbak. Bahasa kerennya, empati.

      Delete
  7. Bener banget, Mbak. Poin pertama. Apalagi kita itu sekarang sudah serba mobile, serba pakai internet. Kita bisa cari info di buku atau internet dulu. Baru ketika ngga bener2 paham, bisa tanya

    ReplyDelete
  8. kalau di tempat kerja emang "beda" yaa, mbaa.. kudu tau diri, bisa membawa diri, dan pintar membaca situasi. apalagi kalau karyawan baruu.. aku belum pernah kerja kantoran tapi pengalaman magang dan baca2 cerita orang2 di twitter bikin aku jadi tau gimana kurang lebih suasana di kantor

    ReplyDelete
  9. Seni bertanya yang bermanfaat. Terutama buat sharing contoh ke anak-anak.

    Anak-anak ada momen, ketika bertanya justru saat orang tua sedang berbicara. Kan jadi susah fokus ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau sama anak-anak, biasanya treatmentnya agak beda. Soalnya ya we know lah, kids always want to have it their way.

      Delete
  10. Tulisan yang inspiratif
    Bertanya di tempat kerja sebenarnya nggak masalah ya mbak
    asal sebelumnya kita sudah cari tahu dulu
    baru deh, klo mentok ya tanya

    ReplyDelete
  11. Setuju banget, nih. Emang bener kalau gak tau tuh tanya, tapi ya nggak asal tanya. Hehe.
    Dari cara kita bertanya, orang lain juga bisa menilai kita seperti apa ya. Kalau orang suka ngriwuki (hihi keangkat nih bahasa Suroboyoan 😂) dengan pertanyaan-pertanyaan gak penting, orang lain (rekan kerja) pasti juga gak suka, ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha...wis podo2 Suroboyoan gpp mbak.

      Ya karena itu lah, kan ya sama-sama udah pada dewasa ya. Coba lah dewasa pula dalam memilih pertanyaan dan menanyakannya.

      Kalau dikit2 nanya, pertanyaannya balik lagi, ngapain kamu di sini. Ya nggak sih?

      Delete
  12. Aku baru kemaren hampir ribut sama teman kantor karena masalah statement di group kerja wkwkkw Mesti hati2 banget emang kalau ngetik sembari multitasking terus ngasi laporan 😆😆 Dan urusan bertanya ini emang bener2 crucial sih kak, setuju banget sama artikelnya. Suka sebel emang kalau nanya runtutan, atau pas baru meeting selesai, sewaktu dikasi kesempatan nanya ga ada yg nanya, pas udah clear mau lanjutin task lain tiba2 pertanyaan datang bertubi2. 😆

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seringnya yang nyebelin itu adalah mutu pertanyaannya dan cara blio menanyakan. Ya nggak?

      Delete
  13. Setuju banget, apalagi yang tanya hal sepele tentang gimana cara menyelesaikan kerjaannya. Kan ngenes, kalaupun belum tahu, sekarang kan jaman dunia digital. Atau melihat history kerjaan yang dulu, bisa banget dicontoh, atau malah dipoles biar makin oke.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, poinnya adalah bertanya untuk diskusi bukan meminta solusi instan.

      Delete
Previous Post Next Post