Hari ini saya belajar bahwa menyelesaikan sesuatu dengan cepat tak ada artinya bila dalam prosesnya serba terburu-buru dan gegabah.


Alih-alih cepat selesai, yang ada malah hasilnya tak sesuai ekspektasi atau menimbulkan masalah baru.

Ceritanya dimulai pagi ini ketika saya sedang dalam persiapan berangkat kerja.

Seperti biasanya sebelum mandi, saya bertugas untuk membersihkan rumah dan mengangkat ranjang (kebetulan kami tidak menggunakan dipan, jadi selesai tidur, ranjang selalu diangkat dan disandarkan ke dinding).

Nah, karena jam sudah menunjukkan pukul 06:15 saya pun mempercepat bersih-bersih saya dan mengangkat kasur supaya bisa segera mandi lalu sarapan.

Namun, celakanya ketika saya hendak mengangkat kasur, saya tidak melihat buku tentang dinosaurus Fabio yang tergeletak di lantai. Dan krakk...saya pun menginjak buku itu hingga halamannya sobek.

Oh tidak. Selain harganya yang tidak murah, buku itu juga merupakan buku kesayangan Fabio.

Dan seketika itu saya benar-benar merasa bersalah. Walaupun sempat muncul egoisme bahwa itu bukan salah saya, tapi salah Fabio yang meletakkan buku sembarangan. Namun, setelah beberapa saat, saya harus berbesar hati menerima kenyataan bahwa itu adalah kesalahan saya.

Lagipula, tak ada gunanya meributkan salah siapa bukan? Toh bukunya sudah sobek.

Saya lalu meminta maaf kepada Fabio karena telah merusak buku kesayangannya. Dan Alhamdulillah, ia mau memaafkan kesalahan saya.

Saya memang cukup beruntung memiliki anak yang baik dan mudah memaafkan seperti Fabio. Namun, saya juga punya PR untuk memperbaiki diri saya agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Terkadang cepat selesai tak berarti ketika hasilnya tak sesuai. Cepat juga harus tepat.