Bisa pulang ke rumah dan mengistirahatkan badan yang pegal dan linu setelah seharian dihajar habis-habisan oleh klien, rekan kerja, boss, hingga...anak buah, ternyata merupakan sebuah kemewahan.

Karena kenyataannya, sesampainya di rumah, ada hal-hal yang sudah menunggu untuk dikerjakan. Dari membersihkan rumah yang ditinggal seharian, mandiin anak, nyiapin makan malam, hingga cuci piring sebelum makan.

Ngebayanginnya aja udah capek duluan. Namun, itulah yang dilakukan istri saya setiap harinya.

Sometimes I wander, how could she do all that stuff.

Sebagai seorang wanita karir dengan seabrek-abrek masalah yang tanpa akhir di dalam pekerjaan, saya bisa memahami tekanan yang ia rasakan. 

Dan ketika itu pula di saat yang bersamaan, ia juga harus mengurus rumah beserta isinya (dari perabotan hingga 2  pria yang imut, menggemaskan dan mengesalkan.

Sejujurnya, saya tidak menuntut kesempurnaan darinya terkait pekerjaan rumah. Namun ia lah yang memaksa dirinya untuk selalu memberikan yang terbaik untuk saya dan Fabio.

Baginya, tampak seperti ada kepuasan sendiri saat berhasil menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah dan menyajikan yang terbaik.

Karenanya, satu hal yang paling saya khawatirkan adalah jika ia jatuh sakit ketika menyiapkan itu semua.

Jadi daripada blio sakit karena terlalu memaksakan diri, saya memutuskan untuk ikut mengerjakan pekerjaan rumah sebisa saya.

Lagi pula, toh itu rumah juga rumah saya, jadi sudah lumrah kalau saya turut serta merawatnya bukan? Anak, anak saya juga.

Saya memang benar-benar pria yang beruntung menikahinya. Semoga ia pun merasakan hal yang sama.

Melihatnya tertidur lelap seperti sekarang ini, damai rasanya. Semoga saja esok ia bangun pagi dengan penuh semangat...aammiin.

Jika ada satu kata yang mencerminkan tentang dirinya, maka kata yang tepat adalah Selfless.

Barakallahu untuk kamu istriku.