Terus kenapa marah kalau nggak dapat 'hadiah'?

Ramadhan sudah berlalu, apa kabar ibadahmu pasca Ramadhan? Masih konsisten kah dengan ibadah-ibadahmu kala Ramadhan? Atau jangan-jangan malah lebih intens dan berkualitas nih?

Apa pun itu, semoga saja kualitas dan kuantitas ibadah kita nggak malah merosot pasca Ramadhan ya (ngomong ke diri sendiri).

Anyway, ada sebuah cerita yang mau saya bagikan nih tentang niat.

Qadarullah, di bulan Ramadhan lalu saya dipertemukan dengan sebuah web tentang produktivitas yang dipadukan dengan aspek spiritual (in this case ajaran Islam).

Di salah satu videonya, saya belajar mengenai satu hal penting yang harusnya saya lakukan sejak dulu tiap kali hendak mengerjaka/melakukan sesuatu, baik di kantor, di rumah, dll, yaitu NIAT.

Sebagaimana kita tahu bahwa kita memiliki 2 tugas utama di dunia ini. Yang pertama adalah untuk beribadah pada Allah SWT. Kemudian dilanjutkan dengan menjadi khalifah atau pengelola di muka bumi.

Ibadah sendiri pengertiannya tidak sebatas sholat, mengaji, dan aktivitas spiritual lainnya. Melainkan seluruh aktivitas dan kegiatan kita semuanya ibadah. Pertanyaannya, sudahkah kita memulai aktivitas kita dengan meniatkannya sebagai ibadah lillahi ta'ala?

Dulu, saat masih Ramadhan, Alhamduliah, saya cukup dimudahkan untuk meniatkan aktivitas harian saya sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT.

Pikir saya sih sederhana saja, semua peran dan tanggung jawab yang saya emban, baik sebagai suami, ayah, dan profesional merupakan amanah Allah SWT yang harus saya jaga dengan cara mengerjakan tugas di setiap peran saya sebaik-baiknya.

Sebagai suami, saya bahu membahu mengurus pekerjaan rumah tangga dengan istri saya, lillahi ta'ala.

Sebagai ayah, saya berusaha mendidik dan merawat Bio agar ia tumbuh sesuai fitrahnya, lillahi ta'ala

Sebagai seorang profesional, saya berusaha mengerjakan tugas-tugas dari atasan sebaik-baiknya tanpa melebihi tenggat waktu yang sudah ditentukan.

Kurang lebih seperti itulah arti ibadah buat saya.

Trus Kenapa Mesti Marah?

Namun, walaupun begitu mulia niat awalnya...menjaganya tetap lurus itu nggak mudah.

Di rumah, walaupun sudah diniatkan untuk mengurus pekerjaan-pekerjaan rumah tangga lillahi ta'ala, nyatanya saat ada saja hal yang tak berjalan sesuai ekspektasi atau tidak menerima apresiasi yang (saya anggap) layak, dongkol jadinya.

Di kantor, ketika lagi-lagi tak ada apresiasi atas keberhasilan menyelesaikan tugas atau proaktif saya dalam membantu rekan kerja...as a team. Dongkol lagi.

Bahkan ketika postingan di blog tak seramai harapan (meski sudah diniatkan untuk ibadah), masih aja mangkel.

Jadi sebenarnya niatnya ibadah mencari ridlo Illahi atau cari apresiasi sih?

Lah ini.

Ya niatnya sih ibadah, tapi apa daya masih perlu belajar banyak untuk mengelola emosi yang suka naik-turun macam rollercoaster.

Bagaimana denganmu? Sudah kah kamu meniatkan aktivitasmu lillahi ta'ala dan menjaganya tetap begitu hingga selesai 'masa tugas'mu sesuai ekspektasi?