Kompromi Perintah Agama Atas Nama Kemanusiaan


Beberapa waktu lalu, saya sempat melihat WAS seorang teman yang menyampaikan keresahannya setelah menonton sebuah video yang menurutnya, salah kaprah dan bisa menimbulkan disinformasi untuk umat Muslim, terutama yang belum mendalami ilmu agama seperti saya.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Qadarullah, 2 hari lalu, saya tanpa sengaja melihat sendiri video yang dimaksud oleh teman saya itu. Dan, masya Allah, setelah menonton video tersebut, jujur saya jadi geram sendiri. Namun setelah itu, saya juga jadi pikir-pikir juga sih.

Jalan Cerita

Ceritanya dimulai ketika seorang pria memasuki lift yang di dalamnya ada seorang wanita muslim yang mengenakan niqab.

Pria itu tampak sedikit terkejut tapi tetap masuk ke dalam lift dengan sedikit kikuk. Sementara itu si wanita tetap diam di sudut lift tanpa melihat si pemuda.

Lalu sebagaimana alur standar sebuah cerita, muncullah masalah yaitu saat lift tiba-tiba macet, berhenti di tengah jalan.

Si pemuda yang panik, mencoba untuk menekan tombol darurat hingga berusaha membuka paksa lift dari dalam. Namun semua usahanya itu sia-sia.

Akhirnya ia memutuskan untuk duduk di sudut lift berseberangan dengan si wanita yang tetap diam.

Karena haus, pemuda itu mengambil botol minuman dari tasnya dan meneguk air mineral tersebut. Kemudian ia menyodorkan botol itu ke sang wanita yang tetap diam.

Pemuda itu pun meletakkan botol minuman tersebut di lantai lift di antara mereka.

Akhirnya wanita itu mengambil botol minuman tersebut dan mengangkat niqabnya lalu meminumnya. Dan keanehan pun dimulai, ketika sang wanita tampak menunjukkan hidung, mulut dan lehernya ketika menyingkap niqabnya untuk meminum air.

Lalu, mendadak lampu lift padam. Dan ketika lampu menyala, kaki sang pemuda berdarah-darah. Pemuda itu berusaha meraih sesuatu dari dalam tasnya untuk membalut lukanya, tetapi tak mendapatkan apa yang ia cari.

Dan, sang wanita lalu mendekati pemuda itu, membuka niqabnya untuk membalut luka si pemuda. Kini wajah wanita cantik itu terpampang jelas tanpa niqab yang sedari tadi menutupi.

Atas Nama Kemanusiaan?

Caption dari video ini adalah, jangan menilai seseorang dari agamanya. Dan dari jalan cerita yang ditunjukkan dalam video ini, ada sebuah pesan kemanusiaan yang ingin disampaikan si pembuat video.

Mungkin pesan yang ingin disampaikan adalah kemanusiaan adalah yang utama. Karenanya ketika di adegan si pemuda berdarah-darah, walaupun tak parah, bolehlah seorang wanita muslim 'mengorbankan' niqabnya untuk digunakan sebagai perban, atas nama kemanusiaan.

Ya, apa yang dilakukan wanita itu sungguh-sungguh manusiawi. 

Kesimpulannya, kemanusiaan patut diutamakan di atas segalanya...termasuk mungkin, perintah agama.

Kesan pertama saya setelah menonton video ini adalah, video ini totally bullshit. Saya bahkan sempat dengan penuh emosi, hendak membubuhkan komentar pedas.

Namun, Alhamdulillah saya tidak melakukannya.

Alih-alih saya mencoba untuk berpikir tentang apa yang baru saja saya tonton itu. Dan sejujurnya, hal-hal seperti itu kerap saya alami, mengkompromikan perintah agama atas nama kemanusiaan.

Dan, saya langsung teringat pada kisah Nabi Ibrahim A.S., dan betapa 'tidak manusiawinya' perintah-perintah ﷲ untuk beliau. 

Mulai perintah untuk meninggalkan Siti Hajar bersama bayi Ismail di tengah gurun tandus tanpa air dan makanan, hingga...perintah untuk menyembelih Ismail A.S, putra yang sangat ia sayangi.

Seandainya saja itu media sosial sudah ada, tentunya para 'aktivis dan pengamat' kemanusiaan tentu sudah menciptakan meme-meme hingga status update yang mengecam tindakan Nabi Ibrahim A.S.

Tindakan yang amat sangat tidak menjunjung tinggi kemanusiaan.

Atau mungkin ada yang ingat kisah tentang Nabi Khidir A.S dan tindakan-tindakan tak manusiawinya ketika diperintahkan ﷲ membagikan pengetahuannya kepada Musa A.S? 

Mulai melubangi kapal hingga membunuh anak kecil. Tentu saja hal itu lebih dari cukup untuk mengantarnya mendekam di penjara karena berbuat tak manusiawi.

Menonton video tersebut kemudian merenungi kisah-kisah para nabi, membuat saya sampai pada kesimpulan bahwa saya sungguh sangat beruntung.

Ya, saya beruntung tidak dipilih untuk mengemban tugas sebagai nabi dan rasul. Bagaimana mungkin saya akan mampu menjalankan tugas seberat itu.

Saya beruntung, saya bukan Nabi Ibrahim yang diperintahkan untuk meninggalkan istri dan anak, lalu menyembelih anak yang saya sayangi. Karena tentu saja, saya pasti tidak akan mampu melakukannya.

Saya beruntung yang harus saya lakukan sebatas meneladani kisah-kisah para Nabi dan Rasul, mengamalkannya, mengajarkannya tanpa harus menjalaninya sendiri. Ampun deh kalau harus menjalani.

Bukan Soal Kemanusiaan

Terkadang dengan mengatasnamakan kemanusiaan, kita melupakan sesuatu yang esensi seperti, perintah Sang Rabb yang, tak bisa dikompromi.

Bagi wanita, perintah menutup aurat itu bukan sekadar nasehat orang tua, melainkan perintah agama. Means that, kalau kamu beragama, ya lakukan perintah itu.

Bukan lalu karena mengedepankan kemanusiaan, lalu kamu menanggalkan hijab/niqab-mu.

Dan sampai pada tahap ini, saya pun jadi tertampar sendiri. Betapa seringnya saya mengkompromikan perintah agama atas dasar kemanusiaan...hmm, mungkin lebih tepatnya, urusan keduniawian.

Mulai terlibat dalam transaksi riba, menunda (bahkan meninggalkan) sholat karena ada 'urusan yang lebih penting', hingga enggan melaksanakan sunnah Rasulullah SAW dengan dalih "Itu kan Sunnah".

Padahal ngakunya beragama, berikrar kalau tiada Tuhan selain ﷲ dan Muhammad adalah utusan ﷲ, tetapi realitanya dalam tindakan kok masih seperti ini? Jauh panggang dari api.

Video ini sedikit banyak telah mengingatkan saya tentang skala prioritas dalam kehidupan. Perintah siapa yang harus diutamakan dan didahulukan. 

Ternyata masih banyak PR yang harus saya selesaikan.

***

CATATAN
Saya sengaja tidak membagikan tautan video ini di tulisan ini dengan pertimbangan, tampaknya akan lebih banyak mudharatnya daripada faedahnya.

Mulai dari memantik emosi orang-orang yang turut menonton video ini, hingga menguntungkan si pembuat video dengan menambah statistik video tersebut dibagikan.

Kalau kamu tahu/pernah lihat video yang saya maksud, tidak perlu membagikan tautannya di sini. Cukup disimpan sendiri saja.

Mas Prim

Blogger, content writer & translator freelance. Text me if you need help with your text.

Post a Comment

Share opini atau pengalaman kamu tentang topik tulisan ini di sini. Share juga tulisan ini temen-temenmu, jika menurutmu bermanfaat.

&Joy!

Previous Post Next Post