Ternyata Saya Bukan Seth Godin

Salah satu hal yang membuat seorang bloger stand out dibanding bloger lainnya adalah style menulis mereka. Cara mengemas sebuah informasi, sudut pandang yang digunakan hingga pemilihan tata bahasa yang membuat tulisan mereka semakin hidup.

Ada banyak bloger yang menjadi role model saya dalam ngeblog. Mulai The Minimalists, Leo Babauta, Jeff Goins hingga Agus Mulyadi.

Dan salah satu yang bloger yang juga inspiring buat saya adalah Seth Godin, seorang bloger yang banyak membahas tentang marketing dan bisnis.


Satu ciri khas yang menjadi style tulisan-tulisan Seth Godin adalah singkat dan to the point.

Kalau kamu pernah belajar tentang kaedah SEO dalam menulis sebuah blog post, dari pemilihan keywords hingga jumlah kata, kemudian kamu bandingkan dengan apa yang Seth lakukan dengan blognya, kamu akan tercengang.

Tulisan-tulisan Seth sangat jauh dari kaedah penulisan SEO. Namun, engagement para pengunjung blognya membuat kita yang pernah belajar SEO jadi gigit jari.


Meniru Strategi Seth Godin

Sebagai bloger kemaren sore yang masih mencari jati diri, saya pun tergelitik untuk meniru apa yang Seth lakukan dengan blognya.

Tulisan pendek, to the point, tanpa gambar...no ribet lah pokoknya.

Dan hasilnya sungguh-sungguh membuat saya terbelalak. Ternyata nggak ada sama-samanya dengan apa yang Seth hasilkan dengan style blio. Alih-alih trafik meroket, yang ada malah makin sepi pengunjung.

Bukannya semangat, yang ada malah sedih.

I'm Not Seth

Menurut kalian, apa yang salah? Saya melakukan yang blio lakukan, tapi kok trafiknya bukannya nambah, malah makin tiarap.

Ada banyak faktor, tapi satu yang cukup jelas adalah, saya bukan Seth Godin

Saya suka mengunjungi blog Seth, terinspirasi dari tulisan-tulisan blio. Namun, saya bukan Seth. What works for him doesn't works well for me.

Saya perlu mencari style saya sendiri. Sesuatu yang nyaman buat saya untuk membuat blog post ala Prima.

Ya, mungkin ini yang dimaksud mantan boss saya dengan, ikuti resep tapi gunakan juga lidahmu.


Sama halnya seperti baju. Baju yang bagus saat dipakai si A, belum tentu cocok dan bagus ketika kita kenakan. Jadi, daripada memaksakan diri supaya pas sama bajunya, kenapa nggak cari baju yang pas sama badan kita aja bukan?

Menurutmu bagaimana?

Mas Prim

Blogger, content writer & translator freelance. Text me if you need help with your text.

12 Comments

Share opini atau pengalaman kamu tentang topik tulisan ini di sini. Share juga tulisan ini temen-temenmu, jika menurutmu bermanfaat.

&Joy!

  1. Betul banget, Mas. Kalau berpretensi menjadi penerus sangat mungkin kita akan terjebak pada gaya orang, termasuk passion atau gaya menjalani hidup--yang boleh jadi sebenarnya ga cocok buat kita walau terlihat oke. Saya juga kagum sama Seth, tapi lebih suka mengikuti sesi wawancaranya di Youtube. Omong-omong saya pun mau rilis blog baru lagi, cocok tidak ya pakai gaya Godin? Hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau di salah satu tulisan yang pernah saya baca sih, mending jangan Mas, standar SEO aja lah, soalnya kalau nuruti Seth ini, bisa-bisa gigit jari.

      Delete
  2. Mantap nih role model-nya mas prim. Walaupun kita bukan tipe-tipe Seth Godin, tapi tulisan mas Prim renyah dan to the poin juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, terima kasih apresiasinya Mas.

      Delete
  3. "ikuti resep tapi gunakan juga lidahmu." >>> saya berusaha akan pegang prinsip ini, Mas Prim. Salam kenal dari Nenek ndeso.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal mbah 😅
      Semoga ga bosen mampir di mari ya.

      Delete
  4. wah tulisan yang menarik nih Mas, aku malah baru tahu Seth Godin hehe, maklum masih nubie

    aku juga sama Mas, beberapa waktu lalu banyak temanku yang mencoba ngeblog minimalis dengan hanya memfokuskan tulisan tanpa perintilan ilustrasi atau apa...aku iseng cobain ternyata ga cocok di aku yang biasanya emang nulis panjang (malah cenderung berantakan dengan bahasa suka suka dan segambreng foto)..akhirnya aku balik lagi ke style nulisku yang menurutku zona nyamanku aja...meskipun mungkin bagi penganut tulisan minimalis dan to rhe point tulisanku ga masuk hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya itu tadi mbak, gpp ikuti resepnya, tapi gunakan juga lidah kita. Jadi nggak niru mentah2 apa yang orang lain lakukan. Simply put, we are different, dan bisa jadi kita punya cara kita sendiri yang sesuai dan most of all, works for us.

      Bukan begitu?

      Delete
  5. Betul banget mas, tapi kadang setiap kata demi kata yang ada dalam artikel saya pun masih banyak yang mungkin belum benar dalam penulisannya. Tapi selama pandemi ini jadi banyak belajar dari orang-orang, dengan menjelajah ke berbagai destinasi blog hha.

    Seth Godin nya luar ini kalau dari saya sendiri mirip seperti Mas Darmawan yang ngeblog di panduanim ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau mas Darmawan itu lebih mirip Neil Patel sih menurutku. Artikel2nya detil banget soalnya.

      Delete
  6. Setujuuuuuu :D. Aku udah lama ga tertarik lagi Ama semua kaidah2 SEO itu mas. Sekarang ini, yg penting menulis aja sesuai hati lah. Konten tetep penting, tapi aku ga mau terikat Ama aturan2 yg malah mengekang tulisan.

    Walopun kadang bingung, kenapa tulisan2 temen blogger yang di Malaysia pendek2, tapi ramai engagement. Cuma skr ini, udahlah, stress sendiri kalo mikirin itu :D. Tulisan panjang, pendek, pakai SEO atau ga, yang penting buatku menulisnya puas :D.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan yang terpenting tulisan2 mbak Fanny itu selalu ngilerin bin mupengin, ya bahasa marketingnya itu....hmm, provokatif? 😅

      Delete
Previous Post Next Post