Hey kamu yang baru saja mengucap janji suci di depan pak penghulu beserta para saksi, selamat menempuh hidup baru ya. Semoga rumah tangga kalian, samawa.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Kehidupan pernikahan merupakan sebuah babak baru, literally new, yang penuh dengan misteri. Sebuah babak di mana ekspektasi dan realita seringkali tak akur, tantangan demi kejutan yang rajin menghampiri, menguji tangki kewarasan berdua yang sudah hampir kering.

Setidaknya itu yang saya alami selama +/- 7 tahun menjalani rumah tangga bersamanya.

Di dalamnya saya benar-benar belajar memahami bahwa pernikahan adalah, place where we fight together and to each other at the same time.

Apakah keluarga kami samawa? Hmm...mari kita tengok sejenak, makanan apa sih samawa itu.

Rumah Tangga SAMAWA

Secara harafiah samawa terdiri dari tiga kata: sakinah, mawaddah dan wa rahmah, yang memiliki arti sebagai berikut:
  • Sakinah, memiliki arti kondisi yang membuat seseorang terlindungi sehingga merasa damai, tenang dan tenteram.
  • Mawaddah, memiliki pengertian saling mencintai, saling menasehati dan saling menghargai satu sama lain.
  • Wa Rahmah, bermakna kasih sayang.
Jadi, seperti apa dong penampakan rumah tangga yang samawa itu? Apakah rumah tangga samawa itu instagramable seperti yang ditampakkan oleh public figures di IG mereka? 

One thing for sure, foto keluarga yang sama-sama tersenyum, nggak automatically berarti keluarga itu bahagia or samawa lho. As a matter of fact, tiap rumah tangga bisa jadi punya gambaran sendiri tentang samawa versi mereka. 

Namun, pertanyannya, setelah keluarga samawa yang diidamkan itu sudah diraih, and then what?

Anggaplah rumah tanggamu membuatmu dan seluruh anggota keluargamu merasa damai, tentang dan tenteram (sakinah), saling mencintai (mawaddah) dan penuh kasih sayang (wa rahmah), trus?

Menikah Itu Wasilah, Tujuannya Lillah


Saya mau mengutip quote dari Kang Dewa, salah seorang pebisnis muslim yang cukup femes di dunia bisnis online berikut ini:

Bisnis itu wasilah (jalan), tujuannya  Lillah (Dewa Eka Prayoga)
Kalau kutipan itu dipelintir sedikit, kita ganti kata bisnis dengan pernikahan, maka bukankah pernikahan itu adalah wasilah yang tujuannya tak lain dan tak bukan adalah Lillah?

Jadi, sekarang coba sih kita tanya ke diri masing-masing dulu (jangan buru-buru nanya pasangan, intropeksi dulu aja), sebenarnya kita menikah itu buat apa sih? 

Apakah karena cinta? Sebatas menghalalkan hubungan? Ingin punya anak? Atau, ya dari pada nganggur sendirian tiap weekend

Karena pernikahan itu adalah sebuah kendaraan. Nah, kendaraannya ini mau dibawa ke mana itu kan tergantung kemauan dan kemampuan si pengemudi, navigator beserta seluruh kru di dalamnya.

Took me couple years to realize, bahwa pernikahan yang saya jalani bersamanya itu seharusnya adalah sebuah kendaraan menuju Glorious Purpose kami, yaitu semakin mendekatkan diri kepada-Nya.

Teman saya melalui salah satu WA Story pernah membuat satu postingan yang mengubah cara pandang saya tentang kesuksesan. Di situ dia bilang, kalau parameter kamu sukses atau tidak, itu bukan dari sebanyak apa materi yang kamu bisa kumpulkan. Namun, sukses itu terlihat dari sedekat apa sih kamu dengan Rabb-mu setelah kamu berhasil meraih this so called success.

Sama halnya dengan membangun rumah tangga. Sukses atau tidaknya rumah tanggamu itu, bisa kamu ukur dari sedekat apa sih kamu dengan-Nya setelah menikah?

Kalau sebelum menikah, sholat cuma 2x setahun pas hari raya, terus sekarang bisa sholat 5x sehari ditambah sholat sunnah, mungkin itu lebih baik untuk dijadikan parameter kesuksesan rumah tanggamu bersamanya.

Intinya, setelah menikah, makin dekat sama Allah nggak? Makin cinta sama Rasulullah dengan mengamalkan sunnah-sunnahnya nggak? 

2 Elemen Penting Di Dalam Rumah Tangga

Semoga ocehan singkat di atas, bisa jadi wawasan sekaligus pengingat buat kamu, iya kamu (sambil ngaca), yang udah nikah puluhan purnama tapi masih suka insecure sama rumah tanggamu.

Oke, trus kalau sudah tahu bahwa pernikahan adalah wasilah menuju Lillah, lalu bagaimana nih caranya biar rumah tangga yang kita bangun makin mendekatkan diri pada-Nya?

Ada 2 elemen yang menurut saya penting untuk dimiliki setiap rumah tangga yaitu, kalian harus punya:
  1. Rumah dan;
  2. Tangga

1. Rumah

Sesuai filosofinya, rumah adalah sebuah tempat bagi kalian untuk berlindung dari terik matahari maupun dinginnya hujan. Sebuah tempat permulaan dan akhir bagi setiap aktivitas kalian.

Rumah itu, lebih dari sebuah bangunan dari kayu dan batu (plus semen, besi, dll) yang terdaftar di Kartu Keluarga. Namun, rumah adalah tempat di mana hati kita berada, karena itu ada istilah, home is where the heart is.

Bangunlah rumah yang kokoh dari pondasi yang tak nampak, hingga eksterior yang saat kalian memandangnya, mengingatkan kalian pada karunia-Nya yang tak terhingga mulai dengan siapa kalian tinggal di dalamnya, hingga momen-momen yang kalian ukir bersama-sama.

Gelak tawa kebahagiaan saat menyambut kedatangan anggota baru, tangis kesedihan saat ketetapan-Nya menguji kesabaran kalian.

Jadikan rumah kalian, sebagai tempat terbaik mengawali hari untuk menjemput rizki seperti yang Ia perintahkan. Dan, tempat yang nyaman dan hangat untuk mengistirahatkan tubuh dan hati yang lelah dan terkoyak dalam ikhtiar kalian membangun masa depan bersama.

2. Tangga

Tangga dibuat agar kita mampu beranjak ke tempat yang tinggi. Di dalam rumah tangga, kalian perlu memiliki sebuah tangga yang cukup kuat dan tinggi, agar bersama-sama, kalian bisa menyampaikan doa dan harapan kalian pada-Nya Yang Maha Tinggi.

Namun, saat asyik menaiki tangga tersebut, jangan pernah lupa kalau tangga itu seharusnya dinaiki bersama.

Jika salah satu dari kalian lebih handal dalam menaiki satu per satu anak tangga, sesekali tengoklah ke bawah, dan pastikan mereka yang mungkin takut ketinggian, atau ragu menaiki tangga tersebut juga ikut memanjat bersamamu. Jangan pernah tinggalkan mereka, karena berada di puncak seorang diri, mungkin menyenangkan, tapi rasanya pasti beda jika mereka yang kamu cinta mendampingimu sepanjang perjalanan dan pada akhirnya menemanimu di puncak.

Memandang keindahan cakrawala bersama mereka yang kita cintai, tentu akan lebih membahagiakan daripada menikmatinya dalam kesendirian.

Jika memang diperlukan, kamu boleh kok melambat atau bahkan turun sejenak. Ajak dan ajari mereka bagaimana cara memanjat, lalu panjatlah bersama-sama. 

Terkadang di dalam sebuah perjalanan, bukan ke mana tujuannya yang penting, tapi bagaimana dan dengan siapa kita menjalaninya.

Penutup

Pernikahan adalah sebuah jalan menuju ridha-Nya. Semoga rumah tangga yang saat ini kalian bangun diberkahi dengan cinta dan kasih sayang, yang akan menguatkan kamu beserta pasanganmu dalam petualangan kalian menggapai surga-Nya. 

As a couple you surely will, fight together and sometimes...to each other.

Doa terbaik untuk kalian sekeluarga.