Asalamualaikum blogers! Apa kabar kalian hari ini? Semoga kita semua selalu diberi kekuatan dan kesehatan, pun demikian dengan orang-orang yang kita cintai ya.

Di postingan kali ini, saya sebatas mau share aja sebuah cerita sederhana tentang akhir pekan saya bersama keluarga.

Tidak ada tips dan trik di postingan kali ini, I simply share my story with you all.


Jadi, awalnya di weekend kali ini, rencana saya hanya sebatas Lari Depan Rumah (LDR) di pagi hari. Ya buat seneng-senengan aja sembari  cari keringet.

Malamnya, saya mencoba mengunduh dan memasang aplikasi running tracker di ponsel. Jadi kita bisa sama-sama tahu tuh, berapa kilometer jarak yang akan kami tempuh besok.

Pas lagi cari-cari running app, kebetulan saya nemu aplikasi yang dulu pernah saya gunakan waktu masih rajin lari pagi.


Saya coba mendaftar akun, tetapi ternyata email yang saya gunakan sudah pernah saya daftarkan. Alhasil saya pun log in dengan email tersebut dan hanya mengganti password, karena password saya yang lama dianggap kurang kuat karena tidak ada kombinasi huruf kapital dan angka.

Singkat cerita, saya pun berhasil masuk dan yang membuat saya surprise adalah, di aplikasi itu, masih tersimpan catatan 'pelarian' saya sejak 2016.

Salah satunya adalah catatan lari saat saya dan almarhum kakak, ikut serta dalam sebuah lomba lari 10K. Sejenak ingatan saya kembali ke momen tersebut, saat kami sama-sama menutup perlombaan (walaupun nggak menang) sebagai finisher.


Quiet nostalgic memang melihat kembali foto lama dan mengenang masa itu. Sebuah gambar memang mampu berbicara lebih banyak dari kata-kata 😊.

---

Keesokan paginya, selepas sholat Shubuh, saya melakukan rutinitas pagi saya mem-vacuum seisi rumah dan menyapu teras. Lalu, saya memanggil Fabio beserta Ibu Negara untuk bersiap lari pagi.

Tak lama kemudian, setelah saya siap dengan outfit running saya, saya pun ke luar rumah. Sambil menunggu 2 kontestan lainnya, saya mulai saja LDR pagi itu sekalian testing kinerja aplikasi lari saya.

Beberapa waktu kemudian, setelah menyelesaikan jarak tempuh 0.60 km, Fabio keluar dan mulai ikut berlari.

Sebagai seorang mantan finisher 10K, menyelesaikan kurang dari 1 km dengan nafas ngos-ngosan benar-benar sebuah kontradiksi hahaha... 😅.

Tampaknya harus mulai jaga kondisi dan stamina lagi nih.

Sembari menemani Fabio dan Ibu Negara, artinya saya harus menempuh 1x lagi rute LDR. Dan, kali ini saya berhasil menyelesaikan jarak tempuh yang lebih baik dibanding sebelumnya, yaitu 0.61 km 😁.

Capek setelah playonan, kami pun masuk ke rumah untuk beristirahat. Lalu entah gimana ceritanya, Ibu Negara ngajakin untuk sama-sama melakukan Senam Pinguin


Seru sih melakukan senam pinguin ini. Kami tertawa sama-sama sembari melakukan gerakan demi gerakan dalam senam pinguin ini.

Karena durasinya cuma 2 menitan, kami pun melakukan senam pinguin 1x lagi.

Tidak selesai sampai di situ, selepas senam pinguin kami mengadakan perlombaan memasukkan spidol ke dalam botol dan balapan bola pingpong.


Dalam lomba pertama, memasukkan spidol ke dalam botol, Ibu Negara berhasil keluar sebagai pemenangnya setelah di final mengungguli Fabio yang sebelumnya menyingkirkan saya dari kompetisi.

Kemudian, saat balapan bola pingpong lagi-lagi saya harus menelan pil pahit karena tersisih di babak awal oleh Fabio. Akhirnya, Fabio pun berhasil menjuarai balapan ini setelah mengungguli Ibu Negara di babak final.


Setelah semua keseruan itu, sebuah lomba terakhir digagas Ibu Negara, yaitu mencabut rumput. Pemenang lomba ini adalah ia yang berhasil mencabut rumput paling banyak.

Dan kali ini, berbekal pengalaman sebagai Grass Officer selama 4 tahun di rumah, saya pun berhasil mengalahkan Fabio dan Ibu Negara 🤭.


Ya setidaknya saya berhasil membawa pulang 1 medali emas dalam olimpiade kali ini. Not bad lah ya.


Penutup


Jadi, itulah keseruan akhir pekan kami. Satu hal yang masih jadi PR besar saya dan Ibu Negara adalah mengajarkan Fabio untuk bisa legowo menerima kekalahan, menyikapi kekalahan dengan bijaksana.

Satu hal yang pasti, momen kebersamaan ini menjadi sangat menyenangkan ketika kami semua fokus di dalam aktivitas-aktivitas ini tanpa dikit-dikit ngecek hape.

Last but not least, saya bersyukur sekali bisa merasakan momen seperti ini bersama keluarga, setelah 1 pekan berkutat dengan kesibukan pekerjaan beserta seluruh dinamika di dalamnya.