Duduk manis di depan layar komputer, laptop, ponsel atau buku tulis, tetapi nggak tahu mau nulis apa tuh rasanya...painful. Hanya ada kamu dan kursor yang terus berkedip.

Joyko

Dulu, sebelum saya mulai aktif nulis di blog, saya tuh nggak pernah lho ngalamin yang namanya writer's block atau sebut saja running out ouf juice of ideas. Entah kenapa, setelah rajin nulis di blog, lah kok mulai ikut-ikutan kena this so called writer's block saat hendak menulis.

Aneh toh ya? Hehehehe... .

Memang setiap hal itu ada tantangan dan rintangannya sendiri. Untuk dunia kepenulisan, writer's block tampaknya merupakan salah satu momok yang cukup menyebalkan untuk penulis, tak terkecuali bloggers.

Sudah banyak blogger yang membahas pengalaman menghadapi writer's block hingga berbagi solusi cara untuk mengatasi writer's block, salah satunya dengan kopi

Di postingan ini, saya mau berbagi salah satu cara yang sedang saya coba seminggu ini untuk mengatasi writer's block dari mengganggu proses penulisan saya, yaitu dengan menggunakan Editorial List.

Menangkap Si Ide

Sebenarnya menulis itu mudah jika kita, tahu apa yang mau ditulis. Betul nggak? Masalahnya ketika writer's block datang, kita udah nggak tahu lagi mau nulis apa. Ya nggak sih?

Nggak ada ide lagi, katanya.

Saya sendiri dan makhluk bernama ide ini seringkali main kucing-kucingan. Giliran saya lagi nggak bisa nulis, misalnya lagi nyetir, eh kok didatengin. Udah gitu, datengnya ngajak temen pula. Sehingga saya jadi orang kaya ide mendadak.

Masalahnya, waktu itu kan situasi dan kondisi saya lagi nggak nulis mode : On. Akhirnya, momen itu segera berlalu dengan ide yang menguap begitu saja tanpa pernah menjejak di media penulisan saya.

Sebaliknya, ketika saya sedang duduk manis di depan laptop, ibu negara dan Fabio udah bobok, dan saya pun ada dalam kondisi siap nulis, anak ini (Ide) malah ngelayap nggak tahu ke mana. Dipanggilin nggak nyahut-nyahut.

Dan, di situlah saya, duduk di depan laptop menyala, saling beradu pandang dengan si kursor yang mulai jengah karena terlalu lama menunggu huruf pertama dari saya.

Begitu seterusnya saya dan ide selalu main kejar-kejaran.

Menggunakan Notebook Untuk Menangkap Ide

Karena lelah dengan permainan kejar-kejaran ini, saya mencoba untuk melakukan pendekatan berbeda kepada si Ide ini. Saya merasa anak ini ogah datang pas saya udah siap nulis, karena setiap kali dia datang dan bercerita, saya terlalu asik menikmati ceritanya, tanpa pernah menuliskannya.

Jadi, mungkin dia...ya, nesu sama saya.

Karena itulah, saya mencoba berdamai dengannya. Caranya dengan menuliskan poin-poin penting dari cerita yang dia sampaikan saat menghampiri saya di sebuah note book.

Note Book Saku Untuk Menangkap Ide
Saya lebih suka menggunakan note book ukuran saku karena lebih ringkas dan lebih bisa diandalkan dibandingkan dengan menggunakan catatan digital seperti aplikasi notes di ponsel.

Maksudnya kalau menggunakan note book, saya bisa lebih bebas dalam mencatat ide tulisan. Nggak melulu harus dalam bentuk teks. Namun, bisa juga dengan menggambar diagram, flow, atau bahkan mencoret-coretnya dengan cepat.

Hal ini yang kurang bisa saya lakukan dengan produk digital.

Cara Saya Mencatat

Catatan atau mungkin lebih tepatnya oret-oretan saya ini berfungsi juga sebagai editorial list untuk tulisan-tulisan saya dalam 1 minggu ke depan.

Jadi, singkatnya seperti ini cara saya menggunakan notebook untuk mencatat ide dan sekaligus menyusun editorial list untuk seminggu ke depan:

1. Brainstorming

Di sini, apa yang saya lakukan sesederhana duduk dan mengeksplorasi ide-ide tulisan saya selanjutnya. Biasanya lesson learned dari keseharian saya di rumah, di kantor, maupun saat di jalan melihat hal-hal menarik, atau inspirasi saat scrolling sejenak di media sosial.

Pada langkah ini, saya tidak mau terlalu mengekang ide yang masuk dengan membuang ide-ide yang tidak sejalan dengan blogging value saya. Tidak, pada tahapan ini saya membebaskan pikiran saya untuk seliar mungkin dengan ide-ide tulisan saya.

Tujuannya adalah untuk mengumpulkan sebanyak mungkin amunisi yang diperlukan untuk membuat postingan yang nggak sekedar memuaskan nafsu menulis saya, tapi juga helpful untuk pembaca blog ini.

Untuk proses brainstroming ini, saya mencoba untuk lakukan seminggu sekali ketika weekend. Namun, nggak menutup kemungkinan juga ketika kapan pun ide datang, saya akan tambahkan di note book saya, walaupun hanya sebaris atau dua baris.

You'll never know apa yang bisa dihasilkan dari beberapa baris kata sampai kamu menuliskannya.

2. Tulis semuanya

Semua ide harus ditulis, bahkan detil sekecil apapun seperti quote yang akan digunakan, tautan ke artikel/blog lain (internal maupun eksternal), ide gambar ilustrasi, ide infografis, dll.

Tujuan menuliskan semua ide yang datang seperti apa pun bentuknya adalah untuk meringankan kerja otak kita. Daripada pas mau nulis kita paksa si otak untuk kerja keras mengingat-ingat kembali ide-ide yang pernah ada, akan lebih bijak kalau kita manfaatkan otak untuk mengeksekusi ide-ide yang sudah ada.

Karena itu, tuliskanlah, gambarlah, corat-coretlah. Do whatever you think you need untuk menyiapkan amunisi tulisanmu.

3. Tutup dan tinggalkan

Selesai dengan ide-ide tulisan sekitar 5-8 ide tulisan, saya akan tutup note book tersebut dan mengerjakan aktivitas lainnya. Nggak perlu saya buru-buru eksekusi menjadi sebuah blog post.

Setidaknya saat saya menulis, saya tahu apa yang mau saya tulis, dan bagaimana cara saya akan menuliskannya. Apakah dengan storytelling atau dengan cara lain.

Penutup

Menggunakan editorial list sederhana seperti ini cukup membantu saya dalam mengatasi writer's block. Tentu saja setiap orang punya caranya sendiri yang berjalan baik buat mereka. Ada yang nulisnya ngalir gitu aja, ada pula yang perlu perencanaan dulu sebelum menulis seperti yang saya lakukan.

Nggak apa-apa sih. Lakukan apa yang memang works on you.  

Bagaimana caramu menghadapi writer's block? Share dong di kolom komentar biar kita bisa sama-sama belajar sama-sama. 

Mau traktir saya kopi atau cemilan biar nulisnya makin rajin? Klik aja tombol kuning di bawah ini.