Note : Tulisan ini merupakan postingan lama (originally posted on 2019) dari blog saya yang sudah almarhum. Sengaja saya posting ulang di sini, untuk pengingat saya pribadi tentang apa itu quality time


The best, most loving gift you can give someone is your time and undivided attention - The Minimalists.

Pas kerja mikirin rumah, di rumah kepikiran kerjaan. Ada yang ngalamin juga seperti ini?

Minggu lalu, saya dan istri menghabiskan 2 malam penuh ketegangan di rumah sakit. Gara-garanya Bio mengalami kejang demam dan terpaksa opname karena kondisinya tak memungkinkan untuk berobat jalan.

Saat itu, ia tidak bisa mengonsumsi apapun melalui mulut. Selalu berakhir dengan muntah

Dengan kondisi seperti ini, bisa gawat kalau tidak ada asupan apapun yang masuk. Karenanya, kami memutuskan untuk rawat inap hingga kondisi Bio membaik.

Memang sebagai orang tua kita tidak perlu panik bila anak mengalami kejang demam. Namun, tentunya agak sulit untuk tetap tenang, terutama jika kondisi ini merupakan yang pertama buat kita.

Berangkat ke rumah sakit di Surabaya dari Pandaan pukul 23:30 dan tiba sekitar pukul 01:00 dini hari.

Setelah pemeriksaan dari dokter IGD dan proses administrasi rumah sakit, Bio mulai menjalani malam pertamanya di rumah sakit. Saya dan istri berusaha untuk tetap terjaga supaya bisa segera bertindak ketika terjadi sesuatu.

Syukurlah, setelah menjalani perawatan selama 2 malam, kondisi Bio mulai dan bisa pulang dari rumah sakit.

Senangnya Ditemani Papa & Mama


Selama menginap di rumah sakit, perhatian kami hanya tertuju kepada kondisi Bio.

Menemaninya menonton video favoritnya di Youtube, bergantian menyuapi makan, mengantarnya ke kamar mandi dan banyak lagi.

Bio pun tampak stabil selama perawatan di rumah sakit, walaupun harus menahan sakit sedikit saat pemasangan infus. Namun, selebihnya ia tampak biasa saja...hanya lemas, maklum lagi sakit.

2 malam di rumah sakit, menjadi momen quality time bagi saya dan istri bersama Bio.

Momen ini juga yang membuat kami, terutama saya, menyadari betapa kurang waktu dan perhatian yang saya curahkan kepada Bio.

12 jam waktu saya habis di jalan dan di tempat kerja. Saat berada di rumah, alih-alih menggunakan waktu yang tersisa untuk mengurus dan menemani Bio, saya justru sibuk sendiri. Mulai sibuk dengan media sosial, memasang status 'inspiratif' di Whatsapp, hingga sibuk memikirkan ide postingan selanjutnya di blog.

Physically, I'm home. Namun, saya nggak benar-benar ada di rumah.

Tak jarang, karena 'kesibukan' semacam itu, saya jadi tidak sabaran menghadapi Bio. Saat ia tidak melakukan apa yang 'harusnya' dia lakukan, saya cepat sekali marah.

Padahal, bukan ia tak mau melakukan yang seharusnya. Ia hanya sedang bereksperimen dengan cara baru, atau kadang ia hanya ingin unjuk gigi di depan ayahnya. Sayang, pikiran ayahnya sedang berada di tempat lain.

Menyesal Sih Boleh, Tapi Do Something Juga Dong


Anomali dalam kehidupan itu sudah biasa terjadi. Termasuk di antaranya, menghabiskan waktu berkualitas di kamar rumah sakit, bukannya kamar hotel.

Namun, seanomali-anomalinya hal itu, saya tetap bersyukur bisa melaluinya bersama.

Saya juga memetik hikmah penting dari kejadian ini.

Ketidaksabaran saya menggunakan waktu dan perhatian selama ini, benar-benar saya sesali. Tetapi, menyesal saja belum cukup tanpa melakukan sesuatu yang berbeda bukan?

Akhir pekan ini, saya melakukan eksperimen kecil-kecilan saat menghabiskan waktu bersama keluarga, yaitu tidak mengakses ponsel.

Sederhana? Iya. 

Mudah? Hmm...nggak juga. Masih ada dorongan untuk ngecek apakah ada tambahan komentar masuk di blog, postingan di Facebook ada yang nge-like nggak, dan sebagainya.

Jari ini udah gatel mau ngutekin ponsel, apalagi mendadak dapat ide tulisan buat blog. Kalau nggak keburu ditulis, tar lupa gimana?

Namun, syukur Alhamdulillah, saya berhasil (kali ini) menahan godaan mengakses ponsel dan larut dalam keasyikan sendiri sehingga melupakan orang-orang betulan, yang ada di depan saya.

Kita semua perlu me time, tetapi kita juga harus bijak mengelola waktu dan terutama, perhatian kita. Jangan sampai me time kita ternyata menciptakan kesedihan bagi orang-orang di sekitar kita.

Buat saya, menulis adalah me time yang menyenangkan. Namun, hanya orang tolol dan egois yang cuma memikirkan me time. Saya pernah jadi orang tolol itu dan tidak berencana untuk tetap tolol.


Saat saya menuliskan pengalaman ini, Bio dan istri saya telah terlelap tidur. Tahu nggak, ternyata, me time terasa lebih mengasyikkan jika kita telah menyelesaikan urusan-urusan kita dengan orang lain maupun keluarga kita.

***

Menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga merupakan momen yang seringkali saya take for granted, hingga akhirnya Allah menegur saya dengan kejadian ini. Teruntuk teman-temanku bloggers, please embrace every moment you spent with your love ones.

Jangan nunggu 'ditegur' dulu ya.