Bulan Juni-Juli tahun ini menjadi momen yang tak akan pernah saya lupakan, ketika wabah pandemi yang kita jalani, ikut menghampiri orang-orang terdekat. Teman, tetangga, bahkan kakak tercinta, tak luput dari terjangan virus Covid 19 ini.


Kabar Dari Mbak Wirda

Dan ketika tampaknya tidak ada yang lebih buruk dari apa yang Covid lakukan pada orang-orang terdekat kami, di bulan Juni lalu, bersamaan dengan kabar duka dari senior saya saat kuliah, muncul pula kabar lain yang tak kalah mengejutkan saya.

Mbak Wirda, senior saya (2 tahun di atas saya) dikabarkan sedang berjuang untuk melawan breast cancer stadium 4 yang sudah menyebar hingga ke tulang dan liver. Shock dan nggak percaya, bagaimana mungkin wanita seperti Mbak Wirda ini, yang penuh semangat dan selalu optimis bisa-bisanya dihampiri oleh si kanker ini.

Padahal setahu saya, kanker (apa pun jenisnya) itu lebih sering mampir ke orang-orang yang pesimis, suka overthinking, cemas berlebihan. Karakter yang totally bertolak belakang dengan seorang Mbak Wirda.

Namun, ternyata kenyataannya tidak begitu. 

However, walaupun dalam kondisi seperti ini, Mbak Wirda masih seperti Mbak Wirda yang saya kenal, optimistis, positive thinking dan humoris. Sejak mendengar kabar tentangnya, saya cukup kerap mampir ke akun Facebook-nya untuk meninjau kabar terbarunya. Kebetulan beliau ini cukup rutin update status, karena beliau menjalankan bisnis yang tampaknya menggunakan Facebook sebagai media bisnis dengan cukup intens.

Membaca update status dari Mbak Wirda yang menolak untuk menyerah berjuang melawan kanker yang ia hadapi membuat saya bersyukur bahwa Allah masih menjaga kakak saya satu ini. Selain itu, postingan-postingannya juga membuat saya kadang malu sendiri ketika mudah sekali merasa keberatan dengan masalah yang saya hadapi. 

Terima kasih kakakku, Mbak Wirda, yang terus mengingatkanku tentang pentingnya berjuang menghadapi kerasnya hidup. Semoga Allah segera mengangkat penyakitmu dan mengembalikanmu ke tengah keluarga yang kamu cintai dan mencintaimu, membersamai mereka lagi hingga mereka tumbuh menjadi orang-orang yang kuat imannya dan baik budi pekertinya serta cerdas akalnya.


Tentang Kanker Payudara : Apa, Kenapa, Dan Gejalanya

Dengan angka kasus hingga kematian tertinggi dibanding kanker lainnya di Indonesia berdasarkan data dari The Global Cancer Observatory, membuat kanker payudara menjadi momok yang menakutkan. 

Sumber : The Global Cancer Observatory

Sebenarnya, apa sih kanker itu? Mengutip dari situs cancer.gov, kanker merupakan sebuah penyakit di mana sel tubuh tumbuh tak terkendali dan menyebar ke bagian-bagian tubuh lainnya.

Kanker merupakan penyakit genetis, yang disebabkan oleh perubahan genetika yang mengendalikan fungsi-fungsi sel kita, terutama dalam hal bagaimana mereka tumbuh dan membelah. Perubahan genetis yang dapat memicu kanker antara lain:
  1. Kesalahan yang terjadi saat pembelahan sel;
  2. Kerusakan DNA oleh bahan berbahaya di lingkungan (misalnya, bahan kimia dalam asap rokok dan sinar ultraviolet);
  3. Keturunan.
Perbedaan Antara Sel Normal vs Sel Kanker

Kanker payudara, seperti halnya sifat umum kanker, terjadi karena munculnya sel kanker di jaringan payudara. Di Amerika, angka kasus kanker payudara merupakan yang tertinggi setelah kanker kulit. Kanker payudara adalah penyumbang angka kematian kedua terbanyak pada wanita Amerika. 

Walaupun penyebab utama terjadinya kanker payudara ini masih belum bisa dipastikan, tetapi umumnya beberapa gejala berikut ini dapat dijadikan acuan untuk mendeteksi kanker payudara sejak dini:
  1. Munculnya benjolan tanpa rasa sakit di payudara;
  2. Gatal-gatal yang terus menerus di sekitar puting;
  3. Pendarahan/lendir yang tak biasa di puting;
  4. Penebalan dan pembengkakan kulit di atas payudara;
  5. Puting masuk atau tertarik kembali.

Pencegahan Kanker Payudara

Kanker bukan merupakan sebuah penyakit yang berdiri sendiri, melainkan gabungan dari beberapa penyakit yang saling terkait. Faktor genetis, gaya hidup dan lingkungan kita bersama-sama dapat meningkatkan atau menurunkan risiko kita terkena kanker payudara.

Beberapa faktor risiko dapat dihindari, tetapi banyak faktor lainnya yang tidak bisa dihindari. Misalnya merokok dan riwayat kanker payudara, sama-sama berpotensi meningkatkan risiko munculnya sel kanker. Namun, hanya merokok yang bisa dihindari.

Beberapa cara saat ini sedang dipelajari untuk mencegah munculnya kanker seperti:
  • Mengubah gaya hidup atau pola makan;
  • Menghindari hal-hal yang diketahui memicu kanker;
  • Pengobatan untuk kondisi pra-kanker untuk menghambat munculnya sel kanker;
  • Operasi untuk mengurangi risiko.

Selain itu, skrining kanker payudara juga perlu dilakukan sebagai deteksi dini dengan pedoman berikut ini:
  1. Usia < 39 tahun : Pemeriksaan payudara secara bulanan
  2. Usia 40-49 tahun : Pemeriksaan payudara secara bulanan + mamografi 1 kali dalam 1-2 tahun
  3. Usia > 49 tahun : Pemeriksaan payudara secara bulanan + mamografi 1 kali dalam 1 tahun

Pengobatan Dan Perawatan Kanker Payudara

Pengobatan kanker payudara berbeda-beda bagi tiap orang, tergantung dari tingkat keparahan (stadium) yang mereka jalani. Selain itu, jenis kanker payudara, karakteristik kanker, usia, kondisi kesehatan dan status menopause juga menjadi faktor pertimbangan dalam memilih pengobatan.


Kesimpulan

Dengan tingginya angka kasus baru dan kematian akibat kanker di Indonesia hingga 8,8% (berdasarkan studi Global Burden of Cance Study, 2018 & 2020) menempatkan kita sebagai negara kedelapan dengan penderita kanker terbanyak di dunia, dengan kanker payudara sebagai kontributor utama pada jumlah kematian di Indonesia.

Walaupun demikian, kanker payudara dapat disembuhkan. Salah satunya dengan rutin melakukan deteksi dini setiap bulan.

Jadi yuk, SADARI ancamannya, dan bersama-sama mengerahkan segala daya upaya kita untuk mencegah naiknya risiko kita/keluarga dari ancaman kanker payudara.