Selamat hari blogger nasional!
 

Mulai ngeblog sejak akhir 2016, dari blog gratisan Wordpress.com lalu boyongan ke Blogger karena tahu di platform ini bisa ganti domain tanpa perlu sewa hosting, kemudian di platform yang sama, gonta-ganti blog hingga akhirnya menggunakan domain saat ini, prim.my.id.

Kalau dihitung-hitung secara kasar (minus hiatus karena hilang ide dan/atau motivasi) berarti sudah 4 tahun ini nih mulai ada di dalam dunia blogging. 

Belum ada apa-apanya memang dibandingkan kakak-kakak blogger yang sudah puluhan tahun ngeblog memang, but nggak apa-apa lah, toh memang setiap orang punya skenario hidupnya sendiri-sendiri, nggak perlu lah membanding-bandingkan dengan orang lain

Selama menjalani dunia per-blogging-an ini, saya menyadari bahwa hampir 95% aktivitas blogging adalah menulis. Mulai menulis konten untuk blog sendiri, menulis komentar saat blogwalking ke blog sahabat, hingga menulis konten untuk guest posting.

Dan, sebagaimana aktivitas lainnya, konsistensi adalah harga mati jika kita ingin terus tumbuh dan berkembang di dalam aktivitas yang kita tekuni ini. Demikian pula menulis.

Namun, saya rasa kamu dan saya sudah sama-sama tahu, bahwa sepenting-pentingnya menjaga konsistensi menulis, pada kenyataannya, melakukannya itu hmm…sulit.

Nggak mustahil sih, hanya…sulit.

Ada beberapa hal yang membuat konsisten nulis itu sulit kalau dari pengalaman saya yang seuprit ini. Kalau kamu juga mengalami hal serupa atau malah lebih awesome lagi, yuk share pengalamanmu di kolom komentar, buat pembelajaran bersama.

Kesulitan 1 : Nggak Ada Ide

Classic but everlast. Mau sih nulis, tapi nulis apa? Apakah kamu juga mengalami yang seperti ini?

Buat saya, ini adalah salah satu archenemy dalam menulis. Dari dulu sejak masih jadi content writer hingga sekarang ngeblog, yang namanya misqueen ide tuh benar-benar momok buat saya.

Bahkan dengan blog jenis personal (bahasa kerennya untuk blog gado-gado) seperti blog ini, mendapatkan ide tulisan masih menjadi hantu ter-luck nut.

Kadang-kadang, saya dan kak Ide ini, suka main kucing-kucingan. Pas saya lagi nggak dalam kondisi siap nulis (misalnya pas nyetir), eh si kakak ini datang bersama teman-temannya ngebisikkin ide-ide brilian buat next post saya.

Ndilalah, pas udah mulai nulis, si kakak saya panggil-panggil malah nggak kunjung muncul juga. Akhirnya, tinggalah saya sendiri menatap layar kosong dan kursornya yang kelap-kelip tanpa henti.

Akhirnya, saya belajar bahwa menulis itu lebih mudah kalau kita tahu apa yang mau kita tulis sebelum mulai duduk manis di depan komputer. Artinya, supaya proses menulis saya bisa lancar, saya perlu tahu mau nulis apa.

Supaya saya tahu apa yang mau saya tulis, saya perlu menyiapkan materi atau setidaknya, poin-poin yang mau saya tulis.

Supaya saya bisa menyiapkan materi atau poin-poin tulisan, saya perlu punya ide dong. 

Dan supaya stok ide saya aman, saya harus mulai membiasakan mencatat ide-ide yang datang sliweran segera setelah saya berada dalam kondisi yang cukup aman untuk menulis. Kenapa, karena ternyata saya ini pelupa. Karena itulah, saya perlu effort mencatat ide-ide biar nggak nguap gitu aja.

Banyak cara untuk menuliskan ide-ide atau poin-poin tulisan, bisa secara digital maupun manual. Kalau saya sih, lebih memilih menggunakan cara manual, yaitu mencatat di buku saku kecil.

Gambarnya jangan diklik....please!

Yang saya catat biasanya maksimal 3 baris atau poin-poin yang mau saya bahas di tulisan tersebut. Setidaknya, saya punya gambaran, nih tulisan tar jluntrungan-nya ke mana sih. Kesimpulannya apa sih. Udah gitu aja. Selebihnya, ngalir aja nulis ceritanya.

Kesulitan 2 : Nggak Ada Waktu

Saya kira yang mengalami case kekurangan waktu walaupun sudah sama-sama dikasih 24 jam sehari itu cuma saya yang kerja di kantor, bantu beres-beres rumah pas pulang, nemenin anak main, dan menulis.

Pembelaan saya adalah saat nggak bisa konsisten ngeblog adalah karena saya sibuk. Jadi wajar dong kalau blognya nggak keurus.

Padahal kalau mau jujur, waktu itu bisa ada kalau diadakan. Itu hanya masalah mengatur prioritas dan pengelolaan waktunya.

Minggu ini, saya mencoba bereksperimen dengan menulis di malam hari ketika semua kewajiban rumah tangga sudah selesai, saat Fabio dan Ibu Negara sudah lelap dalam buai mimpi.

Kemudian, saya bangkit dari kasur lalu membuka laptop, tanpa koneksi internet, dan langsung menulis di aplikasi Word. Mulai judul,kalimat pembuka, hingga isi dan meta tag. 

Dalam waktu 1 jam, saya selesaikan draft tersebut. Kemudian, laptop saya tutup dan saya kembali tidur. Keesokan harinya saat istirahat kantor, saya buka kembali draft saya dan memindahkannya ke platform blogger, memeriksa typo dan struktur kalimat/paragraf-nya, mencari gambar untuk ilustrasi, lalu mempublikasikannya. Selesai.

Menurut saya cara ini lebih cocok buat saya dibandingkan beberapa metode yang pernah saya lakukan seperti menyusun editorial list, melakukan keyword research, dll. 

Selama postingan itu sesuai dengan value saya, buat saya itu sudah cukup. Eh tapi, kalau kamu lebih cocok pakai cara lain, nggak apa-apa kok.

Asalkan saya tahu apa yang mau saya tulis, menentukan waktu menulis dan (yang paling penting) mulai menulis, ngeblog jadi nggak sehoror yang saya bayangkan sebelumnya.

Kesulitan 3 : Nggak Laku

Udah nulis sampai tengah malam, nggak tidur, nggak makan, nahan pipis, nahan gigitan nyamuk, tapi ujung-ujungnya tulisannya nggak laku alias nggak ada traffic.

Sedih? Harusnya sih nggak, tapi ya berhubung saya ini manusia biasa yang sok-sokan luar biasa, mendapati kenyataan bahwa tulisan yang sudah dibuat dengan bercucuran air mata, keringat (karena sumuk bukan main), hingga anemia gegara kehabisan darah disedot nyamuk luck nut, ternyata nggak nge-hits, nggak viral, dan nggak ada yang komen.

Walaupun hal ini adalah sebuah kewajaran di dunia blogging, tapi sedih juga dan bikin frustasi ngeblog.

Ada dua hal yang saya pelajari dan perlu saya ubah terkait hal ini. Yang pertama adalah metode promosi konten dan kemudian mindset saya.

1. Mengubah Cara Promosi

Nulish, publish, finish? Hmm…itu yang saya pikirkan dulu. Setelah memublikasikan tulisan, ya sudah tinggal tunggu ada yang mencari topik sesuai bahasan saya, dan traffic akan  datang dengan sendirinya.

Kabar buruknya (atau malah kabar baiknya) bukan begitu cara kerjanya. Kita tetap perlu mempromosikan konten-konten kita, baik itu melalui media sosial maupun ke grup komunitas blogger.

Setidaknya, semacam ngasih tahu kalau ada postingan baru,

Selain itu, ada juga cara promosi lain yang sedang saya coba lakukan seperti nge-japri blogger yang postingannya saya tautkan di postingan saya, blogwalking lebih rajin, hingga guest posting.

Apakah  cara ini berhasil? Hmm...belum tahu, kan masih nyoba. Tar deh kalau ada hasilnya, saya kasih tahu.

2. Mengubah Mindset

Mindset yang saya maksud di sini itu terkait dengan tujuan awal kita mulai ngeblog. Ekspektasi kita terhadap aktivitas blogging ini, ternyata memengaruhi cara pandang kita terhadap setiap aktivitas blogging kita (nulis postingan, blogwalking, hingga promosi konten).

Kalau kita punya ekspektasi tertentu dengan blogpost kita, kita akan cenderung mudah frustasi ketika ekspektasi itu tidak terpenuhi. 

Saya misalnya, ketika kegalauan saya kumat, ngeblog harus menghasilkan pundi-pundi uang atau memenangi kompetisi  tertentu, akhirnya saya jadi sangat mudah irritated ketika ekspektasi itu tidak tercapai.

Padahal, di awal, saya mengumandangkan ke diri saya sendiri bahwa ngeblog ini wasilah, tujuannya Lillah. Namun, dalam perjalanannya, tetap saja, nesu saat hasilnya nggak sesuai harapan.

Apa yang saya lakukan ketika itu adalah, pertama menerima kesedihan, kekecewaan, dan kemarahan itu sebagai hal yang lumrah. I give my self time to feel the sadness. Kemudian, saya melihat ke atas, dan berkata dalam hati, “He is planning on something great for me, and it is up to Him to decide what best for me.”

Setelah itu, udah, nulis lagi. Toh niatnya to serve Him and ummah. Jadi ya sudah…life must go on kan katanya.

Maafkan bila ilustrasinya sedikit kacau...

Kesimpulan

Setiap masalah pasti ada solusinya. Itu tadi beberapa masalah blogging yang saya alami dalam hal konsistensi menulis. Mulai masalah ide, waktu, hingga konten yang nggak laku.

Yang paling penting dari semua ini adalah mengingat kembali kenapa sih kamu mulai menulis. Buat saya, menulis di blog merupakan alat untuk mencatat peristiwa-peristiwa penting yang saya alami beserta pelajaran/hikmah yang saya dapatkan, lalu membagikannya dengan harapan bisa berguna dan membantu orang lain.

Dan yang paling penting, menulis di blog adalah wasilah (jalan), tujuannya Lillah. Jika apa yang saya bagikan di sini berguna dan membantu, moga-moga, itu menjadi amal jariyah saya saat nanti tiba waktu saya kembali pada-Nya.

Selamat hari blogger nasional 2021 buat kawan-kawan blogger semuanya. Buat kawan-kawan blogger yang sudah lama ‘puasa’ nulis, melalui momen ini, saya mau mengajak kalian untuk kembali menulis dan membagikan cerita-cerita inspiratif kalian melalui blog. Because the world needs that special gift that only you have.