Bukan Kutukan, Ini Yang Kamu Perlu Tahu Tentang Kusta

Setiap warga negara, tak terkecuali penyandang disabilitas termasuk orang dengan/yang pernah mengalami kusta, punya hak yang sama untuk mendapat pelayanan kesehatan bermutu. Namun, berbagai tantangan dan keterbatasan sumber daya membuat pelayanan kesehatan seringkali belum aksesibel bagi mereka.


Pengalaman Pertama Menghadiri Sebuah Undangan Acara Untuk Blogger


Hari Rabu, 24 November 2021, untuk pertama kalinya saya ambil bagian di dalam sebuah event yang mengundang para blogger. 

Event yang terselenggara, hasil kerja sama komunitas blogger 1 minggu 1 cerita bersama KBR Talkshow ini merupakan event pertama yang saya ikuti sepanjang umur menjadi blogger sejak akhir 2016 lalu. 

Di sini, saya merasa beruntung sekali mendapat kesempatan untuk ikut serta di dalam sebuah gelar wicara yang kali ini membahas tentang penyakit kusta dari apa itu kusta, gejala-gejalanya, hingga cara penanganannya. 

Kebetulan, karena masih pandemi, acara gelar wicara ini pun diadakan secara daring. Artinya, saya tidak perlu berangkat menghadiri acara tersebut, hanya perlu duduk manis di depan layar laptop dan voila, saya sudah bisa ‘menghadiri’ acara tersebut.

Hmm…nambah satu lagi ilmu baru nih, pikir saya. 

Tentang Gelar Wicara Bahu Membahu Untuk Indonesia Sehat Dan Bebas Kusta

Acara digelar mulai pukul 10:00 pagi dan sejak pukul 09:45, saya sudah siap dengan laptop menyala, tinggal menunggu tautan dikirimkan dan saya bisa mulai mengikuti gelar wicara tersebut.

Tak lama, waktu menunjukkan pukul 10:00 dan tautan untuk ’menghadiri’ gelar wicara telah dibagikan oleh Mbak Fera, koordinator acara ini, tanpa berlama-lama saya pun mengklik tautan tersebut dan segera saja, saya dialihkan ke kanal Youtube Berita KBR.

Acara dimulai dengan pemaparan salah satu narasumber, dr Febrina Sugianto dari NLR Indonesia tentang program-program NLR Indonesia, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berfokus pada penanggulangan kusta beserta konsekuensinya.

Dari pemaparan beliau, ada satu hal yang mengusik rasa keingintahuan saya tentang kusta. Yaitu, ketika beliau menyampaikan bahwa ada stigma di masyarakat, bahkan tenaga kesehatan (nakes) yang menganggap kusta sebagai adzab atau kutukan untuk orang yang banyak berbuat dosa.

Stigma inilah yang membuat penanganan kusta menjadi penuh tantangan. 

Karena penasaran, saya pun mencoba mencari tahu tentang apa itu kusta (salah satu pelajaran sebelum mengikuti acara blogger atau acara apa pun adalah, baca dulu informasi seputar topik yang akan dibahas, supaya tidak datang dengan kepala kosong), melalui situs resmi NLR Indonesia.


Jadi kesimpulannya, kusta itu adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri, bukan kutukan, seperti yang selama ini dipahami orang-orang.

Setelah pemaparan dari dr Febrina tersebut, giliran narasumber kedua, Bpk. Eman Suherman (Ketua TJSL PT Dahana Persero) yang menjelaskan program-program yang telah dilakukan PT Dahana untuk berperan aktif dalam penanggulangan kusta di Indonesia.

Bpk. Eman, menjelaskan bahwa beberapa program telah dilakukan PT Dahana sebagai partisipasinya dalam program pemerintah untuk menanggulangi kusta di antaranya: 
  1. Pemenuhan kebutuhan dasar
  2. Pengobatan massal
  3. Program penanggulangan terhadap penyakit Kusta

Dan, saya baru menyadari kalau ternyata Kusta itu masalah nasional yang serius. Selama ini saya tidak tahu banyak tentang apa itu kusta. karenanya, sesi gala wicara ini benar-benar  membuka mata saya bahwa ternyata masih ada isu kesehatan yang pelik.

Kusta ini tidak akan tuntas kalau masih banyak stigma…stigma ini nggak akan tuntas kalau masih banyak orang nggak tahu apa itu kusta – dr Febrina Sugianto

 



Kesimpulan

Salah satu momok dalam langkah-langkah penanganan kusta di Indonesia adalah stigma masyarakat yang menganggap kusta sebagai sebuah kutukan. Hal ini bisa saja terjadi karena kurangnya edukasi tentang apa itu kusta dan penyebabnya, cara penularannya, penanganan serta pencegahannya.

Ibarat kata, tak kenal maka tak sayang. Karena itulah, penting sekali menggalakkan program dan kampanye untuk mengedukasi masyarakat tentang kusta merupakan.

Jadi, stigma yang salah tentang kusta ini harus segera dibenahi agar orang mau memeriksakan dirinya saat mengalami gejala kusta, mau berobat sampai sembuh, tuntas. 

Dengan demikian, bersama kita bisa mewujudkan mimpi, Indonesia bebas kusta.


Mas Prim

Blogger, content writer & translator freelance. Text me if you need help with your text.

1 Comments

Share opini atau pengalaman kamu tentang topik tulisan ini di sini. Share juga tulisan ini temen-temenmu, jika menurutmu bermanfaat.

&Joy!

  1. sama seperti HIV/AIDS ya mas, seringkali di anggap hukuman atau azab dari tuhan atas perbuatan dosanya.

    Saya bru tahu kalau penyakit kusta tidak langsung menular scara instan hanya dngan sekali kontak langsung loh,

    Penyakit yg cukup mengerikan dan mungkin lebih mengerikan ketimbang covid, hehehe.

    ReplyDelete
Previous Post Next Post