Belajar Praktik Service Excellence Dari Seorang Munarto

Dua ribu rupiah mungkin bukan nominal yang cukup wah bagi orang cukup sering menghabiskan momen belanja kebutuhan sehari-hari di minimarket.
Pexels

Namun, kenapa mengeluarkan uang ’segitu’ untuk tukang parkir, kok rasanya berat dan nggak rela gitu ya? Padahal, cuma dua ribu.

Sebelum kita lanjutkan bahasan kita, saya mau tanya, kamu termasuk orang yang mendukung atau nrimo dengan keberadaan tukang parkir ini, atau sebaliknya, kamu ada di pihak mereka yang menganggap kehadiran tukang parkir itu nggak ada faedahnya?

Gimana mau berfaedah, lah wong, parkir ya nyari sendiri, ngeluarin kendaraan sendiri, nyeberang/putar balik sendiri, kok bayar sih? Rasanya agak nggondok walaupun ya bayar juga pada akhirnya. Ya nggak?

Jika kamu termasuk orang yang ‘terdzalimi’ oleh keberadaan tukang parkir seperti ini, selamat…kamu nggak sendirian.

Salah satu orang yang nesuan ketika disempritin bapak/mas tukang parkir, adalah…saya. Lah, gimana nggak nesu, tempat parkir yang cari juga saya sendiri tanpa kontribusi blio-blio itu, ngeluarin hingga siap-siap menyeberang jalan ya dilakukan sendiri, eh orang itu kok tiba-tiba datang, nyemprit lalu ndempetin kendaraan saya.

Tanpa ba-bi-bu, tiba-tiba saja tangannya menggenggam erat bagian belakang motor saya sambil bergaya narik mundur motor saya, padahal itu motor saya juga yang mundurin.

Sudah gitu, saya kok ya mau-maunya ngerogoh kantong dan ngasih blio uang dua ribu rupiah. Saya jadi bertanya-tanya, jangan-jangan blio telah menggunakan mangekyou sharingan untuk menjebak saya dalam sebuah genjutsu, sehingga saya melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin saya lakukan.

Bahkan di beberapa tempat, saya juga pernah mendapati seseorang dengan profesi yang sama, tau-tau sudah muncul di belakang motor saya. Padahal saya berani sumpah, pas saya datang, orang itu tuh nggak ada. Suer. Eh pas saya mau pulang, blio ini muncul entah dari mana, mirip seperti inspirasi.

Datang tak disambut, pulang disuruh bayar. Kurang lebih begitu lah perasaan yang berkecamuk di dalam dada.

Pada akhirnya, muncullah stigma terhadap-terhadap blio-blio ini. Yang makan gaji buta lah, benalu lah, dll. Karena kerjaannya ya gitu-gitu aja, tapi tetap dibayar. Bahkan yang nggak ngapa-ngapain tapi tetap terima bayaran juga ada.

Namun, persepsi saya ‘sedikit’ berubah setelah bertemu Pak Munarto, bukan nama sebenarnya (saya nggak tahu nama asli blio siapa, tapi untuk kenyamanan bercerita, saya pakai nama Munarto saja) seorang tukang parkir di salah satu cabang Indomaret di Pandaan, Pasuruan.

Tak seperti rekan sejawatnya yang lain, Pak Munarto melakukan, apa yang saya sebut, service excellence dalam melakukan pekerjaannya sebagai seorang tukang parkir.



Memberi Nilai Tambah Ala Pak Munarto

Apa yang dilakukan Pak Munarto ini sebenarnya sederhana saja. Namun, memang bukan hal mudah untuk dilakukan kalau belum terbiasa atau enggan mencoba. 

Berikut ini hal-hal sederhana yang blio lakukan, yang membuat saya terpukau dan lebih ikhlas memberikan dua ribu rupiah, bahkan kadang lebih untuk blio.

1. Jemput pelanggan dan arahkan ke tempat parkir

Sederhana sekali ya, hanya mendatangi pelanggan yang baru datang lalu dengan sigap mengarahkannya ke lokasi parkir. Udah gitu aja.

Bandingkan dengan apa yang dilakukan rejan sejawat blio. Boro-boro berharap disamperin, mereka muncul dari mana juga masih menjadi misteri yang tak terpecahkan.

Namun, Pak Munarto mengambil langkah berbeda. Entah apa sebabnya, kok mau-maunya blio melakukan hal seperti itu. 

Hasilnya, Pak Munarto mendapatkan respek dari saya dan saya yakin, pengunjung lainnya pun setali tiga uang dengan pendapat saya.

2. Minta pelanggan memastikan kendaraan telah terkunci

Sebelum pelanggan turun dari kendaraan mereka dan masuk ke Indomaret. ”Pak tolong dicek lagi, apakah kunci sudah dicabut.” seraya mengingatkan pelanggan untuk memastikan tidak ada barang-barang berharga yang tertinggal di motor/mobil.

Kadang-kadang, ketika ATM di dalam Indomaret itu lagi rusak atau kehabisan uang, blio juga pro aktif menanyakan apakah pelanggan tersebut mau ambil uang di ATM atau tidak, kemudian menginformasikan bahwa ATM sedang rusak.

Nah, yang seperti ini kan jadi memudahkan hidup pelanggan kan? Andai saja rekan sejawat blio mau melakukan hal sesederhana ini. 

3. Saat selesai, bantu keluarkan kendaraan pelanggan

Nah ini nih yang unik, alih-alih sekedar megangin bagian belakang motor, Pak Munarto meminta pelanggan untuk memasukkan kunci motor guna membuka kunci setang, lalu blio mengeluarkan motor tersebut dari tempat parkir.

Ora umum kan?

4. Sebelum pelanggan pergi, minta mereka memastikan tidak ada yang tertinggal 

Terakhir, Pak Munarto selalu menanyakan dan meminta pelanggan memeriksa kembali barang-barang bawaan mereka. Jangan sampai ada yang tertinggal. 

Sehingga, spontan pelanggan akan memeriksa barang-barangnya walaupun sekadar memeriksa sekilas lalu. Luar biasa ya?

Blio juga menambahkan tips bagi pelanggan agar lain kali saat mengunci setang motor, setang diarahkan ke kanan, alih-alih ke kiri seperti umumnya. Menurut blio, hal ini akan menyulitkan oknum yang hendak membongkar paksa kunci kontak kita (istilahnya membandrek).

Pelajarannya

Gimana, so simple kan ya, yang Pak Munarto lakukan itu? Namun, hal yang sesederhana itu, benar-benar membuat saya terbantu. Apalagi saya orang yang cukup pelupa. Dengan blio ingatkan, saya pun tergerak untuk memeriksa barang bawaan sebelum meninggalkan Indomaret tersebut.

Dari Pak Munarto, saya belajar 2 hal yang esensial dan perlu saya terapkan di keseharian saya baik itu di kantor, maupun di rumah. Melayani dan memberi lebih kepada pelanggan (misalnya, atasan, rekan kerja, istri dan anak).

2 hal esensial itu antara lain:

A. Sikap Proaktif

TIdak ada yang mengomando Pak Munarto untuk dengan cekatan ’menyambut’ kedatangan pelanggan, tapi toh beliau lakukan. Sikap proaktif ini yang perlu saya pelajari lebih lanjut.

B. Empati (posisikan diri sebagai pelanggan)

Mengingatkan untuk mengunci motor dan memastikan tidak ada yang tertinggal, buat saya menunjukkan empati Pak Munarto dan bahwa blio adalah seorang tukang parkir yang customer oriented. 

Ah, kalau saja semua tukang parkir seperti blio.

Kesimpulan

Memberi lebih tak selalu mahal, tetapi bisa dilakukan dengan cara-cara sederhana sepert memberikan pelayanan yang lebih yang berfokus pada pelanggan. Tempatkan diri di posisi pelanggan.

Bagaimana menurut pendapatmu? Apa sih yang kamu pelajari dari seorang Munarto ini?

Share yuk tanggapanmu di kolom komentar. Jangan lupa share juga informasi ini ke teman-temanmu ya, biar semakin banyak yang kenal Pak Munarto dan mengungkap identitas Pak Munaro sebenarnya.

Mas Prim

Blogger, content writer & translator freelance. Text me if you need help with your text.

2 Comments

Share opini atau pengalaman kamu tentang topik tulisan ini di sini. Share juga tulisan ini temen-temenmu, jika menurutmu bermanfaat.

&Joy!

  1. Kalau saya positif thingking aja mas, adanya pekerjaan tukang parkir itu terkadang memberi tahu kita betapa malasnya orang-orang memakirkan kendaraannya dengan rapi..

    karena pengalaman pribadi saya, hingga saat ini masih banyak juga orang-orang yang nggak mau memarkirkan kendaraan agar tidak mengganggu org lain.

    ya walaupun ada juga tukang parkir yg keberadaanya antara ada dan tiada ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga positif thinking kok mbak, cuma kadang agak surprise aja sama yang tipe datang tak disambut, pulang suruh bayar gitu. 😅

      Delete
Previous Post Next Post