Blogku Aset Digitalku, Membangun Mimpi Menjadi Blogger Profesional

Menurutmu siapa sih yang perlu punya website? 

Website Sebagai Aset

Jujurly nih, kalau saya ditanya perlu atau tidak punya website, saya pribadi akan bilang enggak. Karena menurut saya, website itu identik dengan jualan.

Sementara saya (lagi-lagi saya pribadi ya) kan enggak jualan, jadi buat apa punya website. 

Saya ngeblog memang dan blog itu salah satu bentuk website. Namun entah kenapa, mindset-nya beda. 

Hingga akhirnya mindset saya berubah setelah untuk pertama kalinya dapat job ngeblog dan, terima cuan.

Pertama Kali Ngeblog Dapat Cuan

Sejak pertama kali ngeblog di akhir 2016 lalu, mindset saya tentang blog adalah sebagai media menyalurkan hobi menulis, menulis hal-hal yang memberi manfaat dan nilai tambah buat pembaca saya.

Untuk menghasilkan uang dari blog, atau istilah kerennya monetisasi, otak saya belum sampai ke sana. Walaupun saya tahu ngeblog bisa menjadi alat penjemput rejeki (uang), tapi saya lebih enjoy menulis tanpa ekspektasi meraup pundi-pundi rupiah.

Namun, di bulan Oktober lalu saya kok kebetulan terpilih menjadi salah satu blogger untuk berpartisipasi dalam sebuah campaign tentang penyakit kusta

Ceritanya, waktu itu mbak Cifer, yang sama-sama tergabung dalam komunitas 1 Minggu 1 Cerita, membagikan tawaran job ngeblog.

Seketika itu pula saya pun mengisi form pendaftaran. Saat mengisi form registrasi, saya tidak memasang target terlalu tinggi, karena berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, 5 kali mengisi formulir registrasi ngejob hasilnya 1x ditolak, 7x tanpa kabar 😅

Jadi waktu mendaftar di form yang disediakan Mbak Cifer pun, saya santai saja, tidak terlalu pasang target tinggi.

Eh ndilalah, kalau rejeki memang harus ke mana-mana biar rejekinya enggak ke mana-mana, kok ya saya diterima. Wah, saya langsung mengucap Alhamdulillah, atas 'kekhilafan' Mbak Cifer menerima saya untuk berpartipasi dalam campaign kali ini.

Singkat cerita, kami pun mulai dijelaskan detil job dan ekspektasi dari penyelenggara.

Dari sini saya jadi kenal istilah baru, SOW (Scope Of Work), yang kalau di dunia saya namanya Job Description. 

Enggak tahu kenapa kok dibikin istilah baru seperti ini. Mungkin karena pelafalan SOW lebih renyah daripada JobDesc kali ya.

Pertama Kali Ikut Campaign

Ketika hari H, saya pun sudah siap di depan laptop dengan headset tertanam di telinga. Saya siap mengikuti proses campaign. 

Jobnya kali ini adalah mengikuti live streaming talk show di Youtube lalu membuat resume-nya di blog pribadi.

Bayangan saya, dengerin, catet poin-poin, trus tulisin.

Eh ternyata, life is never flat. Jelang beberapa detik sebelum campaign, ada informasi tambahan untuk absen di kolom chat Youtube dengan format yang sudah disiapkan, membuat tangkapan layar (screen shot) acara dan mempostingnya di Instagram Story.

Nah, ini di luar rencana (saya) dan salah satu PR besar saya pribadi adalah menjadi flekksibel terhadap perubahan yang cepat.

Akhirnya walau panik, saya mencoba untuk tetap tenang. Saya coba pahami secepat mungkin instruksinya dan saya eksekusi sebisa mungkin.

Ternyata ketika absen, saya melakukan kesalahan karena tidak sesuai format. Saya pun wadul ke mbak Cifer. Alhamdulillah, blio bisa memaklumi dan memahami, sehingga masalah pun terselesaikan sebelum jadi besar.

Selesai Talkshow Waktunya Membuat Resume

Di dalam job ini, Mbak Cifer meminta para peserta job untuk mengumpulkan tugas dengan tenggat waktu maksimal 4 hari setelah tanggal Talk Show.

Karena serba kedandapan saat mengikuti Talk Show, saya merasa tidak mampu menangkap isi materi 100%. Jangankan 100%, 35% saja rasanya kok nggak sampai.

Duh, piye iki jal?

Alhamdulillah, saya ingat kalau yang namanya live streaming di Youtube itu kan biasanya ada rekamannya. Akhirnya saya masuk dan cari tuh rekamannya di kanal Youtube penyelenggara. Dan, syukurlah, ada.

Jadi, saya putar ulang rekaman Talk Show tersebut dan mencatat poin-poin pentingnya.

Alhamdulillah, H-3 saya sudah menyelesaikan tugas saya dan menyerahkannya ke Mbak Cifer selaku koordinator blogger untuk campaign ini.

Dan...beberapa hari kemudian transferan fee masuk ke rekening. Mau nangis tapi kok lagi banyak orang, jadi sementara harus ngempet dulu.

Menghasilkan uang dari blog yang selama ini hanya merupakan 'ceritanya' dan 'katanya'  akhirnya saya rasakan sendiri.

Lesson Learned : Ngeblog Juga Bisa Jadi Media Penjemput Rejeki, For Real

Pengalaman mendapat job pertama ini memberi saya banyak pelajaran berharga dan mengubah cara saya memandang blog beserta isinya.

Tidak ada yang berubah dari value blog saya, justru pengalaman ngejob ini membuat saya merasa perlu untuk menjaga value blog ini.

Selain kebermanfaatan untuk pembaca, blog dan tulisan-tulisan saya juga merupakan aset digital saya. Sebagai portofolio pribadi yang menyimpan rekam jejak saya berproses sebagai seorang blogger.

Dari yang awalnya ngeblog suka-suka, lalu mulai berpikir tentang memberi nilai tambah lewat tiap postingan saya, amal jariyah, hingga yang terbaru, visi saya ke depan untuk menjadi seorang blogger profesional.

Apa Itu Blogger Profesional Di Mata Saya

Menurutmu apa sih beda antara profesional dan amatir? 

Apakah seorang profesional itu pasti lebih terampil dari seorang amatir? Rasanya enggak juga.

Yang membedakan antara seorang profesional dan amatir, adalah, profesional itu dibayar. Sedangkan amatir, tidak.

Pertanyaannya, terutama untuk saya yang punya cita-cita menjadi blogger profesional, kenapa orang harus mau keluar uang untuk bayarin saya. What's in it for them, apa untungnya buat mereka?

Sejatinya seorang profesional adalah mereka yang tahu apa yang mereka harus lakukan, karena mereka punya keterampilan di situ. Pun demikian dengan memberikan solusi terkait permasalahan yang dialami klien.

Sudah sampaikah saya di sana? Hmm...rasanya kok masih banyak yang perlu dibenahi di sana-sini.  Mulai kualitas konten, hingga menjaga performa blog saya sendiri.

Kualitas konten yang saya maksud adalah dari isi hingga packaging. Kalau biasanya saya membuat konten tanpa pikir panjang dan hanya 'dibagusin' kalau lagi ikutan lomba blog. Tampaknya saya perlu mengubah mindset itu.

Ikut lomba atau tidak, isi dan tampilan tetap harus diperhatikan betul-betul. 

Sederhananya, kini saya melihat setiap konten yang saya buat di blog (dan di media sosial lainnya juga) adalah aset digital saya. Rekam jejak yang menjadi portofolio proses saya dalam membuat konten yang bermutu, bermanfaat dan menarik.

Menjajaki Self Hosted Blog

Mungkin tak ada salahnya juga bagi saya untuk terjun lebih dalam ke dunia blogging dengan beralih ke platform Self Hosted Wordpress yang menuntut saya untuk lebih mandiri dan bertanggung jawab terhadap blog saya.

Untuk itu, saya harus mulai menjajaki untuk memilah-milih penyedia hosting murah tapi nggak murahan, seperti Sahabat Hosting.

Keunggulan Sahabat Hosting

Untuk blog/website sendiri, Sahabat Hosting menyediakan 3 paket hosting yang cukup menggiurkan, ditambah dengan Mbak/Mas CS yang super ramah dan responsif dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan saya yang awam dengan dunia Wordpress Self Hosted.

Pilihan Paket Hosting

Kesimpulan

Menjadi blogger profesional itu artinya memiliki keahlian dan keterampilan di dunia blogging yang bisa membantu klien/pembaca menyelesaikan masalah mereka.

Ya lah, apa gunanya keterampilan ciamik dan keahlian mastah kalau tidak menebar kebermanfaatan buat orang lain.

Terus kalau saat ini keahlian dan keterampilannya masih segini-segini aja gimana? Ya ditingkatkan. Ada banyak jalur yang bisa digunakan untuk meng-upgrade dirimu, dari yang gratis hingga berbayar.

Mulai tanya-tanya teman sesama blogger hingga mengikuti kursus seputar blogging.

Kalau sudah belajar, praktekkin lalu pasang di web kamu, biar ketika menawarkan jasamu ke klien, sudah ada tuh wujud dari keahlianmu.

Daripada cuma ngomong, kan lebih baik nunjukkin bukti, ya nggak?

Mas Prim

Blogger, content writer & translator freelance. Text me if you need help with your text.

8 Comments

Share opini atau pengalaman kamu tentang topik tulisan ini di sini. Share juga tulisan ini temen-temenmu, jika menurutmu bermanfaat.

&Joy!

  1. Amboi, menginspirasi sekali pengalamannya Mas Prim 😁👍🏻
    Semoga blogku juga bisa menjadi saluran penjemput rezeki.. aamiin 🤲🏻
    Salam kenal ya Mas, aku mampir dari grup Blogverse nih hehe

    Transisi ke PPLnya mantap sekali Mas, smooth like butter 😎

    *komen sebelumnya typo 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga Bang. Terima kasih apresiasinya 😁

      Insya Allah nanti saya sempatkan mampir ke rumah digitalmu ya.

      Delete
  2. Kalau aku lebih memilih menjadi amatiran aja,
    Sadar aja gitu sama tulisan yang acak kadul dan maunya nulis aja gitu tanpa beban. Tulisan kalau dibayar entah kenapa gak siap menerima bebannya. Aku hanya penikmat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. It's okay mas, disesuaikan saja sama tujuan awal ngeblog. Take it easy saja.

      Delete
  3. Sudah pernah dapat cuan dari blog, tapi belum bisa berpikir profesional. Hingga sekarang saya masih blogger amatiran.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena belum ada urgensinya untuk beralih menjadi blogger profesional mbak. It's okay.

      Delete
  4. Iya Yaa mas, blog itu sbnrnya website juga. Tapi selama ini aku mikirnya ya bukan. Website itu kayak kanalnya detik, kumparan, atau website resmi yg isinya beneran informasi penting 😄. Mindset ku masih kesana. Apalagi Krn blog ini hanya buat penyaluran hobi.

    Baca kependekan dari SOW, aku teringatnya malah Source Of Wealth, istilah perbankan saat melakukan KYC kepada nasabah. Utk tau sumber kekayaannya yang akan ditabung di bank dari mana asalnya 😁. Ternyata ada istilah lain yaaa.





    ReplyDelete
    Replies
    1. Bentar, KYC itu merek helm bukan sih? Hehehehe... .

      Delete
Previous Post Next Post