Journalling memiliki banyak manfaat untuk pengembangan diri maupun kesehatan mental. Jadi, mumpung masih awal tahun, menurut saya ini adalah momen yang tepat buat saya untuk mulai melakukan journalling.

Freepik

Kenapa Perlu Melakukan Journalling?

Selain baik untuk kesehatan mentalmu, journalling juga berguna untuk meningkatkan produktivitas dan kreativitasmu. 2 komoditas penting buat blogger.

Ya nggak?

Setidaknya ada 5 manfaat melakukan journalling yang bisa kamu dapatkan:

1. Jurnal Membantu Untuk Menghubungkan Kamu Dengan Nilai-Nilai Pentingmu, Emosi Dan Tujuan-Tujuanmu.

Dengan melakukan journalling tentang apa yang kamu percayai, kenapa, bagaimana perasaanmu dan apa mimpi-mimpimu, kamu bisa lebih paham hubungan aspek-aspek ini dengan lebih baik.

Misalnya nih, kamu kerja di tempat dan pekerjaan yang kamu nggak suka. Akan lebih mudah untuk mengabaikan apa yang kamu rasakan dan bekerja dengan ‘normal’. Toh orang lain juga melakukan hal yang sama dan mereka nggak ngeluh kok.

Namun, dengan menuliskan bahwa kamu nggak suka kerjaanmu, merasa seolah pekerjaan itu merampok kebahagiaanmu dan rasa-rasanya, tidak ada masa depan untukmu di pekerjaan tersebut, akan membantumu memahami apa yang terjadi di dalam dirimu.

2. Jurnal Meningkatkan Kejelasan Mental Dan Fokus.

Satu hal yang bisa sebuah jurnal lakukan untukmu adalah, ‘merapikan’ kekacauan mentalmu.

Anggap saja kamu baru saja pontang-panting menyelesaikan beberapa tugas dengan deadline yang tidak terlalu manusiawi plus drama yang menyertainya, cukup untuk membuatmu merasa hampir meledak.

Namun, ketika kamu mulai menuliskannya ke dalam jurnal, tampak mulai muncul titik terang di sana. Misalnya, tugas apa yang bisa dikerjakan besok, mana yang bisa didelegasikan, dan sebagainya.

Hasilnya, kamu bisa lebih fokus dan memahami tugas-tugasmu, dan keterampilan ini sangat penting untuk dimiliki.

3. Jurnal Dapat Memperkaya Ide Dan Pemahamanmu

Dampak positif dari journalling adalah meningkatkan kejelasan mentalmu, kamu jadi lebih terbuka pada ide-ide yang mungkin kamu lewatkan sebelumnya. Karena saat menulis, kamu sebenarnya sedang melakukan dialog dengan dirimu sendiri.

Saat mulai menulis jurnal, beberapa ide dapat muncul saat membaca tulisanmu itu. Pola-pola perilakumu saat menghadapi masalah, kebiasaan-kebiasaanmu, ketakutan-ketakutanmu, dan lainnya.

Pertanyaan-pertanyaan yang dapat terjawab melalui refleksi diri tapi hanya bisa kamu temukan jawabannya dengan menuliskannya.

4. Jurnal Mencatat Perkembanganmu

Hidup berjalan dan terkadang berjalan terlalu cepat. Kadang, kita tidak sempat untuk berhenti sejenak dan melihat sekeliling atas apa yang sedang kita alami. Suatu hari nanti, kamu akan merasa, eh tahu-tahu sudah di sini.

Menulis jurnal memungkinkan kamu melihat bagaimana kamu sudah berubah sejalan dengan waktu, sehingga kamu bisa melihat apa yang kamu lakukan dengan benar dan kesalahan-kesalahan dalam melangkah.

5. Jurnal Memfasilitasi Perkembangan Diri

Hal terbaik dari menulis jurnal adalah nggak peduli apa pun yang kamu tuliskan, kamu pasti berkembang. Kamu nggak bisa membuka halaman lama dan berkata dengan penuh rasa malu, ”Ih, bego!”

Alih-alih, kamu akan berkata, ”Aku nggak akan melakukan kesalahan itu lagi.”

Memulai Bullet Journal

Ada beberapa cara untuk melakukan journalling, dari sesederhana menulis bebas (freewriting) tentang apa pun yang kamu rasakan, hingga yang cukup populer saat ini yaitu Bullet Journalling.

Saya pertama kali mengenal Bullet Journal dari salah seorang narablog yang kebetulan sama-sama bergabung di sebuah komunitas blogger. Dari situ, saya coba mencari informasi lebih lanjut tentang Bullet Journal dari web aslinya, dan ternyata menarik juga.

bullet-journal-method
Bullet Journal Method

Kenapa saya tertarik dengan Bullet Journal ini adalah, karena metode ini sangat sederhana (kalau versi penciptanya) dan doable. Menurut saya metode Bullet Journal ini bisa saya terapkan untuk keseharian saya sebagai karyawan, bapak dan juga blogger.

Menata Isi Bullet Journal

Tahun lalu, saya pernah mencoba melakukan Bullet Journal dan gagal karena satu hal, saya terlalu fokus dengan desain jurnal saya. Alih-alih sederhana, yang ada malah jadi ruwet sendiri.

Belajar dari pengalaman itu, saya memilih untuk menggunakan Bullet Journal kali ini dengan mengadopsi gaya dari Ryder Carroll, si kreator metode ini, alih-alih meniru gaya si anu dan si inu yang sangat artsy di Instagram maupun Pinterest.


Tujuan saya menggunakan Bullet Journal adalah untuk mengorganisir hidup saya, titik.

Untuk isi Bullet Journal saya pun, saya nggak mau terlalu banyak pernak-pernik ataupun konten-konten yang lebih cenderung menyiksa diri saya daripada memudahkannya. Hanya ada hal-hal dasar yang diajarkan sama si Carroll yaitu:

1. Key

Key adalah symbol yang nantinya akan sering kamu pakai saat melakukan Bullet Journalling. Kamu bisa membuat simbol untukmu sendiri, tapi kalau basic simbol untuk Bullet Journalling ada 5 simbol.

bullet-journal-key
Sheena Of The Journal

2. Index
Tiny Ray of Sunshine

Index ini letaknya ada di halaman depan jurnalmu dan berfungsi sebagai daftar isi jurnalmu, supaya kamu tidak kesulitan dalam mencari konten yang kamu perlukan.

3. Future Log

Tiny Ray of Sunshine

Future Log ini fungsinya untuk mencatat tanggal-tanggal penting di bulan-bulan mendatang. Jadi kamu punya gambaran, apa yang akan terjadi 2-3 bulan ke depan dan apa yang perlu kamu siapkan.

4. Monthly Log

Tiny Ray of Sunshine

Monthly Log ini terdiri dari 2 halaman: halaman kalender dan halaman tugas. Fungsi dari Monthly Log adalah agar kamu punya gambaran, apa saja yang kamu perlu kerjakan bulan ini dan juga menentukan skala prioritas.

5. Daily Log

Tiny Ray of Sunshine

Daily Log fungsinya sebagai catatan harian, mulai dari menyusun perencanaan hingga mencatat hasil dan masalah-masalah yang muncul saat pengerjaan tugas. Bisa juga untuk mencatat pelajaran-pelajaran penting selama pengerjaan tugas.

Alat-Alat Untuk Bullet Journalling

Pada dasarnya, untuk memulai Bullet Journalling, kamu cukup dengan buku dan bolpoin. Ya, bisa juga ditambahkan penggaris, supaya kalau menggambar garis, jadinya lurus, nggak mlethat-mlethot.

Untuk buku ini, memang tidak harus menggunakan buku dotted, buku biasa pun bisa. Cuma kebetulan, kemarin waktu jalan-jalan di sebuah marketplace kok ya saya nemu satu dotted journal dari sebuah brand yang cukup familiar.

Dotted journal yang saya temuin di marketplace

Singkat cerita, saya pun menggunakan dotted journal ini untuk Bullet Journalling saya.

Terakhir, setelah kamu siap dengan Bullet Journal-mu, tentukan waktu yang pas untuk melakukan journalling. Bisa pagi sebelum beraktivitas, atau malam sebelum tidur.  

Kesimpulan

Mumpung di awal tahun, nggak ada salahnya memulai sesuatu yang baru seperti journalling, salah satunya dengan metode Bullet Journalling ini.

Dan, satu hal penting yang saya pelajari dari melakukan Bullet Journalling adalah, jangan mulai dengan mencari apa itu Bullet Journal di Instagram atau Pinterest bukannya segera mulai, yang ada malah keburu pingsan dengan segala pernak-perniknya.

Yang penting mulai saja dulu, tidak sempurna tidak apa-apa. Kan satu-satunya orang yang melihat isi jurnalmu adalah kamu sendiri (kecuali kalau kamu mau share di medsos).

Menurutmu, ada nggak metode journalling selain Bullet Journal yang pernah kamu coba? Punya pengalaman melakukan journalling? Share yuk.