Kamu pernah dengar tentang gaya hidup minimalis atau hidup minimalis? 


Kalau ini adalah pertama kalinya kamu mendengar istilah hidup minimalis ini dan wandering apa itu hidup minimalis, kali ini saya mau share sedikit tentang hidup minimalis dari pengalaman saya pribadi menjalani hidup minimalis.

Miskonsepsi Hidup Minimalis

Saya mengenal minimalisme sebagai sebuah gaya hidup dari duo minimalist asal negeri Paman Sam

Minimalism : Living A Meaningful Life dan Essential adalah dua audiobook favorit saya dan bolak-balik saya putar saat perjalanan berangkat dan pulang kantor.


Dari kedua audiobook itu saya banyak belajar tentang apa itu hidup minimalis. 

Dan, seperti kebanyakan orang saat memulai hidup minimalis, saya pun melakukan kesalahan yang sama...mengira bahwa hidup minimalis diukur dari berapa banyak barang yang saya punya.

Sejak mengenal dan memutuskan untuk menjadi seorang minimalis, banyak hal dalam hidup saya yang rasanya seperti sebuah ironi. 

Katanya minimalis, kok punya sandal lebih dari sepasang? Eh, minimalis kok bajunya sampai 5 biji? Ih, minimalis kok punya mobil.

Rasa-rasanya, saya belum pantas menyebut diri saya minimalist kalau saya masih punya barang ini dan itu. Dan pemikiran ini pun membawa saya untuk gagal paham tentang apa itu hidup minimalis.

Hidup Minimalis, Bukan Tentang Meminimalisir Jumlah Barang Yang Kamu Boleh Miliki

Banyak orang menganggap hidup minimalis adalah tentang menyingkirkan barang-barang, membuang barang dan hidup dengan barang sesedikit mungkin. Semakin sedikit, makin 'minimalist'.

Tidak salah. Namun menurut saya, pemikiran ini, mengurangi barang, itu muncul karena pola konsumsi barang berlebih yang membudaya. Pola perilaku yang timbul karena ajaran nenek moyang kita, semakin banyak semakin baik.

Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, pola pikir semakin banyak = semakin baik, tampaknya mulai tak lagi relevan. Karena dengan semakin banyak yang dimiliki, semakin tinggi pula sumber daya yang diperlukan untuk merawat barang-barang tersebut.

Rumah makin besar artinya semakin tinggi biaya perawatannya, makin banyak pula waktu dan tenaga yang tersedot untuk merawatnya. Akhirnya, makin sedikit sumber daya (waktu, biaya, tenaga dll) yang tersisa untuk mengerjakan hal-hal yang lebih bernilai atau menyenangkan.

Dari situlah, 'gerakan hidup minimalis' datang untuk mengubah tatanan hidup masyarakat dengan cara mengurangi konsumsi barang berlebih.

Jadi, tidak salah bila pada akhirnya hidup minimalis diasosiasikan dengan mengurangi barang-barang.

Sedikit Barang, Semakin Bahagia?

Apa sih hidup minimalis itu dan kenapa kita perlu menjalani hidup minimalis?

Sejauh yang saya tahu, hidup minimalis adalah sebuah alat/media/cara untuk memiliki kehidupan yang lebih bermakna, dengan sedikit barang.

Sedikit itu seberapa? Banyak itu yang seperti apa?

Jawabannya, relatif. Setiap orang memiliki value masing-masing yang berbeda dengan orang lain. Apa yang valuable buat saya, mungkin nggak penting buat kamu,  begitu pula sebaliknya.

Tidak standar atau template tentang cara menjalani hidup minimalis. Hidup minimalis tiap orang berbeda-beda. Karena value, situasi dan kondisi setiap orang tak sama.

Jadi hidup minimalis itu bukan tentang sebanyak atau sesedikit apa barang yang 'boleh' dimiliki seorang minimalis, tetapi bagaimana setiap barang yang dimiliki itu memberi nilai atau membahagiakan si pemilik barang.

Semakin sedikit barang yang kamu punya, tidak akan menentukan seminimalis apa dirimu. Asal kamu bahagia, that's fine.

Lagipula ini bukan tentang memproklamirkan diri bahwa kamu adalah seorang minimalist, tapi tentang bagaimana kamu memaknai barang-barang yang kamu miliki, nilai barang-barang tersebut dan tentang kamu menjadi bahagia yang HQQ.

Pemahat Patung Yang Minimalis


Untuk lebih mudah memahami apa itu hidup minimalis, mungkin cerita pemahat patung ini dapat memberi gambaran yang mudah dipahami.

Alkisah, tersebutlah seorang pemahat patung yang terkenal. Suatu hari ia berhasil menyelesaikan sebuah proyek pengerjaan patung kuda raksasa.

Karena keberhasilannya itu, sang pemahat patung banjir pujian dan apresiasi. Ia pun diundang ke sana-sini untuk menceritakan tips suksesnya membuat patung kuda yang cantik tersebut.

Di salah satu galawicara, seorang peserta bertanya kepada sang pemahat patung rahasia untuk memahat patung tersebut.

Sang pemahat patung diam sejenak, lalu menjawab, "Saya tidak membuat patung kuda itu. Patung kuda itu sudah ada sejak awal di dalam bongkahan batu raksasa."

"Apa yang saya lakukan hanya membuang bagian-bagian yang tidak diperlukan dari patung kuda tersebut," lanjutnya.

Moral Cerita Sang Pemahat Kayu

Seperti halnya pemahat patung ia tidak sekedar menghancurkan bagian-bagian 'tak berguna' dari patung kudanya. Namun ia melakukannya dengan sadar dan bertujuan.

Begitu pula dengan hidup minimalis. Hidup minimalis bukan tentang membuang barang sebanyak-banyaknya. Melainkan membuang barang yang kamu tidak perlukan supaya kamu bisa melepaskan patung kudamu, versi terbaik dirimu, yang mindfull dan bahagia.

Kesimpulan

Nah, dari pemaparan saya tentang hidup mimalis, dapat disimpulkan bahwa hidup minimalis adalah hidup secukupnya. Cukup itu seberapa? Ya kembali ke masing-masing orang

Buat kamu yang tertarik menjadi minimalis, saran saya, kamu tentukan dulu 3 hal berikut ini:
  1. Hidup minimalis versimu;
  2. Barang-barang yang tidak kamu perlukan dan; 
  3. Barang-barang yang kamu perlukan.

Jadi menurutmu, apa sih hidup minimalis itu dan, apa untungnya sih menjalani hidup minimalis?