Profesional vs Amatir, Sebuah Refleksi Dan Evaluasi Diri

Tahu nggak, apa bedanya profesional dan amatir? Simple aja, seorang profesional dibayar. Pertanyaannya, kenapa mereka dibayar?

profesional-vs-amatir

 Cerita Minggu Malam Yang Tak Terlupakan

Hari minggu malam di pekan kedua bulan Februari ini akan jadi salah satu hari tak terlupakan buat saya. Okay, sedikit berlebihan tapi nggak apa-apa lah, biar kamu melek dan semangat baca postingan ini sampai selesai.

Jadi ceritanya, ketika itu saya perlu keluar sebentar ke ATM di salah satu toko franchise mini market dekat rumah. Rencananya sih so simpel, ambil uang lalu pulang.

Singkat cerita, saya pun tiba di mini market tersebut. Saya parkir motor saya, tak lupa saya kunci setirnya. Untuk menambah keamanan, saya pun menutup lubang kunci biar tidak bisa diogrok-ogrok orang yang punya niat jahat.

Sesuai rencana, saya masuk ke mini market, langsung menuju mesin ATM dan menarik sejumlah uang sesuai kebutuhan. Lalu, keluar dan menghampiri motor saya, bersiap untuk pulang. Dan, di sinilah cerita itu bermula.

Penutup kunci motor saya mendadak tidak mau dibuka. Saya coba beberapa kali tapi hasilnya masih nihil. Penutup itu hanya bergerak sedikit tapi tidak mau terbuka. "Waduh, kenapa nih", pikir saya. Jangan-jangan bagian dalamnya berkarat. Lalu saya kembali ke mini market untuk membeli pelumas berbentuk spray.

Saya semprot dengan pelumas (sambil berdoa tanpa henti) dan mencoba untuk membuka penutup kunci tersebut. Dan hasilnya, nihil.

Saya terus mencoba, mulai dengan cara yang lembut hingga cara nekat. Namun, hingga 3 jam berlalu tidak ada perkembangan berarti. Saya makin kalut ketika karyawan minimarket tersebut mulai mematikan lampu, padahal tulisannya buka 24 jam.

Untungnya setelah bertanya dengan salah seorang karyawan mini market itu, saya mendapat informasi kalau mini market itu melakukan strategi tersebut untuk menghindari patroli satgas Covid. Jadi pada dasarnya mini market itu buka 24 jam, tapi pukul 23:00 s.d 01:00 mereka memadamkan lampu.

Akhirnya setelah ngobrol-ngobrol, saya memutuskan untuk menitipkan motor di mini market itu. Keputusan itu saya ambil karena mini market itu ternyata buka 24 jam dan mereka memiliki kamera CCTV untuk mengawasi lahan parkir mereka. Selain itu, motor saya juga tidak sendirian, melainkan 'ditemani' motor karyawan yang masuk malam. Keesokan harinya, setelah menyelesaikan semua urusan domestik, saya kembali ke minimarket tersebut. Dalam hati berdoa semoga motor saya nggak kenapa-kenapa, ini adalah pengalaman pertama dia tidur di luar rumah semaleman soalnya.

Rencana saya hari itu adalah memanggil mekanik karena obyeknya kali ini adalah motor, jadi rasanya nggak relevan kalau saya minta bantuan koki. Opsi kedua adalah minta bantuan tukang reparasi kunci. Untuk opsi kedua ini sebenarnya saya agak sangsi, karena pikir saya, mereka adalah spesialis untuk kunci rumah, sedangkan kali ini yang bermasalah tuh motor, ya walaupun masalahnya di kunci sih.

Namun setelah saya pikir-pikir, saya mau coba opsi tukang kunci dulu. Pertimbangannya, kalau yang ngerjain mekanik, jangan-jangan tar dibongkar semua, which result on harga yang membengkak. Ya sudah, saya coba minta bantuan tukang kunci dulu, tar kalau nggak bisa, baru ke mekanik.

Nunggu lumayan lama karena tukang kunci tersebut perlu waktu kurang lebih 45 menit perjalanan dari rumahnya, ditambah, katanya di daerah sekitar tukang kunci tersebut sedang hujan deras. Alhasil, saya pun harus sabar menunggu.

Kurang lebih 60 menit kemudian, yang ditunggu pun datang. Saya ajak untuk melihat kondisi motor saya dan, guess what, dalam waktu kurang dari 10 menit, blio sukses membuka penutup kunci motor saya. Tentu saja saya senang, dan mengeluarkan uang 30 ribu rupiah untuk jasa blio.

Memang tangannya seorang profesional itu beda sama amatiran ya.

Profesional vs Amatir

profesional-vs-amatir
Pexels

Kembali ke pertanyaan yang saya ajukan di awal postingan ini (boleh scroll up atau tekan Ctrl + Home untuk membacanya sekali lagi), apa bedanya profesional dengan amatir? Jelas, seorang profesional dibayar.

Apakah seorang profesional pasti lebih terampil atau pandai dibandingkan seorang amatir? Ndak mesti. Amatir yang lebih jago dari profesional juga banyak kan? Contoh sederhana saja, apakah koki profesional masakannya pasti lebih enak daripada buatan pasangan kita? Nggak mesti. Namun, yang jelas, apa pun bidangnya, pembeda antara profesional dan amatir itu sesederhana, seorang profesional dibayar, titik.

Bahkan pengertian ini sudah diamini oleh KBBI yang mendefinisikan profesional sebagai: yang bersangkutan dengan profesi, memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya, mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya, dan orang yang terlibat atau memenuhi kualifikasi tertentu dalam profesi.

Pertanyaan berikutnya, why on earth we pay them? Ngapain harus bayar orang untuk melakukan sesuatu? Kenapa nggak dikerjain sendiri saja? Kan lebih hemat beb bukan?

Alasan Kenapa Seorang Profesional Dibayar:

1. Mereka Menyelesaikan Masalah

Alias problem solver. Boleh nggak kita nggak bayar profesional untuk melakukan pekerjaan? Lho nggak apa-apa, asal sudah siap dengan konsekuensinya.

Di kasus saya, tidak membayar seorang profesional (selain karena waktu itu blio udah pulang) adalah saya membayar lebih mahal untuk membeli pelumas hingga waktu yang terbuang percuma. Lebih mahal dibandingkan saya merogoh 30 ribu rupiah untuk membayar seorang tukang kunci profesional yang mampu menyelesaikan masalah tersebut dalam waktu kurang dari 15 menit.

Hasilnya pun sepadan dengan harganya.

Seorang profesional adalah problem solver karena...

2. Mereka Tahu Apa Yang Harus Mereka Lakukan

Pengalaman mendewasakan, katanya. Biasanya seorang profesional adalah orang yang berpengalaman menghadapi beberapa kasus dan menyelesaikannya hingga tuntas, sehingga mereka punya keterampilan yang diperlukan untuk menyelesaikan sebuah tugas.

Semakin banyak pengalaman yang mereka punya, biasanya harganya pun semakin melambung. Namun, harga itu sepadan dengan hasil yang mereka berikan.

3. Mereka Memberi Nilai Tambah Dengan Mengedukasi

Selain bertugas menyelesaikan masalah yang menjadi spesialisasinya, saya pribadi memilih untuk membayar jasa seorang profesional seperti dokter gigi yang pernah saya ceritakan sebelumnya, karena mereka mengedukasi klien mereka untuk mengantisipasi masalah yang sama terulang kembali bahkan mengidentifikasi potensi masalah yang tidak bisa terselesaikan ketika itu (misalnya karena terkendala batasan kontrak atau tambahan biaya yang tidak disepakati oleh kedua pihak).

Bagaimana Denganmu? Sudah Seprofesional Apa Sih Kamu?

Jadi singkatnya, seorang profesional adalah orang yang dibayar karena mereka menyelesaikan masalah, tahu apa yang harus dilakukan dan mengedukasi klien mereka. Nah, sekarang mari kita alihkan pandangan ke diri kita masing-masing dengan pekerjaan maupun bisnis yang kita geluti saat ini.

Kira-kira nih, dari skala 1-10 berapa sih nilai yang kamu berikan untuk dirimu sendiri terkait tingkat profesionalitasmu? (Moga-moga 10...moga-moga 10....moga-moga 10, fingercross).

Kalau ternyata skornya belum 7, kudu ngapain nih biar skornya bisa upgrade tahun ini?

Mengacu ke poin-poin yang membuat seorang profesional dibayar, kira-kira seperti inilah yang kamu (dan saya) bisa dan perlu lakukan untuk mendongkrak skor profesionalitas kita di bidang kerja kita masing-masing:

1. Selesaikan Masalah

People don't pay you for what you know, they pay you for what you can do (for real). Di dunia kerja apalagi masa sekarang ini, orang tuh udah nggak peduli dengan gelarmu yang lebih panjang dari masa penantian akan kejelasan hubunganmu bersamanya. Yang mereka pedulikan adalah, kamu bisa nggak menyelesaikan pekerjaan yang mereka berikan ke kamu.

Hidup mereka udah cukup bermasalah tanpa kehadiranmu. Harapannya, kamu bisa membantu menyelesaikan masalah mereka dengan pengetahuan, pengalaman dan keterampilanmu. Karena untuk itulah mereka bayar kamu.

Ubah pola pikir kamu yang sebelumnya berharap disukai oleh orang lain (klien/atasan/rekan kerja) menjadi, bagaimana kehadiranmu menjadi solusi atas permasalahan yang mereka hadapi.

Supaya kamu bisa menjadi seorang problem solver, kamu harus...

2. Kompeten Di Bidangmu

Kuasai betul keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk menjadi seorang ahli di bidangmu. Jangan lupa, kita hidup di dunia yang perubahannya begitu cepat dan nggak jarang perubahannya tuh awur-awuran. Selain menguasai keahlian wajib, terbukalah dengan perubahan.

Konsisten itu harus, tapi jangan bebal. Kalau kamu adalah seorang trainer profesional, nggak bisa dong kamu keukeh cuma mau ngasih training luring di masa pandemi seperti hari ini. Mau nggak mau, kamu juga harus bisa adaptasi dengan perubahan.

Apalagi kalau profesimu berhubungan dengan algoritma Google yang gonta-gantinya udah kaya minum obat. Udah pasti kamu harus sangat sangat adaptif dengan perubahan. Ya nggak?

3. Jadilah Seorang T-Person

Seorang profesional itu biasanya seorang spesialis di satu bidang tertentu. Namun, hanya karena kamu adalah seorang spesialis, bukan berarti kamu hanya cukup menguasai keterampilan intimu saja. Kuasai juga keterampilan-keterampilan lain yang menunjang profesimu.

t-competency

Jadilah seorang T-Person, yaitu orang yang memiliki beberapa keterampilan dan pengalaman (bagian atas huruf T) dan spesialis di satu bidang tertentu (bagian vertikal huruf T).

Contohnya nih, saya sebagai seorang penulis dan penerjemah lepas, memang saya harus menguasai betul teknik dan tata cara penulisan dan penerjemahan karena itu adalah spesialis saya. Namun, saya juga wajib menguasai keterampilan lainnya seperti negosiasi, pemasaran, bahkan pengelolaan uang hingga peraturan perpajakan.

4. Ganti Kata-Katamu

Karena seorang profesional adalah seorang problem solver, maka mereka harus bisa atau setidaknya mau mencoba mencari cara untuk menyelesaikan masalah tersebut. Kalau kamu adalah orang yang terbiasa mengatakan "Ya, nggak bisa" ketika menghadapi masalah, ubah kata-katamu itu dengan "Bisa nggak ya?".

Kenapa begitu, dengan mengubah pernyataan "Ya nggak bisa" dengan pertanyaan "Bisa nggak ya?" kamu akan melatih otakmu untuk mencari solusi. Ingat, kamu kan profesional, artinya kamu adalah problem solver, jadi solve the problem. That's it.

Kalaupun memang udah notok njedok mentok, ya sudah. Punyai prinsip, kalah hari ini tapi bangkit lagi esok. Kalau hari ini masalahnya nggak terselesaikan, coba cari caranya lain waktu. Percaya kalau everything is figureoutable.

Kesimpulan

Satu perbedaan paling mencolok antara seorang profesional dan amatir adalah, profesional dibayar. Udah gitu aja. Kenapa mereka dibayar? Karena mereka punya yang diperlukan untuk membantu orang lain menyelesaikan masalah mereka, sehingga orang pun nggak keberatan merogoh kocek untuk membayar jasa seorang profesional.

Menurutmu, ada nggak kriteria lain yang bisa kita sematkan untuk seorang profesional? Anyway, how about us? Menurutmu sudah pantas nggak sih kita mengklaim diri kita sebagai seorang profesional di bidang yang kita geluti?

Mas Prim

Blogger, content writer & translator freelance. Text me if you need help with your text.

6 Comments

Share opini atau pengalaman kamu tentang topik tulisan ini di sini. Share juga tulisan ini temen-temenmu, jika menurutmu bermanfaat.

&Joy!

  1. Diriku tersentil baca tulisan ini. Langsung meraba2, aku udah profesional belum sih. Keahlianku apa dan selama ini aku udah jadi problem solver yg baik atau belum. Terima kasih mas tulisannya sangat menginspirasi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih apresiasinya. Semoga jadi reminder buat kita semua (terutama saya).

      Delete
  2. Paling ga bisa ngevaluasi diri, kudu sama orang lain, khususnya kalau dipanggil HR. Tapi mudah2an udah profesional lah.

    Yg pasti lebih profesial mekanik atau tukang kunci itu, ketimbang beberapa pejabat yg ga tau kerjanya apa, yg kalau gerak malah bikin masalah baru hihi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha...wah agak jauh nih kalo ngomongin pejabat. Gimana kalau jadi bahan introspeksi dulu aja 🤭

      Delete
  3. Wahh kalau aku melihat diriku sendiri seperti sudah oke banget, tapi gatau kalau orang menilai diriku seperti apa. Tapi syukurlah kalau ada butuh sesuatu terkait suatu hal masih sering dipanggil. Semoga bisa ahli dan bersertifikasi dibidang itu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aammiin. Certified would be better, tapi biasanya marketing mulut ke mulut lebih powerful daripada jalur resmi hehehehe... .

      Delete
Previous Post Next Post