Menjadi Freelancer Yang Makin Produktif Bersama ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400)

Jadi freelancer, tekad atau nekat?


Kalau kamu saat ini tengah gamang dengan situasi dan kondisi pekerjaanmu saat ini dan terbersit dalam sanubari untuk beralih profesi menjadi seorang freelancer alias pekerja lepas, sebaiknya kamu baca dulu tulisan berjudul “Memulai Karir Sebagai Freelancer, Tekad atau Nekad?” dari Teh Langit ini.

Curhat Cerita Saya Memilih Karir Sebagai Freelaancer

Setiap orang tentunya punya jalan ninjanya ceritanya sendiri saat memilih berkarir sebagai seorang pekerja lepas. Ada yang memilih ‘jalur’ freelance karena memang ingin mengejar passion mereka, ada pula yang menjadikan karir freelancer sebagai ‘pelarian’ karena bosan dan jenuh dengan pekerjaan mereka saat ini (baik pekerjaannya maupun drama-drama yang menyertainya), ada juga sih yang menjadi freelancer karena keadaan yang dikondisikan Tuhan, contohnya…saya.

Sebelum memulai karir sebagai freelancer dengan spesialisasi di dunia menulis dan penerjemahan, saya bekerja di sebuah perusahaan manufaktur di Sidoarjo, Jawa Timur selama kurang lebih 10 tahun.

Namun, seperti halnya cuaca yang selalu berubah, demikian pula dengan situasi dan kondisi pekerjaan. Perubahan adalah sesuatu yang wajar, kan semua pasti berubah kecuali perubahan itu sendiri kan.

Hanya saja, sederas dan sekencang apa pun perubahan tersebut, kita juga berhak kok memilih, apakah akan ikut dalam arus perubahan tersebut atau, memilih untuk berkata “Tidak” ketika arus perubahan mulai tak terkendali.

Hal itu pula yang saya alami di posisi pekerjaan saya terakhir. Ketika perubahan-perubahan mulai tak terkendali dan bersinggungan dengan nilai-nilai pribadi, di saat itulah saya merasa gamang.

Di satu sisi, pekerjaan tersebut adalah sumber mata pencaharian saya selama 10 tahun ini untuk menafkahi keluarga. Sementara, di sisi lain, tekanan-tekanan pekerjaan mulai bersinggungan dengan nilai dan prinsip pribadi. Sebagai orang yang sudah berkeluarga, tentu bukan perkara mudah untuk mengambil keputusan apakah harus stay atau leave.

Istri memang bekerja, tetapi saya tidak bisa terus mengandalkan penghasilan dari istri, terlebih, mencari nafkah adalah tugas dan tanggung jawab saya sebagai kepala keluarga.

Namun, setelah berdikusi dengan istri d7an mempertimbangkan beberapa hal, akhirnya dengan mengucap Bismillah, saya pun memilih untuk pergi.

Beberapa pertimbangan saya memilih pergi antara lain dari sisi beban kerja yang designed to fail. Artinya, target kerja yang ditetapkan itu tidak masuk akal dan tidak mungkin tercapai. “Kenapa nggak bilang?” Tentu saja saya sudah sampaikan, tapi tidak mengubah apa pun. “Mbuh piye caramu” adalah respon yang hampir selalu saya terima ketika mengalami kesulitan.

Karena sistem yang digunakan adalah sistem Mbuh Piye Caramu (MPC), ya sudah, saya coba untuk ikuti. Dan ya memang benar MPC, yang penting selesai. Terlepas dari kenyataan bahwa saya harus bawa pulang kerjaan, begadang semalaman untuk menyelesaikan tugas yang deadline­-nya besok pagi tapi baru dikasih sore hari.

Walaupun pola hidup seperti itu jauh dari kata sehat, tapi toh tetap saya lakukan karena ya itu tanggung jawab saya. Persetan lah dengan kesehatan, yang penting pekerjaan selesai. Pikir saya. Hingga akhirnya, di bulan Juli lalu, kakak saya harus berangkat bersama jamaah Covid gelombang kedua untuk kembali ke Rahmatullah. Saat itu saya harus pamit ijin untuk tidak masuk. Waktu berlalu, suatu ketika saya mengalami masalah parah dengan motor saya yang mengharuskan saya absen untuk memperbaikinya. Saya pun mengabarkan hal ini kepada atasan.

Esoknya, kebetulan sekali ada masalah dengan penyelesaian pekerjaan saya. Dan, satu hal yang masih saya ingat sampai hari ini, saat itu atasan saya marah-marah panjang lebar dan hingga pada suatu titik, menyinggung tentang absen saya karena urusan almarhumah kakak saya. Hal yang jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan topik bahasan rapat sore itu.

Memilih Untuk Pergi

Banyak yang mengatakan kalau memilih pergi adalah sebuah keputusan bodoh. Apalagi dengan kondisi belum memiliki pekerjaan baru dan situasi pandemi yang pastinya akan serba sulit untuk mencari pekerjaan. Belum lagi usia yang sudah cukup banyak.

Mungkin keputusan ini adalah sebuah kebodohan, tetapi saya rasa bertahan di lingkungan yang tidak menghargai saya, juga bukan pilihan yang bijaksana.

Karena itulah, dengan mengucap Bismillah, saya memilih untuk pergi.

Next plan? Menjadi penulis lepas.


Indahnya Hidup Seorang Freelancer

Tahun ini, resmi menjadi awal karir saya di dunia freelancing. Berbekal keterampilan menulis yang saya dapat dari pengalaman 2 tahun menjadi content writer dan berbahasa Inggris yang cukup baik, hasil dari berkomunikasi dengan ekspatriat selama bekerja di perusahaan manufaktur.

Apakah saya menikmati karir baru saya sebagai penulis dan penerjemah lepas? Tentu saja. Sebagai seorang penulis dan penerjemah lepas, saya memiliki fleksibilitas dalam hal mengatur jam kerja saya. Saya juga bisa bekerja sambil menemani dan mengawasi anak sekolah daring. Ya walaupun terkadang perlu memasang headset supaya konsentrasi tidak terganggu.

Apalagi saat ada kunjungan tak terjadwal dari warga sekitar yang pernah saya alami dulu (cek ceritanya di sini).

Enak banget kan jadi freelancer alias pekerja lepas?

Ya, seperti cerita Teh Langit dan saya yakin beberapa pekerja lepas lainnya juga alami, salah satu tantangan yang dampaknya signifikan sebagai seorang pekerja lepas adalah ketidakpastian penghasilan. Dulu berpenghasilan tetap, sekarang…tetap berpenghasilan sih, walau nominalnya yang tidak tetap.

Karena itulah, saya setuju sekali bahwa menyiapkan dana darurat adalah prioritas buat semua orang, apalagi yang sudah berkeluarga.

Sederhananya begini, mewujudkan mimpi besar itu perlu waktu. Sementara kebutuhan hidup akan terus ada sembari mimpi tersebut dalam proses untuk direalisasikan. Orientiasinya memang masa depan, tapi hidupnya kan hari ini.

Tantangan Menjadi Penulis Lepas

Selain pemasukan yang tak pasti, sama tak pastinya dengan janji manis seseorang, tantangan lain yang saya hadapi sebagai seorang penulis lepas adalah kendala teknologi.

Menjadi penulis lepas tentunya kan, pekerjaannya tidak akan lepas dari penggunaan komputer atau laptop. Masalahnya, laptop yang saat ini saya punya adalah laptop sejak zaman saya nangis-nangis hampir nyerah saat menyelesaikan skripsi. Sebagai informasi, saya wisuda tahun 2010, dan sekarang sudah tahun 2022. Kebayang nggak, udah berapa kali tuh Microsoft memperbarui sistem operasi mereka.

Alhasil, program-program lain pun latah memperbarui spesifikasi piranti mereka yang berdampak pada kompatibilitas program tersebut di laptop saya yang masih ditenagai dengan Windows XP.

Bahkan, sekedar mengakses Google Docs saja tidak bisa. Padahal, sekarang zamannya file sharing melalui cloud. Apalagi kalau kerjanya dengan klien overseas. Kan susah kalau saya harus kirim paket flashdisk ke sana.

Jadi, sepertinya inilah momen untuk upgrade laptop supaya saya bisa responsif terhadap segala tuntutan pekerjaan. Di samping juga memungkinkan saya untuk menginstal program-program desain dan upgrade keterampilan desain saya, sehingga membuka peluang lebih banyak ke depannya.

Menjadi Freelancer Produktif Dengan Laptop ASUS ZenBook 14X OLED (UX5400)

Beberapa waktu lalu saat sedang blogwalking di blog salah seorang kawan blogger., saya melihat salah satu postingannya yang membahas tentang laptop Asus ini. Karena penasaran, saya pun mencari-cari informasi lebih lanjut tentang laptop ini melalui review-review di Youtube.


Beberapa kelebihan yang sukses bikin saya mupeng dengan laptop Asus ZenBook 14X OLED (UX5400) ini antara lain:

1. Desain ringkas dan ringan

Dengan tebal 16,9 mm dan bobot 1,4 kg, tentunya laptop ini akan sangat memudahkan kinerja seorang freelancer yang menuntut mobilitas tinggi.

Memang sih saat ini, masih tertolong teknologi daring, sehingga aktifitas masih bisa berlangsung tanpa tatap muka, seperti peliputan even (untuk klien lokal). Namun melihat kondisi saat ini, tampaknya tak lama lagi aktifitas akan kembali berlangsung seperti sedia kala (tatap muka).

Dengan situasi seperti ini, tentu saja akan sulit bila saya masih menggunakan laptop binaraga saya seberat 2.3 kg ini.


Satu lagi kelebihan laptop ini dari sisi desain adalah mekanisme 180°ErgoLift Hinge yang membuat laptop ini tidak hanya dapat dibuka 180° agar mudah dalam penggunaan kolaboratif (misalnya, presentasi draft ke klien atau rekan satu tim), tetapi juga mengangkat bodi utamanya yang membuat posisi mengetik jadi lebih nyaman saat mode clamshell.

2. Layar OLED Yang Ramah Mata

Sebagai freelancer yang kesehariannya tak bisa jauh-jauh dari layar laptop, membawa risiko kesehatan mata untuk jangka panjang. Hal ini terjadi karena paparan radiasi sinar biru yang berbahaya untuk mata terjadi terus menerus.

Namun, dengan teknologi ASUS OLED yang bersertifikat low blue-light dan anti-flicker dari TUV Rheinland, layar ASUS ZenBook 14X OLED (UX5400) terbukti lebih aman untuk kesehatan mata dan membuat berada di depan laptop untuk waktu lama tak akan membuat mata lelah.


Dengan dukungan fitur HDR yang tersertifikasi VESA, layar ASUS ZenBook 14X OLED (UX5400) mampu mereproduksi warna yang sangat kaya dengan color gamut mencapat 100% pada color space DCI-P3. Warna yang dihasilkan pun memiliki tingkat akurasi tinggi dan terserttifikasi PANTONE Validated Display.

3. Fitur ScreenPadTM Multifungsi

Selain berfungsi sebagai touch pad, ScreenPadTM pada ASUS ZenBook 14X OLED (UX5400) juga dapat digunakan sebagai layar kedua. Misalnya saya mau nulis sambil cari-cari music pengantar tidur di Youtube, saya bisa gunakan layar kedua ini daripada harus gonta-ganti layar dari word processor ke Youtube.


Artinya, aktifitas multitasking pun jadi lebih mudah dan cepat.
 

4. Konektivitas Lengkap

ASUS ZenBook 14X OLED (UX5400) hadir dengan opsi konektivitas lengkap yang memudahkan ketika kita membutuhkan perangkat tambahan dalam bekerja. 


Opsi-opsi sambungan ke perangkat tambahan yang dimiliki laptop ini meliputi:
  • HDMI 2.0;
  • USB 3.2 Gen2 Type-A;
  • MicroSD; dan
  • 3.5 mm audio jack;
  • USB Type-C ThunderboltTM 4; dan
  • WiFi6.

5. Dapur Pacu Mutakhir & Modern

Walaupun saya bukan penggemar membuka 100 aplikasi sekaligus, tetapi menurut saya, laptop yang powerful untuk multitasking penting sekali untuk menunjang produktivitas freelancer seperti saya.


Laptop modern ASUS Zenbook 14X OLED (UX5400) ditenagai oleh 11th Gen Intel® CoreTM Processors dengan chip Intel® Iris® Xe Graphics dan juga NVIDIA® Geforce® MX 150.

Dibandingkan pendahulunya, ASUS ZenBook 14X OLED (UX5400) hadir dengan baterai berkapasitas 63Whr sehingga daya tahan baterainya pun lebih panjang. Kehabisan baterai saat hendak melakukan liputan event pun tak jadi masalah sekarang, karena ASUS ZenBook 14X OLED (UX5400) memiliki fitur fast charging yang memungkinkan pengisian hingga 50% dalam waktu 30 menit.




Kesimpulan

Apa pun motivasi kamu untuk menjadi seorang freelancer, baik karena pilihan atau keadaaan, saya ingin mengutip satu kalimat terakhir dari Teh Langit:

Everything will be okay

Memulai sesuatu yang baru, meninggalkan sesuatu yang sudah kita biasa lakukan selama bertahun-tahun memang bukan perkara mudah. Namun, selama kita tekun dan mau berproses serta tak lupa menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya, yakinlah kalau semua akan baik-baik saja.

Memiliki alat penunjang yang memadai memang penting untuk memulai, tetapi jangan tunggu segala sesuatunya menjadi sempurna untuk memulai.

Bermimpi besar dan mulai ambil langkah kecil.

• • •

Artikel ini diikutsertakan dalam ASUS Zenbook 14X OLED (UX4500) Writing Competition bersama bairuindra.com.


Mas Prim

Blogger, content writer & translator freelance. Text me if you need help with your text.

1 Comments

Share opini atau pengalaman kamu tentang topik tulisan ini di sini. Share juga tulisan ini temen-temenmu, jika menurutmu bermanfaat.

&Joy!

  1. Mas, kalo sampe aku ada di posisimu, yg kerja pake prinsip MPC, akupun bakal keluar, ga pake ragu2. Ga sehat, daripada stress kerja di tempat yg begitu, ya mendingan usaha sendiri. Aku keluar dari kantorku yg lama, itu juga Krn ga cocok prinsip Ama management. Aku milih kluar drpd bertahan, dan stress.

    Laptopku udah sekarat banget iniiii 🤣🤣. Mau beli yg baru, tapi galau milih yg mana. Sbnrnya udah lama tertarik Ama Asus sih, apalagi yg OLED begini... Harga sebandinglah Yaa Ama kualitasnya. Tapi suami pengen brand lain, sementara aku LBH suka si Asus. Jadi kami masih discuss dulu mau pilih yg mana 🤣. Aku jadinya kalo ngepost tulisan baru, pake laptop kantor suami 😅

    ReplyDelete
Previous Post Next Post