Alhamdulilah, Proses Klaim JHT Secara Online Ternyata Mudah

Bulan Februari lalu menjadi sebuah 'ketar-ketir moment' buat saya, menyusul penetapan peraturan baru tentang pencairan dana JHT.

bpjs-jht

Setelah resign dari sebuah perusahaan multinasional di Sidoarjo, Jawa Timur dan memilih berkarir sebagai seorang freelancer, JHT merupakan salah satu bagian dari rencana saya untuk merintis karir saya sebagai freelancer.

Dan, saat mendengar bahwa Kementerian Tenaga Kerja mengeluarkan aturan baru terkait syarat pengajuan JHT hanya dapat dilakukan ketika peserta mencapai usia pensiun (56 tahun), mengalami cacat tetap total atau meninggal dunia, di saat itulah dunia terasa lindu.

Bukan apa-apa sih, saya setuju dengan filosofinya untuk memaksimalkan manfaat JHT sebagai golden parachute bagi para peserta untuk menjalani masa pensiun atau ketika kehilangan produktivitasnya. Artinya, secara fitrahnya JHT ini memang dibuat dengan orientasi ke masa depan.

Namun, masa pensiun seseorang itu kan tidak melulu di usia 56 tahun. Jikalau orang itu memilih pensiun dini, seperti saya misalnya, tabungan JHT tersebut berguna sekali untuk setidaknya 2 hal: modal usaha dan income replacement untuk memenuhi kebutuhan dapur sambil membangun bisnis baru.

Apalagi bila orang tersebut 'kurang beruntung' karena pergi tanpa menerima pesangon dari perusahaan terakhir mereka. Tentunya, dana JHT cukup mampu menjadi ban serep untuk menjaga stabilitas ekonomi keluarga.

Aturan Baru Batal Berlaku

Menyikapi peraturan baru terkait syarat dan ketentuan pencairan dana JHT tersebut, banyak rekan-rekan pekerja yang protes dan menggelar aksi unjuk rasa menolak penetapan Permenaker 2 Tahun 2022.

Hingga akhirnya Presiden mengeluarkan instruksi untuk mengembalikan aturan pencairan JHT sesuai Permenaker 19 Tahun 2015. Walaupun tidak sedikit yang mempertanyakan skenario apa lagi yang sedang dimainkan para elite politik kita, tetapi buat saya pribadi, yang penting rencana awal terlaksana.

Aturan Baru Batal Berlaku

Walaupun demikian, mengingat kegalauan-kegalauan yang sering dialami para petinggi negeri ini, saya tetap harus bergegas untuk memproses pencairan dana JHT saya. Kan susah kalau nantinya tiba-tiba, ada yang jawil dan mendadak ganti lagi aturannya.

Di tulisan ini, saya mau berbagi pengalaman saya memproses dari awal hingga, Alhamdulillah, manfaat JHT saya terima.

Proses Klaim Manfaat JHT s.d Cair

Oh iya, sebelum melakukan proses klaim sebaiknya kamu periksa dulu apakah kepesertaan kamu masih aktif atau tidak. Kamu bisa melakukannya dengan mengakses  situs resmi BPJS atau menghubungi rekan HRD tempatmu kerja terakhir.

Setelah kamu memastikan bahwa status kepesertaan kamu non aktif, akan ada masa tunggu 1 bulan sebelum akhirnya kamu bisa mengajukan klaim manfaat JHT. Nah sebaiknya kamu cek ke rekan HRD terkait tanggal nonaktif kamu, sehingga kamu bisa ancang-ancang buat menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk proses pengajuan klaim.

syarat-dokumen-klaim-jht-bpjs
jakarta.ayoindonesia.com

Dokumen-dokumen ini bisa kamu siapkan soft file-nya terlebih dahulu. Atau kamu siapkan saja dokumen hard copy-nya lalu nanti tinggal kamu foto saat proses mengunggah dokumen.

Cara Klaim Manfaat JHT


Proses klaim JHT ini terdiri dari 4 tahapan yaitu: unggah dokumen, cek kelengkapan dokumen, verifikasi dan konfirmasi ke perusahaan, dan pembayaran.

1. Unggah Dokumen

Pertama akses lapakasik.bpjsketenagakerjaan.go.id dan isikan data-data sesuai yang kolom yang tersedia. Ingat, hanya isikan data yang diminta.

Kalau tidak diminta, nggak perlu kamu sebutkan seperti warna favorit, berapa kali ditinggal nikah dll. Yang seperti ini kamu simpan di buku diary-mu saja.



Setelah data-data kamu isikan, dan dokumen-dokumen pelengkap sudah kamu unggah semua, nanti kamu akan terima email konfirmasi sekaligus jadwal video call dari pihak BPJS.


2. Cek Kelengkapan Dokumen

Tahap kedua adalah pemeriksaan kelengkapan dokumen. Waktu itu si mbak dari BPJS menghubungi saya untuk memeriksa semua kelengkapan dokumen klaim.

Nah ketika pemeriksaan dokumen ini saya ternyata tidak memiliki surat keterangan kerja dari 2 perusahaan sebelumnya. Hmm…ternyata surat keterangan kerja itu penting ya untuk diminta setelah kita resign 😅

Solusinya dari pihak BPJS menerbitkan surat pernyataan yang harus kita isi lengkap dan tandatangani kemudian kita scan dan kirim ke mbak BPJS yang menghubungi kita. Alhamdulillah, dipermudah.

Singkat cerita VC singkat selama 10 menit itu pun selesai dan si mbak menginformasikan bahwa maksimal proses pencairan dana JHT adalah 5 hari kerja.

Dan sekarang yang saya lakukan hanya menunggu.

3. Verifikasi dan Konfirmasi ke Perusahaan

Untuk proses ini, saya nggak ikut-ikut, jadi saya nggak bisa cerita banyak. Sepertinya ini antara BPJS dan perusahaan saja.

4. Pembayaran

Sesuai janji mbak BPJS, klaim akan dibayarkan maksimal 5 hari kerja. Namun entah kenapa ada dorongan yang meledak-ledak di dalam kalbu untuk memeriksa rekening tabungan. Dan Alhamdulillah dana JHT senilai itu sudah ditransfer ke rekening saya.

Sebagai suami yang bertanggung jawab, saya pun segera mengabarkan hal ini ke ibu negara. Pertama, karena ibu saya mengajarkan kalau suami harus menyerahkan semua uang kepada istri dan kedua, uang itu nasibnya lebih sejahtera kalau yang pegang istri saya.

Kesimpulan

Alhamdulillah dana JHT saya sudah cair. Namun dari kejadian ini saya belajar bahwa ternyata surat pengalaman kerja itu penting untuk kita miliki. Di samping itu, saya juga salut dengan BPJS yang memudahkan proses klaim saya.

Namun kalau diizinkan, saya mau memberi saran terkait proses video call. Sebaiknya VC dilakukan menggunakan nomor resmi BPJS, minimal menggunakan akun Whatsapp Business. Soalnya saya sempat ragu ketika dihubungi oleh mbak BPJS itu. Pasalnya foto profilnya pun tidak ada.

Karena itu demi keamanan, sebaiknya proses video call dilakukan menggunakan nomor resmi.

Nah itulah cerita saya mengajukan proses klaim JHT. Kamu punya pengalaman serupa? Yuk share.

Mas Prim

Blogger, content writer & translator freelance. Text me if you need help with your text.

23 Comments

Share opini atau pengalaman kamu tentang topik tulisan ini di sini. Share juga tulisan ini temen-temenmu, jika menurutmu bermanfaat.

&Joy!

  1. Aku bersyukur udah cairin JHT pas 2020 akhir kemarin. 6 nulan setelah resign. Tapi Krn masih oandemi, yg bikin ribet itu Krn dilempar sana sini mas. Krn waktu itu ga tau hrs online. Jadi aku DTG ke kantornya. Trus disuruh isi form, tapi ntr di submit by wa 😂. Trus, udah disubmit tuh , berdasarkan urutan yg mereka minta, semua komplit loh, eh 2 bulan kemudian, DTG lagi masalah. Mereka bilang ada yg kurang. Krn nominal yg aku teima di atas 100 juta, harus ada approval dari HRD nya HSBC, kantorku sebelumnya utk approve transaksi.

    Bingung loh aku, kenapa juga masih ada urusan ma HSBC gitu loh. Dan aku jadinya cuma nunggu sampe itu HSBC approve. Makan waktu 1 bulanan... Bisa jadi Krn pandemi jadi HR nya riweuh, ga liat email atau si JHT nya yg lupa submit 😂😂.

    Pokoknya setelah nunggu lamaaa, baru deh cair ke rek ku. Agak bingung Ama DPLK Manulife yg aku dapet juga dari kantor pas resign . Padahal dengan jumlah yg jauh lebih besar, itu semua settle dlm 5 hari.

    Tapi ya sudahlah yaaa, namanya juga birokrasi pemerintah. Diikutin aja 😄. Pada akhirnya semua masuk rekening sih. Itu yg penting

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ribet juga ya. Mungkin pas awal-awal pandemi, banyak PHK-an jadinya si BPJS-nya kelimpungan apa ya.

      Kalau yang urusan sama perusahaan sebelumnya itu harusnya sih BPJS-nya vs perusahaan memang.

      But yoweslah, yg penting dana sudah masuk rekening 😁

      Delete
  2. Jadi langsung cairin ya Mas Prim, setelah ada isu gak enak yang kemarin2 hehe.

    Saya pun pas dulu resign, langsung dicairin aja JHT-nya, daripada mendem di pihak lain kan takut ada apa2 hehe.

    Tapi syukurlah kalau skrg peraturannya udah kembali ke asal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sekarang dah balik ke aturan sebelumnya.

      Iya mbak, Insya Allah kalau uang aja, bisa lah kita manage sendiri. 😁

      Delete
  3. Alhamdulillah aturan yang kontroversi tentang pencairan JHT itu nggak jadi diberlakukan ya.
    Alhamdulillah juga proses pencairannya lancar, walau ada dokumen yang nggak ada, bisa diganti dengan surat pernyataan saja. Kebayang repotnya kalau harus melengkapi dokumen ini, mesti pergi ke perusahaan yang udah lama ditinggalkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, tapi entah ya faktor CS-nya atau enggak, giliran istri saya ngajukan dan ga punya dokumen SK dari perusahaan sebelumnya itu malah ga diproses.

      Sarannya pun ga solutif sama sekali.

      Delete
  4. Beuhh keinget kemaren rame banget ini masalah kebijakan JHT. Alhamdulillah kalau udah bisa kembali ke aturan lama yah. Btw, sebenernya prosesnya mudah yah asal kelengkapan dokumen terpenuhi. Penting emang punya surat keterangan kerja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi anehnya mbak, istri saya yang ga punya SK dari tempat lamanya ga bisa cairin dan ga ditawarkan untuk buat surat pernyataan.

      Malah disuruh ke Jakarta, tempat kerja yang lama biar kantor lamanya laporan ke BPJS.

      Ya kalau resignnya baru kemaren. Lah ini udah 13 tahun lalu e. Ga solutif blas.

      Delete
  5. alhamdulillah ya sudah cair kak, teman kerja yang baru pensiun juga mempunyai pengalaman yang ama sengan pengalaman kakak, kali ini dipermudah oleh petugas NPJS

    ReplyDelete
  6. Syukurlah kalau JHT akhirnya cair dan sudah tersimpan rapi oleh ibu negara. Jadi inget suami zaman di phk beberapa tahun yl. Entah kami salah di mana, pesangon di setorkan ke sebuah bank, alih-alih investasi malah masuknya asuransi. Setelah 3 tahun baru sadar, bukannya berkembang, tetapi berkurang. Kapok deh ikut investasi tapi berupa unit link. Harus belajar banget...

    ReplyDelete
  7. WahyuindahMarch 31, 2022

    Alhamdulillah ya sekarang apa apa sudah dipermudah. Semoga ini bisa jadi contoh instansi lainnya agar lebih mengutamakan kepentingan rakyat.

    ReplyDelete
  8. dahulu malah belum sempat klaim setelah resign keburu pindah lokasi tinggal, selalu ada jalan ketika akan klaim jht apalagi pasca resign

    ReplyDelete
  9. sempet ngikutin berita tentang JHT yang sempet kisruh ya, tapi untunglah ya kak Prim pencairannya lancar dan bisa dibilang cepet ya?

    ReplyDelete
  10. Kalau saya, pastinya juga akan segera mencairkan. Lebih baik untuk ditaruh di tempat lain yang lebih pasti. Tapi sayangnya saya ga punya. Jadi cuma bisa baca pengalaman ini saja.

    ReplyDelete
  11. Baca artikel ini jadi nambah pengalaman saya yg belum pernah ngurus JHT. Bisa jadi referensi untuk saya kalau suatu saat mengurusnya juga.

    ReplyDelete
  12. Kasak-kusuk pun selesai. Alhamdulillah pencairan JHT kembali lagi sesuai Permenaker 19 Tahun 2015.

    ReplyDelete
  13. Aku juga sempat tahu kalau ada perubahan peraturan pencairan JHT. Sempat bersyukur aku udah nyairin JHT ku. Tapi ternyata. Hehehe

    ReplyDelete
  14. ya Ampun surat keterangan kerjaku di mana ya? udah 7 tahun yang lalu, wah lumayan deh ini buat jajan beli domain padahal yaa

    ReplyDelete
  15. Wah sama banget, saya juga baru cairin JHT di bulan Februari kemaren. Dan emang mudah banget bisa klaim via online. Setelah VC, besoknya langsung ditransfer.

    Kalau saya untung banget pas keluar perusahaan langsung dikasih surat keterangan kerja oleh HRDnya.

    ReplyDelete
  16. Alhamdulillah ya, peraturan dan kebijakan soal JHT ini dikembalikan lagi seperti semula. Repot juga kalau harus kehilangan "pegangan" ketika memutuskan resign dari kantor

    ReplyDelete
  17. Alhamdulillah, lega banget akhirnya kembali ke kebijakan lama yaa kak. Beneran deh ini membantu banget untuk teman2 yang "resign"

    ReplyDelete
  18. Klaim JHT sekarang mudah jadi enak ketika akan mengambilnya suatu saat

    ReplyDelete
  19. Alhamdulillah aturan yang dirumorkan kemarin batal. Jadi lebih nyaman buat klaim dan sepertinya lumayan lancar ya.

    ReplyDelete
Previous Post Next Post