Benarkah Gigi Berlubang Itu Disebabkan Oleh Ulat Gigi?

Enaknya content writer itu, kita bisa jadi terpaksa pinter. Kok bisa? Iya, lah wong sebelum nulis kan harus riset dulu. Apalagi kalau konten yang mau kita buat itu, bukan sesuatu yang kita kuasai. Akhirnya terpaksa pinter deh soalnya banyak baca referensi.

tips-cegah-gigi-berlubang


Kali ini saya mau berbagi cerita tentang apa yang saya pelajari tentang kesehatan gigi dan mulut. Kebetulan, beberapa waktu lalu sedang proses ngerjain konten untuk medsos salah satu klinik gigi di Surabaya.

Kali ini saya mau berbagi cerita tentang apa yang saya pelajari tentang kesehatan gigi dan mulut. Kebetulan, beberapa waktu lalu sedang proses ngerjain konten untuk medsos salah satu klinik gigi di Surabaya.

Ada banyak sih, hal baru yang saya pelajari tentang kesehatan gigi dan mulut dalam proses mengerjakan konten untuk klien saya itu, tapi kali ini saya mau share tentang salah satu masalah gigi yang umum dan recently saya alami, sakit gigi karena gigi berlubang.

Gara-gara Ulat Gigi, Gigi Jadi Berlubang Dan Sakit

Masalah gigi berlubang ini sering disepelekan oleh banyak orang. Yang paling umum dan saya sendiri juga lakukan adalah, membiarkan karies atau lubang gigi tidak segera ditambal karena belum sakit. Padahal lubang-lubang kecil itu, kalau dibiarkan, lama-lama akan membesar hingga akhirnya membuat saraf gigi terekspos dan akhirnya terasa sakit.

Waktu kecil dulu, saya percaya kalau gigi berlubang itu disebabkan oleh ulat gigi. Jadi yang saya bayangkan ketika itu adalah, di dalam gigi saya, ada ulat yang menggerogoti gigi saya sehingga gigi terasa sakit. Marah dan tidak terima dengan perlakukan ulat tersebut ke gigi saya, saya pun segera mengambil sikat gigi lalu menyikat gigi yang sakit tersebut keras-keras, kadang sampai berdarah.

Hal itu saya lakukan dengan asumsi, semakin keras saya menyikat, maka si ulat akan mati. Darah yang keluar dari gusi saya itu, saya asumsikan sebagai darah si ulat yang sudah mati.

Pertanyaannya, kenapa masih sakit gigi ya padahal ulatnya sudah mati?

Seratus tahun kemudian, saya baru tahu kalau sakit karena gigi berlubang itu, bukan karena ulat gigi. As a matter of fact, there is no such a thing as ulat gigi at the first place. Sakit gigi yang saya rasakan karena gigi berlubang itu, terjadi karena lapisan gigi yang sudah terkikis terlalu banyak sehingga membuat saraf gigi terekspos dunia luar. Ketika lubang sudah terlalu besar dan saraf gigi terekspos, di situlah gigi mulai terasa sakit.

anatomi-gigi


Tips Mencegah Gigi Berlubang

Mencegah lebih baik daripada mengobati, walaupun tidak serta merta lebih mudah. Yang bikin susah itu biasanya tidak lain dan tidak bukan adalah kitanya sendiri yang ogah-ogahan melakukan yang harus dilakukan.

Sebelum, saya share tips untuk mencegah gigi berlubang, ada baiknya kita bahas dulu kenapa sih gigi kok bisa berlubang. Mengetahui penyebab suatu masalah adalah bagian dari penyelesaian masalah bukan?

Menurut HaloDoc, gigi berlubang itu biasanya berawal dari munculnya plak di permukaan gigi. Plak adalah sisa makanan mengandung gula yang oleh bakteri alami di dalam mulut kita, diubah mejadi asam. Nah, asam yang dikombinasi dengan bakteri, sisa makanan dan air liur ini lah yang membuat plak nempel di gigi. Karena plak ini mengandung asam, maka pelan tapi pasti, dia akan mengikis lapisan-lapisan gigi hingga terbentuklah lubang gigi.

Jadi, cara paling sederhana untuk mencegah gigi berlubang adalah mencegah adanya plak menempel di gigi. Thats' it. Simpel kan? Kan.

Terus gimana caranya supaya kita bisa meminimalisir plak yang menempel di gigi?  Here's how:
  • Sikat gigi 2x sehari dengan pasta gigi ber-flouride
  • Gunakan teknik yang benar saat menyikat gigi
  • Bersihkan sela-sela gigi dengan dental floss, bukan tusuk gigi
  • Makan-makanan bergizi
  • Kurangi nyemil yang kandungan gulanya tingi
  • Kurangi makanan/minuman bersoda atau bersifat asam
  • Perbanyak minum air putih
  • Rutin periksa gigi minimal 6 bulan sekali

Simpel kan? Iya lah simpel, yang bikin nggak simpel itu orangnya.

Kesimpulan

Banyak orang menyepelekan perawatan gigi dan mulut. Mereka beranggapan, selama nggak sakit gigi, nggak perlu ke dokter gigi. Gigi lubang pun, as long as nggak berasa sakit, nggak perlu ke dokter gigi. Padahal, ketika gigi sudah terasa sakit, itu artinya masalahnya udah semakin parah.

Jadi lebih baik mencegah daripada mengobati. Sebelum kondisi gigimu makin runyam, yuk perbaiki kebiasaan-kebiasaan sehari-harimu. Namun, kalau gigimu sudah terlanjur hancur, segera ke dokter gigi. Ya sih, memang treatment-nya nanti akan lebih kompleks dan expensive, tapi setidaknya kamu mendapat penanganan yang tepat.

Last but not least, gigi adalah satu-satunya organ tubuh kita yang tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri. Jadi, sebelum semua terlambat, yuk kita rawat kesehatan gigi dan mulut kita.

Mas Prim

Blogger, content writer & translator freelance. Text me if you need help with your text.

10 Comments

Share opini atau pengalaman kamu tentang topik tulisan ini di sini. Share juga tulisan ini temen-temenmu, jika menurutmu bermanfaat.

&Joy!

  1. ini mitos yang masih tumbuh dengan pesat di kalangan masyarakat termasuk keluarga saya kak, semua percaya kalo sakit gigi pasti karena gigi ada ulatnya. berbondong bondong lah mengunjungi ahli tukang gigi dan minta di ambil ulatnya. saya sendiri percaya? gak lah! sepemahaman dengan kakak di artikel ini, jelas karena gigi berlubang karena plak gigi.

    ReplyDelete
  2. Aku pernah nanya soal ini juga di IG satu denist yang femes hwhw, dijawabnya juga gak ada ulat di gigi. Sayangnya, soal ulat gigi ini terpatri lama di pikiranku pasca dulu liat aksi tukang obat gigi yang ngolesin obat ke pipi orang dan gak lama kemudian ulat-ulat kecil keluar dari pipinya. Aaaak. Hahaha. Sekarang gak habis pikir trik apa yang dipake dulu itu.

    ReplyDelete
  3. Wah setuju banget, merawat kesehatan gigi itu penting banget. Apalagi disitu sumber masuknya makanan dan minuman yang membuat diri kita tetap kuat setiap hari, kalau gigi sakit juga mau makanan susah, alhasil bisa sakit kalau gak makan sesuai porsinya. Jadi harus selalu diperiksa setiap minggu atau setiap bulan beberapa kali agar tetap sehat, walau tidak sakit sekalipun.

    ReplyDelete
  4. Nah lalu mitosnya kalau semisal mau cabut gigi, lalu salah cabut dan kena urat atau otot gigi, bisa-bisa ntar jadi buta atau ada gejala lainnya.

    Tapi memang benar sih adanya bahwa mencegah jauh lebih baik daripada mengobati, saya menyesal karena tidak menjaga gigi sejak dulu, setelah gigi berlubang baru tahu betapa pentingnya melakukan perawatan gigi secara berkala

    ReplyDelete
  5. Langsung tertampar karena sedari kecil minim sekali pengetahuan tentang kesehatan gigi. Sekarang salah satu gigi sudah terlanjur berlubang, dan begitu ke dokter dibersihkan biayanya lumayan. Hehe.

    Jadi memang mencegah lebih baik daripada mengobati. Dan sekarang mulai aware terhadap kesehatan gigi & mulut.

    ReplyDelete
  6. wainii, aku pernaah ngebiarin gigi berlubang sampe ngilu dan berdarahh gara2 keinget rasanya ditambal, ngiluuunyaa 😂 sekarang masa-masa itu sudah terlewatii, tinggal jaga kesehatan gigi ajaa dan minta dibersihin karang gigi secara berkalaa

    ReplyDelete
  7. Nah aku paling gak bisa membersihkan sela gigi dengan benang gigi. Biasanya setelah sikat gigi aku lanjutkan berkumur dengan cairan khusus. Dan ke dokter gigi udah dijadwalkan karena adik kami dokter gigi. Jadi emang sering ditanya kapan mau periksa gigi, hahahaa

    ReplyDelete
  8. Nah ini mitos yang dulu banget ditanamkan di benak oleh kakek dan nenek

    aku sampe takut banget dan jijik (apa kalo ga digituin aku jadi malas sikat gigi yaaa!) dan emang pas ke dokter gigi ternyata ga ada yang namanya ulat gigi!

    ReplyDelete
  9. Ini stigma yang masih dipertahankan di kalangan nenek saat mengasuh cucunya, bahwa gigi berluubang karena ulat.

    HUhuu.. dan parahnya, diobatinnya bukan ke dokter gigi, melainkan ke duku dengan cara diasap dan beneran aja.. keluar cacing ((semacam set, cacing putih yang biasa ada di daging busuk)) keluar saat dilakukan pengasapan.

    Kok bisa yaa..?

    ReplyDelete
  10. Dulu orang tua tidak terlalu menekankan pada kesehatan gigi. Ayah dari kecil sudah ompong. Sehingga aku baru dibawa ke dokter gigi waktu SMA, setelah gigiku sangat sakit dan lubangnya sangat besar. Belajar dari itu, aku jadi rajin bawa anak ke dokter gigi.

    ReplyDelete
Previous Post Next Post