Libur telah usai, waktunya kembali lagi ke sekolah.


Senin, 18 Juli ini adalah hari pertama dimulai kembali tahun ajaran baru di sekolah Bio. Dan tampaknya, hal yang sama berlaku juga di sekolah-sekolah lain. Tahunya sih, dari update-an status teman-teman di media sosial dan juga dari sepupu saya yang juga kembali masuk sekolah di hari tersebut.

Dengan dimulainya lagi proses belajar mengajar di sekolah secara tatap muka, artinya kemacetan di jalan-jalan yang dekat dengan sekolah pun dimulai lagi, setelah beberapa hari sebelumnya sedikit lengang saat liburan sekolah.

Yang aktifitas hariannya banyak di jalan, setuju nggak, kalau waktunya masuk sekolah = jalanan makin padat dan macet?

Musim Sekolah = Musim Macet


Ketika saya masih aktif sebagai buruh pabrik, saya harus menempuh perjalanan tak kurang dari 40 km setiap hari, pulang pergi. Dan saya merasakan sekali bedanya kepadatan jalan ketika musim sekolah dan musim libur sekolah.

Walau nggak selengang saat libur lebaran, tetapi menurut saya, setiap musim libur sekolah tuh jalanan terasa lebih lega. Karenanya, saya bisa tiba di pabrik lebih awal dibandingkan ketika musim sekolah.

Ketika saat ini saya menjalani dunia freelancing dengan waktu kerja yang lebih fleksibel dan memungkinkan saya untuk mengantar-jemput Bio sekolah, saya kembali merasakan terjebak tak berdaya di tengah kendaraan-kendaraan wali murid (warid) dan pengguna jalan lainnya.

Dan, you know what, saya punya beberapa asumsi kenapa musim sekolah jalanan selalu macet dan opini tentang apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi kepadatan akibat anak sekolah tersebut.

Analogi Wadah Dan Isi

Jika dianalogikan bahwa jalan raya adalah sebuah wadah dan kendaraan-kendaraan di dalamnya adalah isinya, maka logika sederhana untuk menjelaskan, kenapa timbul kemacetan adalah karena wadahnya tak mampu menampung isinya lagi.

Kenapa bisa begitu? Sederhana saja, kalau nggak wadahnya yang kekecilan, ya isinya yang kebanyakan. Kan gitu.

Coba kalau wadahnya besar, pasti muat dong diisi banyak. Ya kan?

Ya dan tidak. Ya, memang kalau wadahnya besar, muatnya banyak. Jadi, biar bisa muat banyak, besarin aja wadahnya. Selesai sudah masalah...pertama. 

Sekarang muncul masalah berikutnya, mau dibesarin sampai seberapa? Ibarat lemari baju, kalau terus menerus dibesarin biar bisa muat baju banyak, lama-lama mentok juga kan? Apa iya serumah mau difungsikan jadi lemari baju semua? Terus mau tidur di mana? Apa ya pipis dan be'ol juga di lemari baju? Kan ya enggak toh.

Jadi? 

Ya mungkin memang wadahnya yang kurang besar, tapi bisa juga isinya yang kebanyakan.

Sedari dulu saya mengamati ketika melintasi sekolah, ada satu fenomena menarik yang bikin jalanan macet nggak karuan, yaitu one kid, one ride.

Terutama sekolah-sekolah SD yang notabene anak-anak selalu diantar-jemput.

Sering saya melihat mobil-mobil semok dan bahenol pengantar-jemput anak sekolah itu isinya cuma 1-2 anak. Bayangin aja kalau di satu kelas isinya ada 20 anak, dikali 6 kelas (anggeplah 1 tingkat cuma ada 1 kelas), udah ada berapa mobil semok tuh yang menuhin ruas jalan menuju sekolah?

Trus gini ini mau nggak macet itu kok ya naif banget ya. Kalau gaya hidupnya kaya gini, mau dilebarin kaya apa aja jalannya, atau dibuat bertingkat 10 pun, lama-lama ya akan penuh juga. Apalagi ketika pihak sekolah menambah kapasitas kelasnya. Sudah lah, makin ramai saja tuh jalanan.


Bukan Wadahnya Yang Dibesarin, Tapi Isinya Yang Dikurangi

Ini adalah opini saya ya Pak/Bu. Kalau memang kurang tepat, monggo dikoreksi, tapi jangan di-bully

Supaya kemacetan sebagai dampak dari aktifitas mengantar-jemput anak ke sekolah bisa dikurangi, gimana kalau kita nggak usah nggedein wadahnya (jalan raya), tapi yuk kita kurangi isi (kendaraan pribadi).

Caranya ada dua, yaitu dengan memaksimalkan fasilitas antar-jemput (anjem) atau melokalisir area menurunkan anak yang jauh dari jalan utama.

Memaksimalkan Anjem


Kebayang nggak sih kalau satu mobil isinya 7-8 anak, alih-alih 1 anak 1 mobil? Tentunya hal ini cukup membantu mengurangi kepadatan di jalan raya lho Pak/Bu.

Masalahnya, mobil-mobil njenengan itu lho. Udah semok maksimal, eh lah kok isinya cuma 1 ndil gitu lho. Kan akhirnya ditiru sama warid-warid lainnya toh Pak/Bu. Nganter anak 1 pakai mobil semok.

Iya sih njenengan mau memastikan anak njenengan sampai sekolah dengan selamat sentosa. Tapi mbok ya o, ngelirik ke kiri-kanan toh Pak/Bu, para pengguna jalan yang jadi terjebak macet gara-gara panjenengan itu pengkuh banget buat mengantar-jemput anak pakai mobil semok njenengan.

Daripada begitu, kenapa nggak memaksimalkan fasiltas anjem toh? Rasanya kok di setiap sekolah itu pasti ada lah fasilitas anjem. 

Kalau pun toh memang nggak ada, coba deh ajak temen-temen anak njenengan berangkat dan pulang bareng naik mobil njenengan. Niscaya, dengan demikian, Anda berperan aktif untuk mengurangi kemacetan di jalanan.

Kasihan lho pengguna jalan lain yang harus buru-buru ke kantor supaya nggak dimarahi Bosnya yang galaknya nggak ketulungan. Apalagi kalau Bos mereka itu ternyata Anda sendiri.

Coba lah, gunakan anjem.

Melokalisir Titik Penjemputan


Opsi lain nih Pak/Bu, kalau memang sudah mentok memang anjem tak mampu memfasilitasi. Gimana kalau dibuatkan titik penjemputan yang lokasinya agak jauh dari jalan utama. 

Jadi nanti anak-anak diturunkan di titik tersebut, kemudian mereka diantar ke sekolah menggunakan mini bus sekolahan.

Nah untuk opsi ini, pihak sekolah juga harus mau memfasilitasi. Memang lebih ekslusif kalau sekolah punya mini bus sendiri dan titik penjemputan sendiri. Namun, jika memang ada beberapa sekolah yang searah, rasanya nggak ada salahnya kalau sekolah-sekolah tersebut patungan buat bikin titik penjemputan dan beli/sewa mini bus.

Ya setidaknya dengan begini, kita bisa memindahkan kemacetan dari jalan utama ke area lain yang lebih mumpuni dan nggak bikin para pengguna jalan itu spaneng gegara terjebak macet di satu-satunya jalur yang mengarah ke tempat kerja mereka.

Kesimpulan

Sejauh pandangan saya selama ini, metode 1 kid 1 ride alias 1 anak 1 mobil, adalah biang kerok kemacetan di jalanan. Ditambah mobil yang digunakan adalah mobil dengan body bahenol maksimal.

Solusi yang menurut saya nih, bisa dilakukan adalah memperbesar ruas jalan, which is pada akhirnya akan mentok, nggak bisa dilebarin lagi. Belum lagi urusan dengan instansi terkait yang mungkin ruwet dan birokratif, sehingga mungkin jalan tersebut baru dilebarkan saat anak-anak sudah ngunduh mantu.

Atau, kita bisa mengurangi kepadatan dengan cara memaksimalkan anjem atau bekerja sama dengan pihak sekolah, membuat titik penjemputan di area yang bukan jalur utama.

Nah, menurut panjenengan bagaimana? Masuk po ora ide saya ini? Atau mungkin panjenengan punya ide lainnya, monggo di-share di kolom komentar.