Kusta adalah sebuah penyakit, dan penanganan terbaik untuk penyakit adalah pengobatan yang tepat. Sesederhana itu. 


Sayangnya, dalam praktiknya pengobatan kusta seringkali tidak sesederhana itu. Stigma negatif dari masyarakat yang minim edukasi, membuat kusta lebih mirip masalah sosial dibandingkan masalah medis.

Alih-alih menyelesaikan masalah dengan membawa penderita kusta ke puskesmas terdekat untuk mendapat pengobatan, stigma-stigma negatif ini justru menciptakan masalah baru dengan 'mencegah' penderita kusta menerima pengobatan.

Bukannya memberi dukungan untuk berobat, malah menjatuhkan mental penderita kusta dengan pandangan-pandangan miring, pengabaian dan perlakuan diskriminatif lainnya. Padahal mental, mereka sudah cukup terpuruk saat menerima vonis kusta.

Kisah In Dan Nia, Penyintas Kusta di Indonesia

Seperti yang pernah dialami oleh orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) asal Saparua, Maluku Tengah, Indrawati Ratmadja yang akrab dipanggil In.

Saat terdiagnosis kusta, perempuan kelahiran 1983 itu percaya bahwa apa yang ia derita adalah akibat guna-guna seperti yang dipercaya oleh sebagian besar masyarakat Saparua. Akibatnya, pengobatan kusta yang ia jalani jadi lebih lama karena ia tidak mengkonsumsi obat dengan teratur.

Selama menjalani perawatan, In mengalami perilaku-perilaku diskriminatif dari lingkungan sosialnya setelah ia diketahui menderita kusta. Saat melewati rumah tetangganya, mereka buru-buru masuk ke dalam rumah dan menutup pintu serta jendela mereka rapat-rapat. Di tempat ibadah pun, ia merasakan sekali betapa para jemaat tidak menyukai kehadirannya di sana. Bahkan rumahnya di Saparua harus dibangun jauh dari pemukiman warga, dekat dengan hutan.


stigma-kusta-cerita-lama

Tak berhenti sampai di situ, anak-anaknya pun mengalami perlakuan diskriminatif di sekolah. Teman-teman mereka kerap melontarkan hinaan, ejekan dan gangguan yang membuat mereka menangis.

In yang saat itu sedang menyelesaikan kuliah Ilmu Administrasi juga dilarang masuk ke dalam ruang komputer yang membuatnya terlambat menguasai cara pengoperasian komputer, padahal keterampilan tersebut ia perlukan untuk mengetik dan menyelesaikan tugas-tugas kuliah.

Berbeda 180 derajat dengan yang dialami In, Nia dari Desa Rap Rap, Kabupaten Minahasa Utara, justru memperoleh dukungan tetangga dan kader puskesmas untuk memeriksakan bercak merah di kening kanan dan bagian belakang lengannya, yang setelah diperiksa ternyata kusta. Sempat terpukul mengetahui kenyataan bahwa ia mengidap kusta, ia akhirnya memberanikan diri ke puskesmas untuk berobat.

cerita-ceria-kusta

Di luar ekspektasi Nia, petugas puskesmas menerimanya dengan baik. Tidak ada ‘perlakuan khusus’ yang ia terima seperti yang ia khawatirkan. Ia pun menjalani pengobatan selama 6 bulan dan masih tetap ke puskesmas untuk mengontrol kesehatannya.

Kustanya Sama, Perlakuannya Beda

In dan Nia, keduanya sama-sama OYPMK. Namun, kenapa cerita kusta mereka berbeda? Ya, tingkat edukasi masyarakat terhadap kusta, itu yang membawa perbedaan signifikan.

Di tempat In tinggal, masyarakat sekitar, termasuk In sendiri, kurang menerima informasi yang tepat tentang kusta. Mereka percaya bahwa kusta adalah penyakit akibat guna-guna atau kutukan. Karenanya, muncul stigma di masyarakat bahwa penderita kusta adalah manusia yang terkutuk, jadi harus dijauhi agar ‘kutukannya’ tidak menular.

Lain halnya dengan penerimaan masyarakat Desa Rap Rap, tempat Nia tinggal. Walaupun awalnya mereka juga menganggap kusta sebagai aib, tetapi setelah proses edukasi yang intens dari NLR Indonesia bersama Dinas Kesehatan setempat, kini mereka tak lagi menganggap kusta sebagai kutukan, melainkan penyakit yang bisa sembuh dengan penanganan yang tepat.

Proses edukasi dengan melibatkan tokoh-toko berpengaruh di desa seperti kepala desa, guru, tokoh agama dan kepala puskesmas mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap kusta secara efektif.

Dengan perubahan cara pandang masyarakat pada kusta inilah yang akhirnya membantu penderita kusta seperti Nia memperoleh penanganan yang tepat. Dukungan sosial kepada penderita kusta untuk memeriksakan diri dan menjalani pengobatan teratur inilah yang diperlukan oleh penderita kusta seperti In dan Nia.

Jadi, Apa Sih Sebenarnya Kusta Itu?

Kusta atau lepra adalah penyakit infeksi bakteri Mycobacterium leprae kronis yang menyerang jaringan kulit saraf tepi dan saluran pernapasan.

Penularan kusta terjadi lewat percikan cairan dari saluran pernapasan (droplet) seperti ludah atau dahak yang keluar saat batuk atau bersin secara terus menerus dalam waktu lama.

Penting untuk dipahami bahwa kusta tidak akan menular hanya dengan bersalaman, duduk bersama, atau hubungan seksual dengan penderita. Ibu hamil yang menderita kusta juga tidak akan menularkan kusta kepada janinnya.

Namun, ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko penularan kusta antara lain:
  • Bersentuhan dengan hewan penyebar bakteri kusta seperti armadillo.
  • Menetap atau berkunjung ke wilayah endemik kusta.
  • Memiliki gangguan sistem kekebalan tubuh
 

gejala-kusta
 
Kusta dapat disembuhkan dengan pengobatan rutin selama 6 hingga 12 tahun, tergantung dari jenis kustanya. Obat kusta sendiri, telah tersedia gratis di puskesmas-puskesmas terdekat. Jadi, yang perlu dilakukan hanyalah, memeriksakan diri ke puskesmas dan menjalani pengobatan dengan rutin.

Kesimpulan

Kusta adalah penyakit yang bisa disembuhkan, bukan kutukan atau guna-guna. Obat sudah tersedia secara gratis di puskesmas, yang perlu dilakukan para penderita kusta hanyalah datang ke puskesmas terdekat, lakukan pemeriksaan dan konsumsi obat secara teratur sesuai petunjuk dokter.

Penanganan kusta itu sederhana, jadi tak perlu diperumit dengan stigma tentang kusta. Menerima vonis kusta dari dokter sudah cukup membuat penderitanya sengsara, tak perlu ditambah deritanya dengan perilaku-perilaku diskriminatif.

Sebaliknya, berilah dukungan agar mereka mau memeriksakan diri ke dokter dan menjalani pengobatan hingga tuntas.

Stigma kusta, itu cerita lama. Mari kita ciptakan cerita ceria kusta dengan mendukung para penderita kusta menjalani pengobatan hingga tuntas, dan juga, bantu para OYPMK untuk terus berdaya.

Bersatu bersama untuk Indonesia bebas dari kusta

Yuk bersatu bersama agar Indonesia bebas kusta.

*****

Referensi
https://nlrindonesia.or.id/2022/07/31/in-bangkit-dari-keterpurukan/
https://nlrindonesia.or.id/2021/04/29/desa-sahabat-kusta/
https://www.alodokter.com/kusta