Melatih kemandirian anak, mungkin terdengar mudah dan sederhana. Namun, sayangnya kenyataannya tak sejalan dengan apa yang terdengar.

Memandirikan Anak


Tantangan demi tantangan akan selalu muncul dalam ikhtiar kita mendidik anak menjadi mandiri. Kadang dari faktor eksternal, tapi seringkali....internal diri kita sendiri sebagai orang tua.

Trus bagaimana? Apakah kita akan menyerah? Atau terus mencari cara agar anak-anak kita memiliki life skill penting bernama kemandirian ini?

Miskonsepsi Dalam Mengajarkan Kemandirian Pada Anak

Bicara tentang kemandirian, ada beberapa kesalahpahaman orang tua di dalam memaknai kemandirian untuk anak.

1. Mandiri Itu Harus, Tapi Jangan Sampai Tidak Butuh

Pernah tahu ada anak mandiri ekonomi, mampu membayar kuliah sendiri, tapi acuh tak acuh dengan keluarganya? Memperlakukan rumah sebatas tempat singgah, pergi pagi buta, pulang tengah malam. Tak peduli apa saja terjadi di rumah. Kamar awut-awutan, seolah tak ada rasa tanggung jawab sama sekali dengan kamarnya sendiri.

Mengajarkan kemandirian pada anak seyogyanya seharusnya menjadikannya pribadi mandiri yang paripurna. Artinya, bukan sebatas mandiri di satu aspek tertentu - misalnya finansial, tapi juga spiritual, sosial, kesehatan, dll. Kita perlu sejenak mempertanyakan cara kita mengajarkan kemandirian pada mereka, bila hanya satu aspek saja yang berkembang pada anak.

Sebelum semuanya terlambat, selain melatih anak menjadi mandiri, kita juga perlu menumbuhkan kebutuhan anak pada keluarga. Selain menumbuhkan kemandirian, hal itu juga membentuk sikap kasih sayang anak kepada keluarganya.

2. Memandirikan Anak Tanpa Mengabaikan Perasaan Anak

Mengajarkan kemandirian pada anak bukan artinya pantang memeluknya ketika ia menceritakan bahwa ia baru saja terjatuh. Membuka diri pada perasaannya adalah sinyal baginya bahwa orangtuanya peduli pada perasaan mereka

Jangan memaknai anak mandiri tidak boleh cengeng. Berdiri sendiri ketika jatuh. Perlu kita ketahui bahwa anak yang perasaannya sering terabaikan, akan menjadi haus perhatian saat dewasa kelak. Ini karena anak memiliki kebutuhan yang tidak terpenuhi saat kecil.

3. Dingin Pada Anak

Dengan dalih memandirikan anak, banyak orantua yang menolak memberikan anak pelukan hangat. Biar tidak jadi anak manja, pikirnya. Tanpa disadari kita telah menghalangi terbentuknya hubungan emosional dengan anak, padahal itu penting sekali.

Sesekali manjakanlah anak sih boleh saja, tapi untuk memandirikan mereka yang tidak boleh hanya  sesekali. Artinya, di sela-sela memandirikan anak untuk makan sendiri, boleh kok sesekali kita menyuapi mereka. Tidak perlu khawatir berlebih bila anak akan manja bila kita menyuapinya sesekali.

Yang harus kita hindari adalah, ketika aktivitas 'memanjakan' anak tersebut jadi terus menerus, dan aktivitas makan sendiri yang jadi sesekali. Ini menjunkkan ketidakkonsistenan kita dalam memandirikan anak. Hal inilah yang berbahaya. Aturan yang berubah-ubah membuat anak bingung dan kemandirian pun jadi tidak terbentuk baik.

Nah, setelah meluruskan beberapa kesalahpahaman terkait kemandirian anak, sudah siap untuk mengetahui manfaat dan cara melatih kemandirian?
 

Kesimpulan

Banyak orangtua menganggap anak yang mandiri sebagai anak yang bisa menyelesaikan segala sesuatunya sendiri, tidak membutuhkan kehadiran orangtua di sisi mereka. Sehingga, membuat mereka 'takut' bersikap lembut, khawatir anak jadi manja dan cengeng.

Namun, anak juga butuh dipenuhi kebutuhan emosinya. Jika, kebutuhan ini tidak terpenuhi di masa anak-anak, maka mereka akan mencari cara untuk memenuhi kebutuhannya ini. Dan, bukankah lebih mengerikan bila kebutuhan dasar mereka, terpenuhi dari orang yang tidak bertanggung jawab.

Jadi, kenapa tidak kita, orangtua mereka, yang memenuhi kebutuhan emosional mereka ini?