Lawan Dusta Kusta

Apa yang Anda rasakan bila mendengar bahwa Indonesia menduduki peringkat 3 besar di seluruh dunia? Wow, prestasi apa ya yang berhasil kita torehkan? Sayangnya alih-alih prestasi, peringkat 3 di dunia ini kita peroleh sebagai negara penyumbang kasus kusta terbesar.
 
Ya, saya juga berharap peringkat 3 besar ini kita torehkan di bidang lain yang lebih membanggakan, bukan memilukan seperti ini. Namun, inilah kenyataannya.

Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, ketika membuka rangkaian peringatan Hari Kusta Sedunia, menjelaskan bahwa saat in masih ada 6 provinsi yang belum mencapai eliminasi kusta antara lain: Papua Barat, Papua, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara dan Gorontalo. Sedangkan di tingkat kabupaten/kota, terdapat sebanyak 101 kabupaten/kota yang masih belum mencapai eliminasi kusta.

Stigma Kusta, Musuh Utama Eliminasi Kusta Di Indonesia

Pemahaman keliru yang beredar di masyarakat tentang kusta ditengarai menjadi salah satu faktor utama penghambat eliminasi kusta di tanah air. Stigma yang berkembang inilah yang membuat kusta lebih cocok disebut isu sosial ketimbang isu kesehatan.

Bagaimana tidak, walaupun penyakit kusta ada obatnya dan bisa disembuhkan, tetapi karena stigma masyarakat terhadap kusta, memicu perilaku-perilaku diskriminatif pada penderita kusta membuat para penderita kusta lebih memilih untuk menyembunyikan gejala kusta yang mereka alami, alih-alih memeriksakannya ke puskesmas terdekat.

Hal itu menyebabkan bakteri kusta telah menyebar ke seluruh tubuh hingga akhirnya menimbulkan disabilitas. Seandainya saja mereka mau memeriksakan gejala yang mereka alami dan pengobatan  dilakukan sejak dini, tentunya ceritanya akan berbeda. 

Namun, bagaimana mereka 'mau' memeriksakan diri, mengakui dan membuka diri bahwa mereka memiliki gejala kusta di lingkungan yang telah termakan stigma kusta. Mungkin buat mereka, sakit kusta yang mereka alami tak akan sesakit perilaku diskriminatif yang akan mereka terima dari lingkungannya.

Bahkan, seolah apa yang mereka alami tidak bisa lebih buruk lagi, ketika para penderita kusta ini mau menjalani pengobatan hingga selesai dan dinyatakan sembuh, perilaku-perilaku diskriminatif pun masih saja mereka rasakan. Mereka masih dianggap mengidap dan dapat menularkan kusta, sekalipun telah dinyatakan sembuh.

Tentunya perilaku-perilaku ini bak sebuah pukulan telak yang mendarat di psikis Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) dan membuat mereka merasa tidak berharga dan berdaya. Seolah-olah, tidak ada lagi tempat di dunia ini untuk mereka.

Bisakah Anda membayangkan bagaimana rasanya hidup tanpa memiliki harapan hidup seperti yang mereka alami? Bagaimana bila hal itu menimpa Anda, atau…orang-orang yang Anda cintai?

Berangkat dari keprihatinan atas apa yang OYPMK alami, Ratna Indah Kurniawati, tergerak untuk membentuk kelompok pemberdayaan bagi para OYPMK di Grati, Pasuruan, Jawa Timur.

Cerita Ratna Indah Kurniawati, Ibu Kaum Marjinal

Sebagai perawat yang juga menangani pasien kusta, Ratna, tahu betul bahwa kusta tidak mudah menular seperti yang selama ini ditakutkan masyarakat. Perempuan kelahiran 23 April 1980 ini juga paham bahwa pasien kusta yang telah menyelesaikan pengobatan dan dinyatakan sembuh, tidak akan menularkan kusta seperti yang dikhawatirkan orang-orang.

Karena itulah, ketakutan-ketakutan masyarakat untuk tertular kusta dari OYPMK itu salah dan harus diluruskan. Maka, berawal dari keprihatinan itu, ia pun tergerak untuk menginisasi kelompok pemberdayaan untuk OYPMK. Ia bahkan mendatangi satu per satu rumah para OYPMK untuk mengajak mereka bergabung. Walaupun tidak semua dari mereka yang Ratna datangi mau bergabung ke kelompok pemberdayaan tersebut.

Ratna memulai kelompok pemberdayaan tersebut dengan 25 OYPMK. Pemberdayaan yang berfokus pada aspek sosial ekonomi dimaksudkan untuk membekali para OYPMK dengan keterampilan yang dapat mereka kelola sehingga mereka dapat mandiri ekonomi.

Awalnya, program pemberdayaan diberikan dengan pelatihan tentang usaha ternak jangkrik. Setelah itu, berkembang ke usaha menjahit dan menyulam, serta ternak kambing.

Niat mulia Ratna tidak berjalan mulus. Penolakan-penolakan dari lingkungan masyarakat hingga keluarganya sendiri ia dapatkan. Larangan untuk menggunakan balai desa sebagai tempat berkumpul para OYPMK, hingga ancaman dari suaminya sendiri yang memintanya untuk memilih antara keluarga atau pekerjaan – program pemberdayaan OYPMK.

Namun, Ratna tidak menyerah. Ia secara kontinyu, terus melakukan berbagai upaya dan pendekatan untuk mengedukasi masyarakat tentang kusta dan cara penularannya. Memang tidak mudah, tetapi ia terus menerus berusaha mengedukasi masyarakat untuk melawan stigma kusta.

Lambat laun, upaya itu membuahkan hasil. Masyarakat mulai mau menerima OYPMK dan suaminya yang tadinya menentang keras aktivitas Ratna di program pemberdayaan OYPMK pun luluh melihat konsistensinya itu.

Perjuangan Tak Kenal Lelah Itu Pun Membuahkan Hasil

Amat, salah satu peserta program pemberdayaan yang digagas Ratna, merupakan salah bukti nyata bahwa OYPMK pun bisa berdaya. Usaha ternak jangkrik yang ia jalankan mampu membiayai kehidupannya. Padahal dulu, Amat cuma bisa bekerja serabutan, mencari kayu bakar atau pemetik sayuran.

Melihat OYPMK yang tadinya dipandang sebelah mata, kini mampu menjadi produktif dan berdaya membuat Ratna bahagia. Keberhasilannya yang berangkat dari niat tulus untuk membantu sesamanya, sukses mengantar Ratna meraih apresiasi dari SATU Indonesia Awards di tahun 2011.


Apakah kamu setuju?

•••••

Referensi

  • https://www.kemkes.go.id/article/view/22020300001/menuju-eliminasi-2024-kemenkes-ajak-masyarakat-hapus-stigma-dan-diskriminasi-kusta.html#:~:text=Indonesia%20masih%20menjadi%20penyumbang%20kasus,data%20per%2024%20Januari%202022).
  • https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-2516930/kisah-ratna-perawat-yang-memberdayakan-mantan-pasien-kusta
  • https://m.youtube.com/watch?v=aCsTeKy1qKQ
  • https://www.wartabromo.com/2020/01/29/ratna-indah-kurniawati-berjuang-melawan-stigma-kusta/2/